Monday, August 6, 2012

Omongan Ibu-ibu (versi MP)

Hwarakadah! Kalo ibu-ibu ketemu, pembicaraan bisa mulai dari resep makanan sampai kondisi politik.

Pun dengan gerombolan ibu-ibu yang katanya mau nge-quilting, tapi berakhir dengan makan siang plus ngobrol. Biasa itu mah...

Yang unik karena umur kelompok ini selisihnya bisa sampai 20 tahun, tapi kalo ngobrol ya nyambung aja. Walaupun kadang harus hati-hati...

Obrolan dimulai dengan implan payudara yang "pecah" di Eropa, yang di Caracas tentu saja jadi heboh, saking banyaknya pengguna di sini. Kawan yang seorang British aseli, seperti kata Jamrud, kalau bicara ngga pakai tedeng aling-aling, termasuk soal ini. Dia bilang kalau dia implan seperti mereka, mungkin sekarang the girls ngga akan musuhan saat dia pergi berjemur ke pantai. Di mana yang satu mingser ke kanan dan yang satu mingser ke kiri. O dear...

Lalu beralih ke seorang kawan dari kawan, yang harus dipenjara dan entah kapan akan disidang, karena kasusnya pun tidak jelas. Beruntung anak istrinya bisa dipindahkan dan sekarang tinggal di Amerika. Kawan sayapun dengan rutin mengunjungi dan mengiriminya makanan.

Kemudian muncul pertanyaan, kalau kita ceritakan bahwa beginilah keadaan di negara ini, kepada orang-orang di Inggris, di Indonesia, dll percayakah mereka? It sounds too weird and hard to believe. Tapi karena kita tinggal di sini, ya berasa banget karena semuanya terjadi sangat dekat dengan kita.

Obrolanpun berlanjut hingga masalah rasialis, yang kalau ditanya tentu warga sini akan bilang kami tidak rasis. Yang menarik, warna kulit seringkali disebutkan, untuk alasan yang tidak diketahui. Apa coba gunanya menyebut bahwa seseorang adalah pendukung loyal pak presiden. Lalu belakangan diberi catatan, oya kulitnya warna anu loh... ngga penting banget, deh bu.

Lalu biasa, muncul skeptisme bahwa walaupun sebetulnya kondisi ini bisa berubah, entah kapan itu akan terwujud. Maukah rakyatnya berubah? Bukan salah bapak presiden kalau dia bisa bertahan sedemikian lama. Justru pertanyaannya kenapa si bapak ini bisa tiba-tiba muncul, in the first place.

Analisis ibu-ibu pun berkembang. Kawan dari India bilang, perlu seribu Mahatma Gandhi untuk memenangkan "perang" melawan penjajah di negeri ini. Tapi kalau yang dijajah tidak berpendidikan, ya kebohonganpun akan dianggap benar. Well..

Kawan dari Jerman, yang suaminya pendidik, berkata... selama pendidikan bukan prioritas utama, akan sulit untuk menyelesaikan masalah. Terutama masalah karakter bangsa. Selama yang penting buat mereka kekuasaan, materi, jumlah rumah dan mobil, tidak penting bagaimana cara mencarinya. Merampokpun jadi halal...

Kawan dari Inggris berpendapat, rakyat yang mengedepankan uang atau materi, mungkin tidak melihat mengapa dia harus berlelah-lelah bekerja dan belajar demi masa depannya. Yang penting hari ini I look good, feel good. Bisa jadi penampilan super okeh, tapi perut keroncongan karena uangnya dipakai ke salon dan bukan untuk beli makanan sehat.

Sayapun yang dari Indonesia, cuma bisa menghela nafas. Duh Gusti, semoga bangsaku yang kuat nilai-nilai agama dan budayanya, bisa bertahan menghadapi godaan materialisme. Juga semoga kita cepat sadar bahwa ternyata pendidikan adalah jawaban mendasar dari permasalahan yang kita punya. Akan perlu waktu lama memang, tapi harus dimulai sekarang...

Anggota DPR yang lagi pengen toilet mewah, mungkin cuma karena mereka tidak tahu bahwa toilet mewah itu tidak bermakna tanpa isi hati dan otak yang berkualitas. Solusinya, anggota DPR harus berpendidikan. Ndak perlu jadi master atau doktor, yang penting belajar ilmu dunia (bisnis, ekonomi, fisika, hubungan internasional, bahasa, dll) tetapi disertai dengan filosofi ilmunya,sehingga cara pikirnyapun bisa berubah.

Kalau orang pintar, tentu tahu bahwa jika ada anak-anak yang harus bergelantungan di jembatan yang ambruk untuk pergi ke sekolah, setiap hari, hanya sekitar 130 km dari gedung mereka bekerja, akal sehatnya akan berpikir bahwa uang itu akan jauuuh lebih bermanfaat untuk memperbaiki jembatan itu. Perbaiki sarana dan prasarana, supaya anak-anak masa depan kita itu bisa sekolah sampai tuntas tanpa harus mempertaruhkan keselamatannya demi pergi ke sekolah. Lebih bagus lagi kalau uang itu juga bisa dimanfaatkan untuk membuat semakin banyak anak Indonesia bisa sekolah.

Masalah TKI nelayan yang terlunta-lunta di Trinidad, gara-gara ngga tahu kontraknya dengan perusahaan, kuncinya ya cerdaskan mereka. Sehingga mereka ngga perlu menyabung nasib dan nyawa di negeri yang mereka sendiripun tidak kenal. Udah gitu tanpa pengetahuan komunikasi dan negosiasi yang baik pula, bahasa Inggris patah-patah dan tahunya cuma harus kerja lalu digaji. Sedih kan...

Sukur-sukur kalau mereka berpendidikan tinggi, jika tetap ingin bekerja di perusahaan asing, mereka tahu persis kontraknya, punya posisi negosiasi yang baik, dan tahu betul seluruh konsekuensinya. Kalau TKI kita pintar, dia bisa memilih untuk bekerja di luar negeri, dengan persiapan yang jauh lebih matang, atau tinggal dan bekerja di Indonesia mengelola tanah dan laut kita yang luar biasa.

Belajar dari negeri yang saya tinggali saat ini, terbukti bahwa kita punya lebih banyak, lebih bagus dan sangat cukup. Kalau kita duduk diam, tanpa belajar lebih banyak lagi (walaupun secara gelar dah mentok), dan mengelola semua potensinya dengan baik dan jujur, bisa jadi berakhir seperti yang kami lihat di sini. Yaitu...negara yang jalannya mundur... Naudzubillah.

Tapi orang pintar di Indonesia sangat banyak. Dan nilai-nilai kita juga kuat. Jadi insya Allah, kita bisa langkah tegap majuuuuu... jalan!

No comments: