Monday, February 13, 2012

Belajar Science

Guru Science anak-anak tahun ini penampilannya agak beda dari guru yang lain. Rambutnya panjang, dikucir, gayanyapun nyentrik. Yang seru, kabarnya sang guru ini pernah kerja di NASA. It's going to be an awesome year!

Lalu saat ketemu dengannya dalam Parents-Teachers Conference, saya sempatkan untuk ngobrol dengannya. Pertama kali yang dikatakannya adalah bahwa dalam pelajaran science kali ini, anak-anak akan dinilai dari kemampuannya mendengarkan, kemampuannya mensupport kawannya, dan kemampuannya mencatat hasil observasinya. 

Ok, interesting... Keep going, Sir.

Jadi menurutnya, kalangan ilmuwan menemukan bahwa kemampuan itulah yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan masa depan. Bukan semata kemampuan akademik dan pengetahuan mengenai materi pelajaran. Seorang ilmuwan harus punya kemampuan mendengarkan, yang secara tidak langsung juga berarti mereka harus bisa mendengarkan pendapat orang lain, pay attention dan menghormati orang yang sedang berbicara.

Kemampuan mensupport adalah salah satu dasar pembentukan karakter  seorang ilmuwan. Mereka belajar untuk selalu positif dan berusaha fokus ke hal-hal positif dalam me'nilai' orang lain. Kalau cuma komentar? Itu mah gampang. Tapi mencari hal terbaik dari pendapat atau perbuatan orang lain, itu baru tantangan.

Sedangkan kemampuan mencatat hasil observasi, ya tentu meliputi kemampuannya menuliskan dengan baik hasil pengamatannya, yang berarti input yang diperolehnya diproses dalam otak untuk dituangkan kembali menurut kata-katanya. Proses kreatif dan kebiasaan menulispun ditanamkan di dalamnya.

Well, I wish I learned those things when I was a 5th grader...


4 comments:

re_here said...

Hmm, guru yg bijak ya. Kalau tentang dosen, ada dosen saya dulu yang selalu berusaha meluluskan mahasiswanya (tapi bukan pukul rata dengan lulus semua dengan nilai gaib. Beliau melihat sisi2 positif dr mahasiswa ybs). Menurut beliau, jangan sampai mahasiswanya mengalami masalah di masa depan hanya karena tidak lulus di sebuah mata kuliah. Selama masih bisa diluluskan, ya luluskan. Kecuali kl ada yg kebangetan banget, nget, nget. Dan sepanjang pengalaman beliau, belum ada mahasiswaa yg begitu kebangetan sampai beliau tidak bisa meluluskan.

EPHO's said...

Betul Jeng Re, tiap orang kan berbeda. Jadi pelajaran ngga bisa dipukul rata, walaupun pencapaian kompetensi yang terstandar juga penting. Sayangnya, berdasarkan pengalaman pribadi, dosen dan guru seringkali kewalahan krn jumlah murid yang banyak. Not to mention, reward yang kurang seimbang. Walhasil mereka masih harus direpotkan dengan mikirin penghasilan tambahan...

tukangecuprus said...

aku kok belum pernah dapet guru kayak gini. Kalau yang cantik sih banyak *salah fokus* ^^

EPHO's said...

pasti waktu sekolah di Jakarta ya Gil. Di Semarang sapa hayo guru IPA mu? ;)