Sunday, November 10, 2013

Kita, di Indonesia, BISA!

Setelah tiga tahun lebih tinggal di sini, saya masih belum mengerti kenapa begitu sulitnya common sense dipahami di negeri ini. Sejujurnya sih di Indonesia juga masih jadi masalah ya, tapi lebih karena kita masih punya banyak pe-er mencerdaskan kehidupan bangsa.

Konsep toleransi dan kebangsaan di negeri ini yang rasanya tidak sekuat di Indonesia (kalau yang ini pendapat subyektif penulis ya). Selain itu kelihatannya masalah diperumit dengan fakta bahwa hedonisme sudah mengakar sampai ke lapisan terbawah. Bahwa apa yang dimiliki dan penampilan masih dianggap sebagai hal yang terpenting. Padahal memperoleh kebutuhan dasar seperti gula, tepung, susu pun adalah tantangan. Bukan karena harganya mahal, tapi karena barangnya tidak tersedia. Harga gula sekilo di sini tidak sampai 1000 rupiah, bensin setanki penuh mobil besar juga sekitar 1000 rupiah, sekolah gratis, dll. Tapi ternyata harga murah juga bukan jaminan rakyat senang. 

Untuk ilustrasi, nilai tukar uang lokal dibandingkan dengan uang Amerika resmi/legal adalah 1:6.3. Sementara nilai tukar riilnya adalah 1: 60. Memang di mana ada kesempitan selalu ada peluang, terutama untuk mereka yang menjadikan uang sebagai komoditas, yang haram dalam Islam. Tapi untuk pengusaha, faktanya mereka harus membeli barang dengan harga riil, untuk dijual dengan harga yang wajar. Mosok dia beli tv 200 lalu harus dijual 50, hanya karena nilai uang harus dipatok pemerintah. Dari mana pengusaha harus membayar selisihnya? Bagaimana dengan nasib pegawai yang kerja untuk mereka? Mau dibayar dengan apa kalau pengusaha tidak bisa mengembalikan modal yang dikeluarkannya? Belum lagi biaya transportasi, dll. Mau dibayar pakai apa supir dan orang yang membantu membawa barang tsb dari pelabuhan ke warehouse dan ke toko? Itu baru hitungan yang paling sederhana dan naif. Masalah sebenarnya bisa jadi jauh lebih kompleks dari pada hitung-hitungan ekonomi a la ibu-ibu macam saya, karena buntut politik pun terseret di belakangnya.

Parahnya, saat pengumuman bahwa harga semua barang elektronik harus "disesuaikan" dengan ketetapan pemerintah (yang bisa jadi nilainya sepersekian dari nilai barang tsb pada saat dibeli pengusaha), orang lalu memanfaatkannya dengan menjarah toko-toko tersebut. Kok bisa? Kan harganya sudah diturunkan, ya mbok at least dibeli to dengan harga yang sudah ditetapkan. Lah kok ini malah diambil, seolah-olah hak mereka. Di mana value, dignity dan honesty sebagai manusia yang beradab? Ngambil milik orang di agama apa pun dianggap sebagai mencuri. Mencuri ya dosa. Lalu yang saya ndak ngerti, tindakan itupun seolah-oleh 'direstui' oleh pemerintah. Malah tentara dan polisi yang menjaga juga ikut mengambil barang-barang elektronik tsb. Bayar atau nggaknya, wallahu alam...

Rasanya yang bisa dipelajari dari hal ini adalah di Indonesia kita harus mulai menghormati hak petani bawang, petani kedelai, peternak, nelayan, dan penyedia kebutuhan kita lainnya (sampai dengan tukang kayu yang membuatkan kita meja belajar, tukang batu yang ikut membangun rumah kita, asisten di rumah, dsb dsb) untuk memperoleh kehidupan yang layak. Bayar jasa dan produk mereka dengan harga yang pantas. Bukan hanya harga yang murah. Kita maju, mereka maju, semuanya maju, kalau mau bekerja keras. Saya rasa yang diperlukan bukan menurunkan harga, tapi meningkatkan kemampuan/daya beli rakyat. Caranya? Ya permudah urusan pendidikan, supaya rakyat jadi pintar, sehingga bisa meningkatkan kualitas hidupnya dan memberdayakan diri dan lingkungannya sendiri.

Mahal atau murah sangat relatif. Tapi selama kita fokus membangun kekuatan ekonomi rakyat Indonesia, maka yang dicari bukanlah harga yang murah tapi kualitas. Fokus dengan harga murah malah menyebabkan pemerintah harus mengimport beras, kedelai, sampai batik pun harus diimport dari Cina. Akibatnya, potensi kita untuk swasembada pun jadi menurun.

Di masa yang akan datang, anak cucu kita yang bakal menanggung akibatnya kalau negeri ini tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Demikian pula pengiriman TKI ke luar negeri yang dilatar belakangi oleh 'kebanggaan' dan 'promosi' bahwa tenaga kerja Indonesia itu murah, sudah waktunya dihentikan. Promosikan kalau TKI kita pekerja keras, mau belajar, ulet, endurancenya tinggi, dsb dsb. Jadi bayar mereka dengan harga pantas, bukan murah. Mari fokus bagaimana pendapatan dan kualitas hidup rakyat kita meningkat.

Harga murah terbukti tidak bisa menjamin kesejahteraan rakyat. Setiap hari saya melihatnya di sini. Bensin murah, tapi rakyat harus menjarah untuk mendapatkan sembako? Ndak masuk akal. Beras murah, gula murah, minyak goreng murah, tapi rakyat hidup tidak tenang karena negara tidak aman? Yo opo rek? Nodong pun jamak di siang hari bolong, seakan sudah jadi profesi (cek video ini (http://caracaschronicles.com/2013/11/05/a-day-in-the-life/) terutama di menit ke 2:15). Naudzubillah...  Sekolah gratis, ke dokter gratis, tapi tidak tersedia perban/obat-obatan/matras tempat tidur?  Karena pengusaha tidak sanggup mengimpor, karena selisih nilai tukar uang yang tadi diceritakan di atas. 

Lalu bagaimana meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia? Satu-satunya cara: pendidikan. Ya, memang mahal. Ya, memang ndak kelihatan hasilnya secara instan. Ya, memang sulit. Ya, memang buanyak rakyat yang harus dididik. Ya, memang kelihatannya tidak berhubungan. Tapi definitely is the answer. Dan harus dimulai, sekarang.

Update:
Setelah melihat wawancara seorang ekonom di Singapura, ada satu kalimat yang akhirnya menyadarkan saya bahwa yang perlu kita usahakan adalah bagaimana seorang warga bisa menjalankan profesinya (apapun itu: guru, dokter, pengusaha, petani, nelayan, mekanik, tukang kayu, dsb dsb) dengan profesional (baca: berilmu dan berketrampilan), deserve penghasilan yang baik, happy dengan incomenya dalam menjalankan profesi tsb, sehingga bisa hidup dengan layak bersama keluarganya (nb: kebutuhan dasar terpenuhi dengan standar yang baik, pendidikan dan pelayanan kesehatan terjamin, hingga kesehatan jiwa dan raga yang terjaga).

How easy will that be, if everyone understand it and being considerate one to another, focus on moving forward as one big nation (sans labeling each other by the color of their skin, their religion, their status, etc.).


Thursday, October 31, 2013

Alhamdulillah

Sabtu lalu kami punya rencana mengantar si bungsu ke turnamen karate.
Seperti biasa pagi-pagi setelah sarapan dan bersiap kami segera turun ke garasi. Si sulung saya memilih tinggal di rumah, dan karena belakangan ini dia punya banyak sekali pekerjaan rumah kamipun mengijinkannya tinggal sendiri di rumah.

Saat di garasi (ngomong-ngomong ini garasi bersama ya, karena kami tinggal di apartemen yang dihuni sekitar 12 keluarga) dan akan membuka pintu samping saya pun menjerit dan terbengong-bengong mendapat jendela kaca samping pecah berkeping-keping. Suami, yang saat itu alhamdulillah ada di rumah dan sedang memasuk-masukkan bekal ke bagasi, seperti biasa hanya komentar ,"ada apa siiiih..." dengan kalemnya. Tapi waktu melihat mulut saya yang masih menganga sambil menunjuk kaca mobil, suami pun menyuruh kami segera masuk ke dalam mobil.

Saat itu saya tidak sadar kenapa dia malah menyuruh kami masuk mobil yang masih penuh pecahan kaca. Tapi setelah semuanya mereda saya pun jadi 'engeh' karena bisa jadi sang pelaku masih berkeliaran di garasi itu. Karena hari sabtu pagi umumnya tidak sesibuk hari kerja, garasi pun terasa sunyi mencekam. Si sulung pun cepat-cepat dipanggil untuk ikut mengantarkan adiknya. Membiarkannya di rumah sendiri rasanya tidak tenang.

Yang membuat saya shock adalah saat memikirkan bagaimana sang pelaku bisa masuk ke garasi. Karena situasi kota yang sangat amat tidak aman (kabarnya kota ini menduduki posisi nomor dua sebagai kota paling tidak aman sedunia. Sumbernya? Nanti saya cari link nya dulu ya. Tapi paling tidak tahun lalu ada 70 orang polisi yang terbunuh di negeri ini. Bayangkan kalau polisi saja terbunuh, bagaimana dengan penduduk sipil?).

Kembali ke maksud kalimat sebelumnya, karena kota ini dikenal tidak aman, lazimnya orang tinggal di apartemen yang berpenjaga, komplit dengan kamera di mana-mana, kunci di mana-mana. Mau masuk rumah, paling tidak saya perlu 3 kunci, gerbang/pagar, elevator dan pintu rumah. Pintu rumah pun terbuat dari besi. Sementara pintu masuk dari belakang ada dua lapis. Satu pintu besi dan satu pintu jeruji.

Jangankan orang asing, kalau kami kedatangan tamu maka sang tamu hanya bisa masuk ke lobi apartemen setelah penjaga mengkorfimasi bahwa tamu itu memang kami kenal. Setelah itu pun kami harus menjemput tamu ybs karena untuk bisa menggunakan lift harus ada kunci khusus. Pendek kata ribet  ribet ribet, saking tidak amannya. Karenanya saya bingung, bagaimana bisa orang asing masuk ke garasi, bahkan merusak empat mobil, dalam satu malam. Mobil yang terakhir dicoba dirusak tidak sampai pecah kacanya karena mobil tersebut kacanya dilapisi anti peluru. Begitulah kriminalitas di negeri ini, sampai-sampai mobil anti peluru pun tidak hanya dimonopoli pejabat negara.

Alhamdulillah, suami ada di rumah saat itu terjadi. Tapi karena dia seringkali harus pergi, maka setelah panik sedikit mereda, kami lebih fokus untuk mencoba memperkecil kemungkinan kejahatan terjadi di waktu yad.

Setelah sekian tahun tinggal di sini, kami betul-betul belajar menikmati rumah dan apa saja yang ada. Hampir setiap akhir minggu kami hanya tinggal di rumah, ngobrol, tidur, atau kadang main badminton di ruang tamu :) Jadi kalau urusan pergi-pergi, sudah sangat dikurangi sejak awal. Undangan penting dari kantor suami dll pun dengan hati-hati dipilih. Kalau tidak penting sekali sebisa mungkin kami hindari. Tapi saat intruder bisa masuk ke garasi, perasaan aman saat di rumah pun jadi menipis. Kadang di pagi hari saya harus turun ke garasi karena harus mengantar anak ke sekolah dan menyetir sendiri. Karenanya setelah kejadian ini saya jadi lebih paranoid.

Ternyata rasa aman adalah kebutuhan alamiah manusia. Terus terang di hari itu saya stress luar biasa. karena merasa tidak aman berada di apartemen yang sudah tiga tahun kami huni. Alhamdulillah suami relatif bisa mengerti, tetap berpikir jernih dan positif. Setelah mengontak sekuriti kantor, kami pun cuma bisa menunggu investigasi mereka. Lapor polisi sangat tidak dianjurkan oleh mereka (terbayang kah, kalau polisi pun bukan lagi tempat mencari perlindungan?). 

Tidak lagi penting barang yang hilang dan rasa takut yang ditimbulkan. Alhamdulillah kami semua masih dalam keadaan sehat dan selamat, berkat perlindungan Allah SWT. Yang bisa kami kerjakan adalah berserah diri sepenuhnya pada Sang Penguasa, menambah kunci penguat di pintu-pintu rumah, dsb dsb. Insya Allah, semua usaha sudah dilakukan. Selebihnya hanya Allah SWT yang bisa melindungi kami. 

حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbiyallah wa ni'mal wakiil
Allah is my availer and protector and the best of aids

Thursday, September 26, 2013

Bahasa menunjukkan Karakter?

Benarkah?

Ingat saat belajar bahasa Inggris di sekolah? Betapa ribetnya mengingat kata kerja yang berubah-ubah sesuai dengan subyek (she does, I do, etc) dan keterangan waktu (she did it yesterday, she does it everyday, she has done it before, etc). Saat itu paling tidak saya merasa betapa kompleksnya bahasa Inggris. Belum lagi soal pengucapan yang bisa mirip tapi berbeda arti (three vs tree, this vs these).

Saat pindah ke negeri ini dan mengenal bahasa Spanyol versi Amerika Latin, ternyata semakin pusing lah saya. Bukan hanya kata kerja yang berubah-ubah untuk setiap subyek dan setiap waktu, struktur kalimatnya pun tidak bisa diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris. Setiap subyek punya kata kerja masing-masing, di setiap waktu dan tiap keadaan. Walhasil kata kerja yang harus diingat pun semakin banyak. Belum lagi feminitas dan maskulinitas setiap kata kerja, yang harus diberi imbuhan el atau la sesuai 'jenis kelaminnya'. Botol ternyata feminin, sementara pensil maskulin. Sejauh ini saya belum terlalu mendalami grammar. Tapi terbayang betapa otak harus diputar sedemikian sehingga saya bisa menghindari menterjemahkan kalimat dari bahasa Inggris ke bahasa Spanyol. Satu kata yang terbayang di benak saat berhadapan dengan guru Spanyol adalah: ruwet alias complicated.

Tetapi karena belajar bahasa asing pula lah (?) saya jadi menyadari betapa SEDERHANA dan LUGASnya bahasa Indonesia. Siapapun subyeknya, kapanpun terjadinya, kata kerjanya hampir selalu sama. Walaupun untuk memeperjelas kita juga menggunakan keterangan waktu, dll.

Berikut contoh versi super dudul:

Versi Bahasa Indonesia:
Kemarin saya makan sate. Hari ini saya juga makan sate. Besok saya makan sate lagi.
Kemarin kamu makan sate. Hari ini kamu juga makan sate. Besok kamu makan sate lagi.
Kemarin anakku makan sate. Hari ini anakku juga makan sate. Besok anakku akan makan sate lagi.

Versi Bahasa Inggris:
I ate sate yesterday. Today I also eat sate. Tomorrow I will eat more sate.
You ate vs you eat vs you will eat
He ate vs he eats he will eat

Jreng jreng! Versi bahasa Spanyol:
Yo comí sate ayer. Hoy yo como sate también. Manana yo comeré más sate.
comiste vs Tú comes vs Tu comerás
El comió vs El come vs El comerá

Kelihatan kah bedanya?

Dengan otak dan mata yang semakin menua, adalah tantangan untuk terus semangat belajar dan belajar.

Ini hanya 'analisa' tabrak lari, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tapi paling tidak, lagi-lagi, saya jadi semakin bersyukur dan bangga karena Indonesia is the best! :)

Arif's Art

Arif's art class always inspires me!



Wednesday, September 25, 2013

Updates from the Land of Beauty

Maybe these articles below are just people's opinions.
Nevertheless, knowing how it feels to live here, I can relate to it.
It's a truth, that many people can't understand.

This is the land of the most beautiful people in the world live, but somehow, they lost something...

This is the story that relates to me, when I felt trapped inside this country, not knowing if I can go any where if I need to.

While this story reflects what I see or feel on daily basis.  

The link below had given me a clearer view on how all this happened. No direct link though, as they may be able to track it (believe me, I know people who simply can't buy a new car, even get any job just because his name is on 'the' list). So if you're interested just copy this: http://www.eluniversal.com/opinion/130925/how-bad-can-it-get

This is one of the day when I need some inspiration on how to enjoy another day in this beautiful country. Lucky me, alhamdulillah, gracias a Dios, it's not even a war zone like Palestine or Syria.

Monday, September 16, 2013

Most Expensive Things in The World


Not the LV bag, nor the Porsche.
It's dignity and knowledge to differentiate the truth from the false.
As the line between white and black has became blur and no one will be able to tell you which one is correct. You just have to find it yourself.
Fitnah, has written as the most dangerous thing that will destroy us. There are evidence around us. Getting clearer and more obvious. The biggest fitnah has yet arrived.
The only thing that matter is whether we know how to protect ourselves and our family from it.
Fitnah = slander, defamation, calumny, denigration, aspersion, libel, vilification, etc.
None of these words are familiar for me. So I stick with fitnah.

O Allah! I seek refuge with you from the punishment in the grave and from the punishment in the Hell fire and from the afflictions of life and death, and the afflictions of Al-Masih Ad-Dajjal.






Monday, September 2, 2013

When You Have Nothing At All

We just came back from summer vacation, knowing that the price of goods would be raised by now. Still when we found out that the rate went almost 30% in 1.5 month, it hit me by surprise.
Call me stupid or silly, I just don't get it!
It started when one side claimed winning the election and the other side claimed that they lost because the other side was cheating. But only one people or one group of people who have been working hard to fight for their right! The others, busy chatting and cursing, doing nothing than talking.

The supplies that famously gone from the market since forever, is getting worst nowadays. There was time when buying gallon of water was like buying something illegal. There's nothing on the market so we had to go around and found people who's willing to sell it to us. Same thing with rice, that the vendor would only sell it to certain people. If you are the right person, they will give it to you through the back door and make the transaction while whispering. Since when water and rice became gold?

Grocery shopping has never been my favorite. Here, it became a tasks with a lot of pressure. You have to go to several places to find one thing. The whole day could just go by, and still you go home with a long list. 

One thing that has bothered me a lot is when you in the line on cashier in supermarket, then people in front of you had to put back some of their groceries because the number that's shown up on the screen's getting higher than the money that they have in hand. Not saying I've never been there...
But how can you go home with several packs of milk, when some people could not even buy one? It's just a horrible feeling, and I don't like that... Even though we have the money, it doesn't feel right to spend it even on our basic necessity.

Then we have people who will buy the whole big bag of milk powder, then send his security guard to buy another one, then send the driver to buy another one. Unbelievable!



Sunday, August 18, 2013

Fractured Fairy Tale by Arif B


Pansel and Mretel
By: Arif Baskara
Once upon a time there were 2 parents called Pansel and Mretel , both of them were so nice they let the children have all the food they wanted. They had 2 evil children called Hansel and Gretel these kids were so evil they actually played deadly games like putting them right in front of a forest fire and about to get arrowed by Hansel. Their family had low food amount and only bread! They all tried to share but they only had 2 pieces of bread left and didn’t have any more fertile soil or seeds to grow crops! They all were in distress and what’s worst is that they don’t live in a farm they live in a cottage where it’s surrounded by deep thick forests. Mother was too tired to share and so was Father. So they had a plan.
 “Come on! We’ve ran out of food and it’s all because Pansel and Mretel are eating it all up!” Exclaimed Mretel.
“That’s true Gretel. How about we have a plan of getting rid of both of them!” Answered Hansel.
The parents Pansel and Mretel didn’t hear them so they didn’t know. Since the children were the boss of the house since Hansel and Gretel were too nice.
 The next morning the children said with a grin “How about you go outside and get some berries for us so we don’t run out of food”
“Sure” answered Hansel.
“OH this is going to be great.” The children thought with a smile getting wider on their faces. But off went Pansel and Mretel to the woods. There were mysterious sounds and snakes slithering. Both Hansel and Gretel were shivering and scared stiff as ice.
“Bonkers!!” Pansel shouted and scared the daylights out of Mretel(The good thing was that Pansel read the book Hansel and Gretel.
“What is it Pansel my dear?” Mretel questioned with confusion.
“We’ve just been tricked and I remember a story exactly like the one we are in.” Answered Pansel. “And now we have to find a cottage that a witch tries to eat us”
While Pansel and Mretel are tired Father and Mother are having a party.They were so glad about their success they cried. While Pansel and Mretel kept on searching and searching. “OH Father and Mother are going to be in so much trouble when we get back home!” Mretel thought .Pansel and Mretel walked and walked until their legs were sore and lazy. When it was raining hard and they thought witches were doing a curse so they followed the storm. But they finally found a witch and so they were so happy they quickly told the witch
“Witch will you please try to eat us so we could go back home, please?”
“Nonsense! I still have business to do with Sleeping Beauty” answered the witch. So off went Pansel and Mretel to go to another witch. They searched and searched until they found another witch. They asked the same thing and the witch replied
“Nonsense! I still have business to do with Cinderella.”  Well Pansel and Mretel still didn’t give up hope they searched and searched until a fairy came.
“Oh brother” moaned Pansel
“Are you trying to find your way back home to your son and daughter? Well I have a spell just for that. So ta-ta” said the fairy and the fairy disappeared like water being evaporated and left a bottle saying “Back home bottle”. ” I hope this works” Thought Mretel. So both Pansel and Mretel were flying high like a bird soaring through the sky and being happy and finally they found their way back home. What Pansel and Mretel didn’t know is that there was a warning on the piece of glass they drank that the fairy left and it said “Don’t drink if you do you will either get sick or be the worst person ever” And Pansel knew that but Mretel still didn’t have the warning. So Pansel is now aware of fairies but not Mretel.

Tuesday, June 11, 2013

Liburan

Cuma pengen tanya.
Kalau menurut kawan, liburan yang asik itu yang seperti apa tho?

Contoh pilihannya, misalnya liburan nyantai total. Jadi misalnya totally ganti suasana, ke pantai misalnya, lalu just enjoy the scene, melewatkan waktu sambil duduk-duduk di pasir. Mungkin foto-foto, main air, kejar-kejaran *eh
Pokoknya nyantai habis, ngga pengen keluar dari tempat nginep, malah :)

Atau mungkin liburan wajib? Maksudnya liburan ke tempat tertentu yang biasanya ada to do list nya. Misalnya ke Bali kudu ke Kuta, Jimbaran, Uluwatu, Pasar Sukawati, Waterboom, dll, dll? Biasanya kita punya schedule yang pasti, sampai per jam malah, supaya yakin semua bisa dilalap selama liburan kita.

Atau liburan gaya lokal, mungkin? Yang seperti ini biasanya kita cari tempat nginap di rumah penduduk setempat. Atau at least yang mirip dengan gaya hidup orang lokal. Misalnya ke Yogya, nginep di hostel. Lalu keliling-keliling jalan kaki, makan gudeg di warung pojok yang ngga terkenal tapi uenak tenan. Lalu pergi ke pasar di deket Tugu, beli jajanan di sana atau beli buah potong. Kira-kira istilahnya mungkin off-beaten path *kalau salah tolong benerin ya...

Which one you choose?
Atau mungkin punya liburan gaya sendiri?
Would you share it with me, please?

Sunday, May 19, 2013

Belajar Debat, Perlukah?

Saya sering berbeda pendapat dengan suami.
Salah satunya soal perlunya anak-anak belajar berdebat melalui forum debat. Mungkin tidak berdebat, tapi lebih tepat disebut beragumen dan mempertahankan argumennya. Tentu dengan latar belakang pengetahuan yang cukup.

Dibesarkan dalam lingkungan Jawa, saya jarang, tidak pernah malah belajar berdebat. Kalaupun ada orang yang beda pendapat dengan saya, saya cuma angkat bahu dan menghindari argumentasi. Bahkan cenderung mengalah. Kalau anak-anak berdebat dengan saya? Ya jelas aturannya : bunda tidak pernah salah :)

Belakangan saya belajar bahwa berdebat itu biasa, apalagi kalau sesuatu yang kita yakini betul. Kuartal kemarin Farhan punya satu nilai B yang saya anggap aneh. Setahu saya dia selalu belajar keras dan selalu keep up dengan tugas. Yang bagus dari sekolah anak-anak, saya bisa cek nilai dan kemajuan mereka hampir setiap saat melalui website gurunya di sekolah. Kalau ada yang drop, saya bisa lacak tes atau tugas apa yang membuat nilainya turun. Waktu saya tanya ke Farhan, kenapa nilai tes ternetu di Social Studies turun, dia bilang menurutnya hasil tesnya bagus. Anehnya di website tampak beda.

Saat pertemuan ortu dengan guru, saya sempat menanyakan hal tsb. Guru yang masih super muda itu hanya bilang "Mmmm...mungkin dia pikir tesnya gampang, jadi dia ngga belajar. Tapi basically mereka tahu semua bahannya kok. Tapi biasalah, anak-anak kan suka menggampangkan."

Saya yang tahu anak saya jarang "menggampangkan" apalagi soal pelajaran sekolah, agak kurang puas dengan jawaban si guru. Tapi alih-alih berargumen, khawatir dibilang terlalu membela anak sendiri, saya cuma bilang "Ok".

Sampai di rumah saya cek lagi dengan Farhan. Dia malah bilang jawabannya betul semua, karena setelah cek mereka semua langsung diberi tahu jawabannya.

Lalu saya pun minta Farhan menemui gurunya. Bukan untuk mempertanyakan nilainya, tapi just say "Mr. SR, I know you can't change the grade on that subject. But may I know which part that I got wrong? So I won't make same mistakes next time?' Padanya saya ingatkan, ndak perlu berdebat, just see and learn how to fix it.

Esok siangnya Farhan pulang dengan sumringah dan bilang kalau ternyata hasil tesnya betul semua! Sepertinya si guru lah yang sedang meleng, jadi mungkin salah memasukkan skor. Waktu ditanya bagaimana reaksi sang guru Farhan cuma bilang "He said he don't know how that happened". Well, Mister!

Jadi siapa bilang bule ngga pernah bikin salah? Sopan tentu perlu, respek apalagi. Tapi kalau yang salah ya kudu dibetulkan.

Guru yang sama juga mengajarkan teori evolusi di kelas. Suatu hari saat makan malam dan Farhan cerita soal pelajaran itu, sang ayah pun hanya bertanya "Kira-kira kamu setuju ngga kalau manusia dibilang "berasal" dari hominids?" Dan Farhan pun hanya bilang "I don't think so. It's like insulting us, to be honest."

Maka kami pun setuju, pelajaran di sekolah diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, tapi common sense anak-anak harus terus diasah. Suatu hasil penelitian tentu harus dihargai, tetapi soal setuju atau tidaknya kita harus gunakan common sense. And that's how we are different from any other creatures: will and common sense.

Anak-anak tidak perlu berdebat dengan gurunya mengenai hal-hal yang mereka yakini. Tapi pada saat mereka ditanya, mereka harus tahu bagaimana menyampaikan dan mempertahankan pendapatnya dengan menunjukkan bukti ilmiah.

Saya pun mulai percaya, bahwa belajar berargumen memang perlu. Hmmm...mungkin lebih tepat disebut belajar mengemukakan pendapat ya.

Iya belajar mengemukan pendapat dan mempertahankannya ternyata penting. Lebih penting lagi belajar berargumen dengan tetap menjaga kesopanan dan rasa hormat pada semua pihak. Bisa saja di ruang kerja kita berbeda pendapat dengan kolega. Tapi setelahnya pertemanan tidak boleh terganggu. Beda pendapat antar kawan, lumrah kan. Justru pertemanan kita diuji jika kita bisa menerima perbedaan dan membuat orang lain tetap merasa nyaman berteman walaupun berbeda dengan kita.

Soal kisah debat yang sampai pukul-pukulan di negeri ini kapan-kapan insya Allah bakal ditulis juga di sini. Tapi memang kedewasaan dan kemajuan peradaban suatu bangsa bisa dilihat dari cara mereka menyampaikan pendapat, dalam parlemen atau di ruang kelas, tanpa harus emosi.

Naaah, jadi kalau bunda masih belum mau didebat sama anaknya, berarti sudah beradab belum yaaa *garuk-garuk




Friday, May 17, 2013

Pekerjaan Paling Gampang

Apa coba?
Ngomong sama mengkritik
Enak kan, ngga ngerjain apa-apa lalu komentar.
Begitu deh...
Waktu pemilu pada doyaaaan ngobrol di taman, di parkiran, sambil nunggu anak sekolah, di mana-mana deh. Ngapain? Ngobrol... Oooh, kudunya begini, si anu begitu, kalu menurut saya ini bagus, itu jelek. Hedeh! Doyan banget ngomong. Sementara yang eperlu dikerjakan adalah mendidik masyarakat banyak yang umumnya ada di tempat-tempat yang kurang enak dikunjungi.

Saya ndak pernah pengen nonton tivi di sini. Soalnya nanti tiba-tiba ada siaran langsung yang wajib direlay seluruh stasiun. Isinya, apalagi kalau bukan pidato. Sejam? Dua jam? Berjam-jam.
Pernah salah satu tokoh oposisi mau bikin konferensi pers soal pemilu. Sudah berencana sejak siang, disiarkan langsung malam hari. Eh, tiba-tiba bapak-bapak pejabat pengen ngobrol.
Lalu si bapak pidato, pidato, pidato. Kadang-kadang nyanyi, joget juga lo.
Jadilah pak oposisi nunggu sampai hampir tengah malam, supaya pesannya bisa didengar banyak orang. Walaupun kalau dah tengah malam yang bertahan ya cuma pendukungnya.

By the way, saya ngga dukung siapa-siapa loh ya. Cuma itu faktanya.
Lah terus ngapain juga saya nulis di sini. Namanya cuma komentar juga dong.
Mendingan bergerak, do something... anything. Misalnya cari toilet tissue yang lagi ngga ada di mana-mana dan kabarnya sampai mau diimportkan 50 juta (rol). Oya, ini sumber beritanya memang AP, kalau mau berita aselinya main ke sini aja ya


Wednesday, May 15, 2013

Lima Belas Jam di Curacao

Jantungan!!!
Gimana ngga jantungan, sejam -satu jam!-sebelum jadwal take off pesawat kami baru dapat paspor. Jam 8.15 malam kami keluar dari kedutaan Belanda, pesawat (seharusnya) take off jam 9.30. Itupun masih harus menerjang macetnya Caracas, weekday, waktunya orang pulang kantor.

Pernah mikir Indonesia parah soal pelayanan publik? Bandingkan dengan kedutaan ini yang sampai kudu buka sampai jam 8 malam, cuma karena paspor yang seharusnya siap paginya belum sampai juga di kedutaan. Mana ada cerita kedutaan buka sampai malam?

Takjub sendiri waktu bisa sampai di airport 15 menit sebelum jadwal pemberangkatan. Konter check in sudah tutup semua. Cuma satu orang yang khusus menunggu kami. Kabarnya pesawat keberangkatan ditunda *tapi bukan gara-gara kita lo.

Security check lewaaaat.
Imigrasi? Oh no!!!... Perlu waktu seperempat jam untuk bisa meyakinkan si mbak, yang bingung membolak-balik travel permit, cek tanda tangan dan tanya soal kartu identitas bapaknya *yang jelas-jelas ngga ikut. Oalah, pesawat saya dah mau berangkat mbak...

Long story short, sampai Curacao jam 1 malam (taksi pun tinggal tiga biji di airport Curacao). Esoknya setelah 'serah terima' Farhan ke guru/chaperonnya (mereka ke Curacao untuk field trip), saya dikabari hotel,"Kamu harus siap dijemput jam 12.30 ya. Pesawatnya jam 4, tapi tahu kan, airlines ini suka mengubah jadwal seenak udelnya. Jadi mending datang 3 jam sebelumnya. Ok?"

Yup, Insel Air, terkenal suka berubah jadwal. I mean berubah jadi lebih cepat (seperti grup yang berangkat sebelum kami, mereka take off satu jam lebih cepat dari jadwal. Akibatnya: terdampar di airport tanpa ada yang menjemput), atau jadi super telat (seperti pesawat yang kami tumpangi: telat 2 jam. Sampai taxi yang harusnya menjemput menyerah. Tidak ada kabar dari airline, apalagi memperoleh info kepastian kedatangan pesawat). We learned our lesson here: never fly with them...

Jadilah, rencana keliling supermarket cari kecap, bumbu Indonesia dll harus dibatalkan. What can we do in 2.5 hours? (including taxi time) This is what I did: take a deep breath, sit down, enjoy a cup of good coffee and a cake with a real cream made from a real milk (di Caracas akibat kelangkaan produksi susu, segala bentuk cream dibuat dari minyak. Rasanya? Lumayaaaaan...)

Setelah kegilaan semalam, rasanya lebih baik saya menghabiskan waktu yang cuma sedikit itu untuk rileks dan menghargai setiap indera. The breeze and the humid air on your skin,  the smell of salt in the air, the sweet creamy cream on the Dutch apple cake, the colorful buildings on both side of the pontoon bridge that swing when you walk on it. Dan walaupun cuma dengan kamera handphone yang baterainya sekarat, foto tetap harus ada sebagai oleh-oleh toh?






Dua setengah jam pun berlalu begitu cepat. Waktunya kembali ke Caracas. Sekali lagi, dalam waktu 24 jam, saya harus melalui semua proses birokrasi: imigrasi di sana dan di sini, security check di sana dan di sini.  Well, kalau di Indonesia, terbang 45 menit jarang-jarang perlu paspor ya.

Btw,  penduduk Venezuela dan Cuaracao, tahukah kalian, Indonesia punya 17 ribu pulau! Ratusan juta orang harus diurus di sana. That's ONE huge country to take care. Bandingkan dengan 30 juta penduduk dan (kalau ndak salah) 350 an pulau. Let's make things simple, ok?

Tuesday, April 9, 2013

I do hope for the best for this country, for these people

I really do...
This lady was a lovely person.
She and her friends just do what they have done for years. Años y años ...
Paint those ceramics in a small workshop, that's hidden on the hill.
They don't even have a mark on their products, which is a shame.
Survival is the word.
As in this beautiful country even a simple handy-craft is difficult to produce.




Monday, March 11, 2013

Yang Sedang Sembunyi

Gulaaa...ke mana kau?
Sudah lamo kali tak basuo...
Tapi di lain pihak, alhamdulillah, saat ini tepung terigu sudah muncul. Walaupun hanya yang self raising dan dapatnya pun sesuai dengan nasib kita hari ini. Kalo paaaas ada, ya syukur. Kalo ngga ya lanjut cari di toko lain :)
Minyak goreng juga sudah terlihat banyak di pasar, walaupun hanya varian minyak kedelai atau biji bunga matahari, alias lebih mahal dari minyak sayur biasa.
Butter yang sudah dua bulan hilang, muncul lagi walaupun produk import dari Uruguay.
Beras, alhamdulillah, baru tadi dapat dua kantong dari tiga kantong terakhir yang teronggok di toko Cina. Sementara beras Jasmin sudah kosong walaupun harganya sudah berlipat ganda menjadi ribuan bolivar dalam waktu dua bulan.

Well, alhamdulillah, walaupun harus bikin special trip setiap kali mau belanja bahan pokok makanan, kami masih tetap bisa makan dengan enak dan insya Allah halal (thanks to caterer rekan Indonesia). Di sini grocery shopping jarang bisa dilakukan sekali jalan.

Pengen bikin martabak atau donat? Mmmm...nanti dulu ya.
Gimana kalau bikin muffin aja yang tepungnya cukup satu cup, gulanya hanya 150 g (angkanya kudu dicek lagi, nih, tapi pokoknya dikit deh) dan bisa pakai minyak/mashed banana instead of butter? Biar tambah manis campur dengan chocolate chips yang jadi produk andalan di sini dan relatif mudah didapat. Sip kaaan...

Sempat bikin Dutch Soft Cookies yang resepnya 300 g tepung, 150 g gula dan 200 g butter saja. Tapi pas mau bikin maju mundur kayak bajaj. Sampai akhirnya butter hasil hunting tahun lalu. harus direlakan. Ini gara-gara sekolah diliburkan tiga hari sehingga untuk cheer-up diri sendiri kami pun menikmati cookies full butter yang renyah dan wangi. Saking saking jarang bisa bikin cemilan, cookies itu hari ini tinggal sepotong.

Jadi yang manis-manis minggir dulu yaaa.
Kali ini giliran yang asin-asin aja deh.
Seperti Quiche jamur resep andalan Ite: cukup tepung, krim/susu telur dan keju.
Ealah... tapi keju halalnya kudu tunggu teman jalan ke Trinidad dolo .
Dan telur, kenapa harganya jadi mahal banget yaaaa
Krim? Hmmm, beberapa bulan terakhir krim pun terpaksa dibuat dari minyak.
Kebayang ngga kalau minum kopi pakai whipped cream versi minyak sayur?

Thursday, January 17, 2013

Tahun Ketiga

Tahun ketiga biasanya ditandai dengan kesulitan menemukan hari yang lowong untuk sekedar makan siang bersama kawan dekat akibat padatnya jadwal setiap minggu, dengan kegiatan sekolah, sosial, olah raga, dll, dll. Lingkaran pertemanan pun semakin luas dan semakin mudah menemukan wajah-wajah familiar di tempat-tempat umum seperti supermarket atau toko roti. Umumnya tahun ketiga adalah tahun di mana kita merasa homey tinggal di negara asing ini, walaupun untuk masalah yang satu ini, sorry to say, saya ngga merasakan itu selain di rumah sendiri.

Tahun ketiga biasanya juga ditandai dengan kepergian orang-orang yang dikenal ke negara berikutnya. Farewell parties, coffe morning, dan sejenisnya pun mulai mewarnai. Sedih, itu pasti, saat kawan yang taken for granted kita anggap selalu ada harus pergi ke tempat yang baru. Di saat yang sama tentu we'll be happy for them karena akhirnya mereka bisa 'bebas' dari 'penderitaan' tinggal di negara ini. 

To put it in a more pleasant way, walaupun kita semua harus belajar menyesuaikan diri dan beradaptasi di manapun kita tinggal, will be a nice change if akhirnya kita bisa merasakan lagi kebebasan untuk berjalan kaki menghirup udara segar di negara yang bebas dan relatif lebih aman, tanpa harus khawatir diculik, dibunuh, atau minimal dirampok, misalnya. Hidup juga tentu akan terasa lebih mudah jika kita bisa menemukan barang kebutuhan sehari-hari di satu tempat, menyelesaikan grocery shopping dalam satu waktu singkat, tanpa harus pergi keluar masuk toko sepanjang hari hanya untuk mencari gula atau tepung, kan? Karena, setahu saya, walaupun ada orang yang bisa beli gula beserta pabriknya sekalipun, kalau barangnya tidak tersedia karena kontrol suplai barang, harga dan mata uang yang berlebihan, apa gunanya uang segunung... 

Hampir pasti ada orang yang diuntungkan dengan kondisi semacam ini, you know, perbedaan nilai tukar resmi dan pasar gelap, stok barang terbatas, dsb, dsb. And they do make a lot of money, which suprises me. This is the place where demand of luxury goods is pretty high. Tapi sungguh menyedihkan kalau pasar yang terkontrol inipun tidak bisa memastikan ketersediaan barang, hanya karena harga dipaksa menuruti ketetapan pemerintah yang notabene tidak masuk akal untuk mencukupi biaya produksinya. Lalu apa gunanya dikontrol?

Anyway, tiga minggu libur akhir tahun yang lalu saya habiskan bertiga dengan anak-anak untuk tinggal di rumah. Literally stay at home, most of the time. Peristiwa perampokan di dalam rumah, 4x dalam 3 minggu berturut-turut, semuanya terjadi pada orang-orang yang saya kenal baik, betul-betul menyebabkan rasa tidak aman walaupun di dalam rumah sendiri. Sampai saat ini tidak diketahui kelanjutan dari keempat kisah kriminalitas itu, walaupun to be honest ndak ada juga yang berharap macam-macam - polisi mengusut kasus, menemukan pelaku apalagi sampai mengembalikan barang yang diambil. Semuanya 'hanya' berakhir dengan ucapan syukur karena semua korban selamat tanpa kurang suatu apapun, walaupun trauma yang terjadi tidak dapat dibayangkan berapa lama akan bertahan. Salah seorang dari mereka, yang notabene pria bertubuh tegap dan tinggi, bahkan tidak mau berkata satu patah katapun mengenai kejadian tersebut, seperti ingin menghapus ingatannya dari peristiwa naas itu.

Sejujurnya, saya ingin make the most of my stay here. Tapi mungkin untuk saat ini saya harus merumuskannya dengan stay safe and happy. Kalaupun ndak bisa berharap terlalu banyak untuk bisa mengunjungi tempat-tempat luar biasa di negeri yang indah ini, seperti air terjun tertinggi di dunia atau gugusan kepulauan berpasir putih di utara negeri ini, that's okay. Mungkin saya memang harus fokus untuk bisa berkunjung ke Baitullah dahulu, baru kemudian mengeksplorasi negeri sendiri hingga ke Raja Ampat, sebelum menginjak-injak bumi Allah lainnya ...