Thursday, October 31, 2013

Alhamdulillah

Sabtu lalu kami punya rencana mengantar si bungsu ke turnamen karate.
Seperti biasa pagi-pagi setelah sarapan dan bersiap kami segera turun ke garasi. Si sulung saya memilih tinggal di rumah, dan karena belakangan ini dia punya banyak sekali pekerjaan rumah kamipun mengijinkannya tinggal sendiri di rumah.

Saat di garasi (ngomong-ngomong ini garasi bersama ya, karena kami tinggal di apartemen yang dihuni sekitar 12 keluarga) dan akan membuka pintu samping saya pun menjerit dan terbengong-bengong mendapat jendela kaca samping pecah berkeping-keping. Suami, yang saat itu alhamdulillah ada di rumah dan sedang memasuk-masukkan bekal ke bagasi, seperti biasa hanya komentar ,"ada apa siiiih..." dengan kalemnya. Tapi waktu melihat mulut saya yang masih menganga sambil menunjuk kaca mobil, suami pun menyuruh kami segera masuk ke dalam mobil.

Saat itu saya tidak sadar kenapa dia malah menyuruh kami masuk mobil yang masih penuh pecahan kaca. Tapi setelah semuanya mereda saya pun jadi 'engeh' karena bisa jadi sang pelaku masih berkeliaran di garasi itu. Karena hari sabtu pagi umumnya tidak sesibuk hari kerja, garasi pun terasa sunyi mencekam. Si sulung pun cepat-cepat dipanggil untuk ikut mengantarkan adiknya. Membiarkannya di rumah sendiri rasanya tidak tenang.

Yang membuat saya shock adalah saat memikirkan bagaimana sang pelaku bisa masuk ke garasi. Karena situasi kota yang sangat amat tidak aman (kabarnya kota ini menduduki posisi nomor dua sebagai kota paling tidak aman sedunia. Sumbernya? Nanti saya cari link nya dulu ya. Tapi paling tidak tahun lalu ada 70 orang polisi yang terbunuh di negeri ini. Bayangkan kalau polisi saja terbunuh, bagaimana dengan penduduk sipil?).

Kembali ke maksud kalimat sebelumnya, karena kota ini dikenal tidak aman, lazimnya orang tinggal di apartemen yang berpenjaga, komplit dengan kamera di mana-mana, kunci di mana-mana. Mau masuk rumah, paling tidak saya perlu 3 kunci, gerbang/pagar, elevator dan pintu rumah. Pintu rumah pun terbuat dari besi. Sementara pintu masuk dari belakang ada dua lapis. Satu pintu besi dan satu pintu jeruji.

Jangankan orang asing, kalau kami kedatangan tamu maka sang tamu hanya bisa masuk ke lobi apartemen setelah penjaga mengkorfimasi bahwa tamu itu memang kami kenal. Setelah itu pun kami harus menjemput tamu ybs karena untuk bisa menggunakan lift harus ada kunci khusus. Pendek kata ribet  ribet ribet, saking tidak amannya. Karenanya saya bingung, bagaimana bisa orang asing masuk ke garasi, bahkan merusak empat mobil, dalam satu malam. Mobil yang terakhir dicoba dirusak tidak sampai pecah kacanya karena mobil tersebut kacanya dilapisi anti peluru. Begitulah kriminalitas di negeri ini, sampai-sampai mobil anti peluru pun tidak hanya dimonopoli pejabat negara.

Alhamdulillah, suami ada di rumah saat itu terjadi. Tapi karena dia seringkali harus pergi, maka setelah panik sedikit mereda, kami lebih fokus untuk mencoba memperkecil kemungkinan kejahatan terjadi di waktu yad.

Setelah sekian tahun tinggal di sini, kami betul-betul belajar menikmati rumah dan apa saja yang ada. Hampir setiap akhir minggu kami hanya tinggal di rumah, ngobrol, tidur, atau kadang main badminton di ruang tamu :) Jadi kalau urusan pergi-pergi, sudah sangat dikurangi sejak awal. Undangan penting dari kantor suami dll pun dengan hati-hati dipilih. Kalau tidak penting sekali sebisa mungkin kami hindari. Tapi saat intruder bisa masuk ke garasi, perasaan aman saat di rumah pun jadi menipis. Kadang di pagi hari saya harus turun ke garasi karena harus mengantar anak ke sekolah dan menyetir sendiri. Karenanya setelah kejadian ini saya jadi lebih paranoid.

Ternyata rasa aman adalah kebutuhan alamiah manusia. Terus terang di hari itu saya stress luar biasa. karena merasa tidak aman berada di apartemen yang sudah tiga tahun kami huni. Alhamdulillah suami relatif bisa mengerti, tetap berpikir jernih dan positif. Setelah mengontak sekuriti kantor, kami pun cuma bisa menunggu investigasi mereka. Lapor polisi sangat tidak dianjurkan oleh mereka (terbayang kah, kalau polisi pun bukan lagi tempat mencari perlindungan?). 

Tidak lagi penting barang yang hilang dan rasa takut yang ditimbulkan. Alhamdulillah kami semua masih dalam keadaan sehat dan selamat, berkat perlindungan Allah SWT. Yang bisa kami kerjakan adalah berserah diri sepenuhnya pada Sang Penguasa, menambah kunci penguat di pintu-pintu rumah, dsb dsb. Insya Allah, semua usaha sudah dilakukan. Selebihnya hanya Allah SWT yang bisa melindungi kami. 

حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbiyallah wa ni'mal wakiil
Allah is my availer and protector and the best of aids

No comments: