Sunday, May 19, 2013

Belajar Debat, Perlukah?

Saya sering berbeda pendapat dengan suami.
Salah satunya soal perlunya anak-anak belajar berdebat melalui forum debat. Mungkin tidak berdebat, tapi lebih tepat disebut beragumen dan mempertahankan argumennya. Tentu dengan latar belakang pengetahuan yang cukup.

Dibesarkan dalam lingkungan Jawa, saya jarang, tidak pernah malah belajar berdebat. Kalaupun ada orang yang beda pendapat dengan saya, saya cuma angkat bahu dan menghindari argumentasi. Bahkan cenderung mengalah. Kalau anak-anak berdebat dengan saya? Ya jelas aturannya : bunda tidak pernah salah :)

Belakangan saya belajar bahwa berdebat itu biasa, apalagi kalau sesuatu yang kita yakini betul. Kuartal kemarin Farhan punya satu nilai B yang saya anggap aneh. Setahu saya dia selalu belajar keras dan selalu keep up dengan tugas. Yang bagus dari sekolah anak-anak, saya bisa cek nilai dan kemajuan mereka hampir setiap saat melalui website gurunya di sekolah. Kalau ada yang drop, saya bisa lacak tes atau tugas apa yang membuat nilainya turun. Waktu saya tanya ke Farhan, kenapa nilai tes ternetu di Social Studies turun, dia bilang menurutnya hasil tesnya bagus. Anehnya di website tampak beda.

Saat pertemuan ortu dengan guru, saya sempat menanyakan hal tsb. Guru yang masih super muda itu hanya bilang "Mmmm...mungkin dia pikir tesnya gampang, jadi dia ngga belajar. Tapi basically mereka tahu semua bahannya kok. Tapi biasalah, anak-anak kan suka menggampangkan."

Saya yang tahu anak saya jarang "menggampangkan" apalagi soal pelajaran sekolah, agak kurang puas dengan jawaban si guru. Tapi alih-alih berargumen, khawatir dibilang terlalu membela anak sendiri, saya cuma bilang "Ok".

Sampai di rumah saya cek lagi dengan Farhan. Dia malah bilang jawabannya betul semua, karena setelah cek mereka semua langsung diberi tahu jawabannya.

Lalu saya pun minta Farhan menemui gurunya. Bukan untuk mempertanyakan nilainya, tapi just say "Mr. SR, I know you can't change the grade on that subject. But may I know which part that I got wrong? So I won't make same mistakes next time?' Padanya saya ingatkan, ndak perlu berdebat, just see and learn how to fix it.

Esok siangnya Farhan pulang dengan sumringah dan bilang kalau ternyata hasil tesnya betul semua! Sepertinya si guru lah yang sedang meleng, jadi mungkin salah memasukkan skor. Waktu ditanya bagaimana reaksi sang guru Farhan cuma bilang "He said he don't know how that happened". Well, Mister!

Jadi siapa bilang bule ngga pernah bikin salah? Sopan tentu perlu, respek apalagi. Tapi kalau yang salah ya kudu dibetulkan.

Guru yang sama juga mengajarkan teori evolusi di kelas. Suatu hari saat makan malam dan Farhan cerita soal pelajaran itu, sang ayah pun hanya bertanya "Kira-kira kamu setuju ngga kalau manusia dibilang "berasal" dari hominids?" Dan Farhan pun hanya bilang "I don't think so. It's like insulting us, to be honest."

Maka kami pun setuju, pelajaran di sekolah diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, tapi common sense anak-anak harus terus diasah. Suatu hasil penelitian tentu harus dihargai, tetapi soal setuju atau tidaknya kita harus gunakan common sense. And that's how we are different from any other creatures: will and common sense.

Anak-anak tidak perlu berdebat dengan gurunya mengenai hal-hal yang mereka yakini. Tapi pada saat mereka ditanya, mereka harus tahu bagaimana menyampaikan dan mempertahankan pendapatnya dengan menunjukkan bukti ilmiah.

Saya pun mulai percaya, bahwa belajar berargumen memang perlu. Hmmm...mungkin lebih tepat disebut belajar mengemukakan pendapat ya.

Iya belajar mengemukan pendapat dan mempertahankannya ternyata penting. Lebih penting lagi belajar berargumen dengan tetap menjaga kesopanan dan rasa hormat pada semua pihak. Bisa saja di ruang kerja kita berbeda pendapat dengan kolega. Tapi setelahnya pertemanan tidak boleh terganggu. Beda pendapat antar kawan, lumrah kan. Justru pertemanan kita diuji jika kita bisa menerima perbedaan dan membuat orang lain tetap merasa nyaman berteman walaupun berbeda dengan kita.

Soal kisah debat yang sampai pukul-pukulan di negeri ini kapan-kapan insya Allah bakal ditulis juga di sini. Tapi memang kedewasaan dan kemajuan peradaban suatu bangsa bisa dilihat dari cara mereka menyampaikan pendapat, dalam parlemen atau di ruang kelas, tanpa harus emosi.

Naaah, jadi kalau bunda masih belum mau didebat sama anaknya, berarti sudah beradab belum yaaa *garuk-garuk




2 comments:

tukangecuprus said...

Berdebat itu perlu. Tapi belajar berdebat dengan baik dan sopan itu penting. Lebih penting lagi belajar menerima kalau ternyata pendapat kita memang salah. *pasang surban* :D

EPHO's said...

Om Ragil memang sudah cocok pakai turban *eh surban