Tuesday, April 10, 2012

Colombia, I left my heart there

Libur paskah di bagian dunia sebelah barat ini (tepatnya di Amerika Selatan) dirayakan seminggu penuh dan diberi nama Semana Santa. Biasanya sih penduduk yang merayakan berziarah dan berdoa ke gereja atau tempat-tempat penting lain. Tapi anehnya pantai dan mall juga penuh sesak :)

Semana Santa (spring break, padahal ngga ada spring di mari) kami pergunakan untuk menengok negeri tetangga: Colombia. Salah satu alasannya, karena kita pengen ngerasain kebebasan lagi. Hehehe. Di Caracas, jangankan jalan kaki malam hari, siang hari aja sering dilarang sama suami, apalagi kalau sendirian (padahal misalnya cuma ke supermarket yang deket banget dari rumah). 

Kalaupun cari suasana baru di Caracas, misalnya ke gunung Avilla atau ke kebun binatang, kami pun ndak berharap macam-macam. Karena kita paham dengan situasi negara semacam ini (dual rate, limited bank service, etc), sulit mengharapkan servis dan fasilitas yang proper, bahkan di area yang menjadi tujuan wisata.Walaupun begitu, saya bersyukur banget saat ini tinggal di Caracas, karena di sinilah kami tinggal sekarang daaaan karena makanan Indonesia alhamdulillah gampang dan halal (perut senang hati  tenang, bukan?).

Anyway, begitu sampai di Bogotá, Colombia, rasanya seneeng banget bisa ngerasain udara yang bersih dan dingin, plus polisi di mana-mana yang bikin kita ngerasa aman. Hari pertama di Colombia, kami langsung diajak naik ke puncak Monserrate (3125 m dapl). Walaupun deg-degan juga, karena takut kena altitude sickness, tapi ternyata itu adalah keputusan yang tepat, karena esok harinya sampai dengan hari Minggu, Monserrate dikunjungi sekitar 50 ribu orang per hari untuk perayaan paskah.

A small part of Bogotá ®2012 Evy <-- ini bukan di Monserrate ya


Setelah itu kita juga mengunjungi Santa Fe, traditional downtown Bogotá, sampai dengan Plaza Bolivar di mana terdapat gedung National Capitol dan Palace of Justice, office of Bogotá's Mayor, plus Primary Cathedral of Bogotá.

Di plaza Bolivar inilah di bulan November 1985 terjadi peristiwa yang tercatat sebagai terrible nightmare dalam sejarah Kolombia. Saat itu, tanggal 6 Nov, kelompok pemberontak M-19 menduduki Palace of Justice dan menyandera chief justice (presiden supreme court) dan 300 orang lainnya untuk meminta agar presiden Kolombia saat itu diadili. Dalam upaya membebaskan sandera, pihak militer mengelilingi gedung dengan tank EE-9 Cascavel dan tentara bersenjata otomatis, lalu membobardir (?) gedung tsb. Sehingga drama penyanderaan ini berakhir dengan tragedi berdarah yang banyak mengorbankan penduduk sipil, beberapa diantaranya bahkan dilaporkan hilang, selain menumbangkan tokoh-tokoh pemberontak.

Di plaza ini juga seorang turis memperingatkan suami yang menenteng kamera DSLR nya. Katanya, hati-hati karena banyak pencopet terutama jika kamu membawa kamera semacam itu. Karena terbiasa tinggal di Caracas, di mana tas harus selalu dikepit, kamera selalu dikalungkan di leher, dll, saya lihat suami memang lebih relaks di sini. Tapi saat diingatkan, suami hanya bilang, tenang aja, jangan paranoid, banyak polisi.

Hike to Lagoon Guatavita ®2012 Evy
The next two days, kami banyak habiskan waktu untuk anak-anak menikmati theme parks, science museum, toko buku (kebetulan saya nemu toko buku bahasa Inggris, bukan Spanyol, di Bogotá), juga ke masjid, dan mall :) untuk cari beberapa kebutuhan sehari-hari yang ndak bisa ditemui di Caracas.

Pokoknya kami bener-bener nikmati hari-hari di Bogota, termasuk hiking ke laguna Guatavita yang terkenal dengan legenda El Dorado nya. Lumayan bok, exercise plus plus, plus ngos-ngosan. Soalnya jalan kaki dan mendaki lereng yang sudutnya mencapai 45 derajat di ketinggian 2600 m. But it's definitely worth the pain!


Malam-malam kalau mau cari makan, kita juga jalan kaki dari hotel, sekitar 5 blok, untuk cari seafood yang fresh. Sempet deg-degan karena jalanan super sepiii, tapi ternyata aman dan segar. Alhamdulillah kita juga sempat menikmati ikan (seperti) gurame goreng di restoran pinggir jalan, yang rasanya seperti restoran di pantura pas mudik belasan tahun yang lalu. Cuma ikan ini ndak dimakan pakai nasi, tetapi pakai pisang dan ubi goreng. Catatan penting: ikan gurame/mujair/tongkol goreng, apalagi digoreng dan dimakan pakai sambel kecap --> barang langka di Caracas. Sayangnya pas ke Bogotá, kita ndak bawa kecap.

Di hari terakhir  kita juga sempat ketemu dengan teman lama yang pernah sama-sama tinggal di Trinidad, yang kebetulan anak-anaknya pun berteman dengan anak-anak kami. Mereka menganjurkan untuk ngobrol sambil ngopi di Plaza de Andrés, yang resto aslinya Andrés Carné de Res (di kota Chia) kondang karena ambiansnya yang berbeda dari resto lain. Saya sendiri sih ngga kepengen banget ke mari karena soal makanan yang ndak jelas sumbernya. Kalau ndak bisa makan, ngapain ke sana kan. Tapi karena teman bilang tempatnya asik dan banyak pilihan, saya pikir ngupi aja juga ok lah. 

Lalu biasa deh, ngobrol dan riweh dengan 5 anak. Sementara suami bertugas order kopi dan jus. Sempat terasa deg di hati, karena tas yang biasanya nempel di badan,  tergeletak begitu saja di bench. Alhamdulillah seperti diingatkan dan langsung sadar, lalu dipindahkan ke tempat yang 'lebih aman'.

Belakangan suami nanya, ranselnya ke mana ya. Tadi ada di bawah kakiku, kok ndak ada. Nah lo... Usut punya usut, ransel itu tadinya ditaruh di lantai, antara dua kursi. Lalu karena asik ngurus satu bayi, 3 anak laki-laki dan ngobrol dengan anak perempuannya, kita jadi careless.

Teman saya, yang kebetulan duduk menghadap suami, bilang tadi memang ada laki-laki yang dengan sengaja pindah dari meja lain ke meja di dekat kita. Kemungkinan besar dialah yang mengambil. Ndak berniat nuduh sih, tapi kalo tas di kolong meja bisa raib, padahal kita-kita ni ya di situ-situ aja, terpaksalah menerima kemungkinan tas itu sudah diambil orang dengan diam-diam.

Untungnya teman kita ini lawyer dan Colombiana. Dialah yang melaporkan ke sekuriti (dengan bahasa Spanyol yang faseh) dan meminta mereka memeriksa rekaman kamera yang kebetulan passss banget ada di atas kita. Eh, setelah nunggu lama, sekuriti bilang mereka ndak bisa lihat apa-apa di rekaman itu. We smell a rat here. Lha kameranya persis menghadap ke meja kita, mosok ndak keliatan apa-apa.

Lalu belakangan mereka minta nama dan nomor kontak. Walaupun teman kita menawarkan diri, kamipun memilih untuk meninggalkan masalah ini. You never know what they can do, jangan pernah meninggalkan data kita pada orang lain yang tidak dikenal. Tapi ya dasar lawyer, teman saya ini (perempuan loh) ngga lupa meninggalkan komentar pedas sama rombongan sekuriti yang jumlahnya sampai 5 orang itu, sambil nuding-nuding dikit.

Belakangan sih teman kita bilang kalau ndak mungkin si pencuri bekerja sendirian. Apalagi di tempat seperti ini, yang notabene reputasinya cukup baik dan tempatnya pun 'relatif aman' (katanya sih tempat di mana Plaza de Andrés ini berada adalah salah satu tempat fancy yang ada di Bogotá, walaupun ternyata fancy doesn't mean safe.  

Anyway, alhamdulillah suami sudah ikhlas. Alhamdulillah juga karena ada feeling sebelumnya dia tinggalkan dokumen penting di hotel. Kami pun sempat memblokir kartu-kartu bank yang ada di tas itu sebelum sempat dibobol *mungkin pencurinya dah hepi banget nemu kamera DSLR plus lensanya, jadi ndak keburu nyoba kartu.

Yang saya ndak habis ngerti sih, kapan dan gimana pencuri itu ambil tas yang letaknya jelas-jelas di depan kita. Lalu dari situ saya belajar, kalau di Caracas orang biasanya 'meminta' barang yang dia 'inginkan', misalnya hape atau dompet, secara terang-terangan. Adalah jamak melihat kejahatan terjadi di depan mata, tapi sayangnya karena umumnya melibatkan senjata, yang melihatpun tidak bisa berbuat banyak (karena polisinya juga ndak bisa apa-apa, atau malah terlibat di dalamnya - biasanya loh ya, ndak semua insya Allah). Nah di Colombia, karena banyak polisi dan pemerintahnya serius mengatasi kejahatan demi meningkatkan arus wisatawan, mereka 'belajar' ambil barang curian dengan cara yang lebih sneaky dan tricky,  bukannya nodong dll.

Jadi selain harus waspada, kita juga harus ngeh gimana cara menghindarinya. Kalau di Caracas sih yang pasti jangan sampai menyolok pakai hape, kamera atau mengeluarkan dompet di sembarang tempat, selain kepit barang di kanan kiri kita. Karena kalau orang lain jadi kepingin karena lihat kita pakai handphone bagus misalnya, orang lain bisa tiba-tiba datang (nodongin 'senjata' kalau pas dia bawa) dan bilang ," Dame lo" (give it to me).

Sementara di Colombia, kudu lebih pintar dari pencuri karena mereka pun 'lebih pintar' ambil barang tanpa ketahuan polisi yang jumlahnya seabrek abrek itu. Semua barang penting sebisa mungkin terlindung badan dan selalu dalam jangkauan kita. Misalnya dompet taruh saku depan dada, pakai tas di depan badan, dll.

Pelajarannya, di mana-mana ya kudu hati-hati. Universal precaution menjadi wajib hukumnya untuk menghindari sport jantung yang tidak perlu. Anyway kehilangan barang juga pengingat bagi kita, jadi ya istighfar dan sedekah harus dikerjakan setiap saat.  

On the other hand, if we are ready to own something, we have to be ready to loose it any time. Nothing is truly yours, isn't it? Dan jangan sampai 'kecintaan' kita pada sesuatu mengalahkan kecintaan kita pada Sang Pencipta segala sesuatu di bumi ini.


2 comments:

tukangecuprus said...

Walah..baru sempat blogwalking dan baca musibah ini. Semoga jadi lebih waspada ya. Semoga udah diganti dengan kamera yang 1 digit ;)

EPHO's said...

thank you, bang Ragil. kayaknya bakal njenengan duluan deh ;)