Thursday, January 17, 2013

Tahun Ketiga

Tahun ketiga biasanya ditandai dengan kesulitan menemukan hari yang lowong untuk sekedar makan siang bersama kawan dekat akibat padatnya jadwal setiap minggu, dengan kegiatan sekolah, sosial, olah raga, dll, dll. Lingkaran pertemanan pun semakin luas dan semakin mudah menemukan wajah-wajah familiar di tempat-tempat umum seperti supermarket atau toko roti. Umumnya tahun ketiga adalah tahun di mana kita merasa homey tinggal di negara asing ini, walaupun untuk masalah yang satu ini, sorry to say, saya ngga merasakan itu selain di rumah sendiri.

Tahun ketiga biasanya juga ditandai dengan kepergian orang-orang yang dikenal ke negara berikutnya. Farewell parties, coffe morning, dan sejenisnya pun mulai mewarnai. Sedih, itu pasti, saat kawan yang taken for granted kita anggap selalu ada harus pergi ke tempat yang baru. Di saat yang sama tentu we'll be happy for them karena akhirnya mereka bisa 'bebas' dari 'penderitaan' tinggal di negara ini. 

To put it in a more pleasant way, walaupun kita semua harus belajar menyesuaikan diri dan beradaptasi di manapun kita tinggal, will be a nice change if akhirnya kita bisa merasakan lagi kebebasan untuk berjalan kaki menghirup udara segar di negara yang bebas dan relatif lebih aman, tanpa harus khawatir diculik, dibunuh, atau minimal dirampok, misalnya. Hidup juga tentu akan terasa lebih mudah jika kita bisa menemukan barang kebutuhan sehari-hari di satu tempat, menyelesaikan grocery shopping dalam satu waktu singkat, tanpa harus pergi keluar masuk toko sepanjang hari hanya untuk mencari gula atau tepung, kan? Karena, setahu saya, walaupun ada orang yang bisa beli gula beserta pabriknya sekalipun, kalau barangnya tidak tersedia karena kontrol suplai barang, harga dan mata uang yang berlebihan, apa gunanya uang segunung... 

Hampir pasti ada orang yang diuntungkan dengan kondisi semacam ini, you know, perbedaan nilai tukar resmi dan pasar gelap, stok barang terbatas, dsb, dsb. And they do make a lot of money, which suprises me. This is the place where demand of luxury goods is pretty high. Tapi sungguh menyedihkan kalau pasar yang terkontrol inipun tidak bisa memastikan ketersediaan barang, hanya karena harga dipaksa menuruti ketetapan pemerintah yang notabene tidak masuk akal untuk mencukupi biaya produksinya. Lalu apa gunanya dikontrol?

Anyway, tiga minggu libur akhir tahun yang lalu saya habiskan bertiga dengan anak-anak untuk tinggal di rumah. Literally stay at home, most of the time. Peristiwa perampokan di dalam rumah, 4x dalam 3 minggu berturut-turut, semuanya terjadi pada orang-orang yang saya kenal baik, betul-betul menyebabkan rasa tidak aman walaupun di dalam rumah sendiri. Sampai saat ini tidak diketahui kelanjutan dari keempat kisah kriminalitas itu, walaupun to be honest ndak ada juga yang berharap macam-macam - polisi mengusut kasus, menemukan pelaku apalagi sampai mengembalikan barang yang diambil. Semuanya 'hanya' berakhir dengan ucapan syukur karena semua korban selamat tanpa kurang suatu apapun, walaupun trauma yang terjadi tidak dapat dibayangkan berapa lama akan bertahan. Salah seorang dari mereka, yang notabene pria bertubuh tegap dan tinggi, bahkan tidak mau berkata satu patah katapun mengenai kejadian tersebut, seperti ingin menghapus ingatannya dari peristiwa naas itu.

Sejujurnya, saya ingin make the most of my stay here. Tapi mungkin untuk saat ini saya harus merumuskannya dengan stay safe and happy. Kalaupun ndak bisa berharap terlalu banyak untuk bisa mengunjungi tempat-tempat luar biasa di negeri yang indah ini, seperti air terjun tertinggi di dunia atau gugusan kepulauan berpasir putih di utara negeri ini, that's okay. Mungkin saya memang harus fokus untuk bisa berkunjung ke Baitullah dahulu, baru kemudian mengeksplorasi negeri sendiri hingga ke Raja Ampat, sebelum menginjak-injak bumi Allah lainnya ...




No comments: