Wednesday, May 15, 2013

Lima Belas Jam di Curacao

Jantungan!!!
Gimana ngga jantungan, sejam -satu jam!-sebelum jadwal take off pesawat kami baru dapat paspor. Jam 8.15 malam kami keluar dari kedutaan Belanda, pesawat (seharusnya) take off jam 9.30. Itupun masih harus menerjang macetnya Caracas, weekday, waktunya orang pulang kantor.

Pernah mikir Indonesia parah soal pelayanan publik? Bandingkan dengan kedutaan ini yang sampai kudu buka sampai jam 8 malam, cuma karena paspor yang seharusnya siap paginya belum sampai juga di kedutaan. Mana ada cerita kedutaan buka sampai malam?

Takjub sendiri waktu bisa sampai di airport 15 menit sebelum jadwal pemberangkatan. Konter check in sudah tutup semua. Cuma satu orang yang khusus menunggu kami. Kabarnya pesawat keberangkatan ditunda *tapi bukan gara-gara kita lo.

Security check lewaaaat.
Imigrasi? Oh no!!!... Perlu waktu seperempat jam untuk bisa meyakinkan si mbak, yang bingung membolak-balik travel permit, cek tanda tangan dan tanya soal kartu identitas bapaknya *yang jelas-jelas ngga ikut. Oalah, pesawat saya dah mau berangkat mbak...

Long story short, sampai Curacao jam 1 malam (taksi pun tinggal tiga biji di airport Curacao). Esoknya setelah 'serah terima' Farhan ke guru/chaperonnya (mereka ke Curacao untuk field trip), saya dikabari hotel,"Kamu harus siap dijemput jam 12.30 ya. Pesawatnya jam 4, tapi tahu kan, airlines ini suka mengubah jadwal seenak udelnya. Jadi mending datang 3 jam sebelumnya. Ok?"

Yup, Insel Air, terkenal suka berubah jadwal. I mean berubah jadi lebih cepat (seperti grup yang berangkat sebelum kami, mereka take off satu jam lebih cepat dari jadwal. Akibatnya: terdampar di airport tanpa ada yang menjemput), atau jadi super telat (seperti pesawat yang kami tumpangi: telat 2 jam. Sampai taxi yang harusnya menjemput menyerah. Tidak ada kabar dari airline, apalagi memperoleh info kepastian kedatangan pesawat). We learned our lesson here: never fly with them...

Jadilah, rencana keliling supermarket cari kecap, bumbu Indonesia dll harus dibatalkan. What can we do in 2.5 hours? (including taxi time) This is what I did: take a deep breath, sit down, enjoy a cup of good coffee and a cake with a real cream made from a real milk (di Caracas akibat kelangkaan produksi susu, segala bentuk cream dibuat dari minyak. Rasanya? Lumayaaaaan...)

Setelah kegilaan semalam, rasanya lebih baik saya menghabiskan waktu yang cuma sedikit itu untuk rileks dan menghargai setiap indera. The breeze and the humid air on your skin,  the smell of salt in the air, the sweet creamy cream on the Dutch apple cake, the colorful buildings on both side of the pontoon bridge that swing when you walk on it. Dan walaupun cuma dengan kamera handphone yang baterainya sekarat, foto tetap harus ada sebagai oleh-oleh toh?






Dua setengah jam pun berlalu begitu cepat. Waktunya kembali ke Caracas. Sekali lagi, dalam waktu 24 jam, saya harus melalui semua proses birokrasi: imigrasi di sana dan di sini, security check di sana dan di sini.  Well, kalau di Indonesia, terbang 45 menit jarang-jarang perlu paspor ya.

Btw,  penduduk Venezuela dan Cuaracao, tahukah kalian, Indonesia punya 17 ribu pulau! Ratusan juta orang harus diurus di sana. That's ONE huge country to take care. Bandingkan dengan 30 juta penduduk dan (kalau ndak salah) 350 an pulau. Let's make things simple, ok?

5 comments:

EDA said...

bangunan kotane warna warni ya jeunk...btw pengalaman sng menegangkan menyebalkan n mengesankan jd siji ya :D

masrafa.com said...

walo nguras emosi dan waktu terbuang, tapi fotonya keren2 loh

EPHO's said...

Jeng EDA: hehehe, kayak kota tua Semarang ya jeng. Jajal dirawat,atau dicat kayak gini, bisa dijual ke turis deh. Suwun ya dah mampir...
Jeng De: foto keren hawong diutak atik :) Cuma pakai hape, jeng. Saking gedabrukan sampe lupa bawa kamera. Terima kasih ya masih berkenan mampir di sini...

tukangecuprus said...

ahahaha...aku barusan ngomel sama ground crew di bandara soekarno - hatta karena kerjanya semrawut. Setelah baca ini, masih bisa bersyukur deh sama semrawutnya bandara sini :D

EPHO's said...

Ngomel kadang pelru juga kok bro. Yang penting ngomel yang membangun, jangan asal komplen. Ya ndak tho?