Monday, August 6, 2012

Pindahan :)

Notes: Berhubung rumah yang satunya mau tutup, ada beberapa tulisan yang mau saya pindahin di sini. Ngga semua sih, cuma yang kayaknya pas nulis pake mikir beneran :)

UPDATE DARI 'SINI'
 
Awal Februari ini kami dapat berita mengejutkan.
Seperti 'biasa', berita penculikan kilat yang umumnya disertai dengan permintaan tebusan (express kidnapping=ek), menjadi kekhawatiran utama kami-kami yang tinggal di 'sini'. Hanya saja bulan ini terasa semakin sering dan semakin 'dekat'. Yang terakhir dan mengagetkan adalah berita penculikan duta besar Mexico dan istrinya akhir Januari yang lalu. Felt so horrible!  Beliaunya 'cuma' diculik sebentar sih, malem di'ambil' besok paginya di'lepas' di daerah 'kumuh' di pinggir kota.

Sebagai dubes, penculikan orang penting ini lantas membuat kami-kami yang orang biasa jadi super deg-degan. Is it a joke, or what? Nyulik dubes kan bukan masalah kriminal semata, ada hubungan diplomatik plusss masalah kepercayaan di dalamnya. Lalu belakangan saya juga jadi tahu ternyata konsul Chili juga pernah jadi korban. Kok sama yang begini, mereka berani main-main ya. Pfffhhh....

Di lain pihak, saya suka geleng-geleng lihat berita di Jakarta yang memberitakan bahwa bapak presiden negara yang saya tinggali sekarang ini banyak dipuji media di Indonesia. Banyak teman yang bahkan mengaguminya. Katanya beliau bagus karena ndak mau dikontrol pihak asing. Bagus karena banyak menasionalisasi perusahaan asing, bagus karena berhasil mengangkat martabat negaranya, dll, dll. Buntutnya, membandingkannya dengan negara kita, dan menjelek-jelekan negeri kita sendiri.

Duh Gusti....
Saya jadi pengen mengingatkan, rumput tetangga sering terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Nah kalau dikasih kesempatan tinggal di rumah tetangga, barulah tahu yang sebenarnya :)

Negara kita 'baru' merdeka 65 tahun, insya Allah sudah berada di jalur yang benar. Masih banyak yang salah? Ya mari kita betulkan. Masih banyak kurangnya? Ya mari kita kerja sama-sama untuk membangunnya. Jangan dicelaaaa mulu. Yang kita perlu input positif dan konstruktif. Kalau anggota DPR itu pengen toilet yang super mahal, mungkin sekarang waktunya untuk mendidik anak-anak bangsa lebih serius, supaya kalau mereka nanti jadi anggota DPR bisa lebih sensitif sama saudara sebangsanya, instead of nge-pengenin sarana buang air yang super mahal itu.

Soal negara yang saya tinggali ini? Ya itu mah urusan dalam negeri mereka. Saya ngga punya hak untuk menilai. Yang saya tahu cuma: banyak rakyat kesulitan. Pendidikan gratis, tapi banyak guru jungkir balik karena mereka digaji rendah. Sementara harga barang terus naik, walaupun katanya harga dikontrol pemerintah. Dikontrol terhadap permainan licik pebisnis nakal, saya mah ok saja. Tapi kalau harga tepung 5000, lalu disuruh jualan roti 3000, siapa yang kudu bayar selisihnya? Walhasil pengusaha kecil pontang-panting, ujung-ujungnya bisnis kecil mandek.

Banyak perusahaan diambil alih dan dinasionalisasi. Good idea! Tapi kalau disuruh tetap produksi lalu harga produksinya kudu 'murah', njur siapa yang kudu bayar pegawai dan ongkos produksinya? Ujung-ujungnya karyawan kehilangan pekerjaan. Barang sulit diperoleh di pasar, harga...naik lagi deh.

Trus gimana caranya 'ek' ini bisa meraja lela? Kayaknya sih itu salah satu akibat dari masalah kemiskinan ini. Kalau pekerjaan yang 'halal' ngga bisa lagi diandalkan, ya nyulikpun jadi bisnis.


Trus gimana? Ya begini nih, saya mah cuma bisa garuk-garuk kepala, sambil geleng-geleng kalo ada kawan yang komentar soal 'hebatnya' presiden di negara 'ini' sekaligus ngeledek negeri kita sendiri.

Kawan, we have the best we can get. Let's make it work!

(Foto: salah satu tunnel di sini, panjangnya kira-kira 1 km. Di tunnel yang sebelah kiri gambar, ngga ada lampu! A bit weird untuk negara yang kaya minyak ini, kan?)

No comments: