Thursday, December 6, 2012

Prisoner in a Beautiful Country


It's hard to believe that in the beautiful place like this we have to watch our steps every single time. This is the country where you can walk outside, breath the fresh air under the sunshine without the sun burn.

Freedom is a privilege

Even in a park packed with people, a young man was stabbed on the face by a drunk guy who asked for money, and nobody would help. That young man had even offered the stabber to take his car keys and take whatever he wants. Meanwhile, in a place that no one consider crime could happen freely, gang of robber can just knocked down the victim by gun and took his belonging right in front of security guard of a well-known hotel. Again, nobody could do anything at the time.

This is the country where people are spoiled with free education and health service, subsidized groceries, near-to-nothing fuel cost, and even free money. But then, they think they can do anything they want, take anything they want, even other man's life, in order to get something as meaningless as cellphone, car or money. What went wrong here...

Freedom is indeed a privilege

Many people have their own security guard, who look after them every time they go out. Security business is a big business as well. Still, God knows whether these security guards will be able to help in case of kidnapping or robbery where guns are involved.

So only to Allah SWT we can look for protection, as nobody can guarantee that.

Freedom is a privilege, indeed. 

So which favor of your Lord will you deny? Ar-Rahman 55:13











Wednesday, August 22, 2012

Which favor of your Lord will you deny?

It can't be better than this

Family to be taken care of
A safe place to live
Parents who are healthy 
Sisters who are happy
Friends to share the tears and laugh
Food and water to survive
Clothes to protect us
Clean air to breath in

Which favor of your Lord will you deny?
Ar-Rahman 55:13


Thursday, August 9, 2012

Emergensi

Lagi pindah-pindah rumah niii...

Jadi maaf ya kalo rumahnya berantakan :)

Gambar ndak nyambung, biar cakep aja ceunah

Monday, August 6, 2012

December 25th


Dec 27, '10 3:04 PM
for Evy's contacts

Sabtu pagi2 dapat kabar dari Jakarta, kakak papa yg di Bogor meninggal dunia malam minggu waktu INA. Kaget juga, karena basically bude yang satu ini ngga punya penyakit yang serius. Kasihan jg sama papa yg termasuk dekat dgn si kakak ini, mungkin krn waktu kecil mereka terpisah dari saudara2 yg lain setelah eyang yut gw meninggal. Yang sedih dapat cerita waktu saat2 terakhir, beliau terbangun krn dipegang tangannya sama Om yg lain, lalu meronta2 mau lepas selang infus dan oksigen. Ngga lama kemudian lepaslah jiwa dari raganya. Si Om sempat nyesel krn pas bude meronta itu dia ngga tega dan keluar dr kamar. Padahal itu saat2 terakhir beliau. Kalau kata nyokap itu pas lelaku. Lalu kebayang deh, nanti kalau waktuku tiba, seperti apa ya... trus jadi ingat doa untuk orang tua. Ya Allah ampunilah setiap tetes dosa mereka berdua, terimalah amal ibadahnya berlipat2 ganda, bahagiakanlah mereka berdua selalu di dunia dan terutama di akhirat. Jadikanlah mereka berdua khusnul khotimah. Amin amin ya Robbal Alamiin... Semoga papa mama sehat2 selalu..



Lalu seharian itu kita menikmati Caracas yang sepi nyenyet *kata org Jawa, karena semua tutup kecuali toko obat/farmasi. Waktu bca2 koran lokal di internet, kabarnya mantan presiden sini yang hidup di luar negeri *guess why, setelah turun tahta sampai akhir hayatnya, juga meninggal dunia. Usianya 88 th, dan salah satu tokoh demokrat yg pernah berkuasa. Sayangnya perbedaan pandangan membuat dia terasing dari negerinya sendiri. Teganya penguasa sekarang :( Tp memang jangankan org yang berseberangan dengannya, org2 yg entah punya salah apa aja bisa kena imbas. Contohnya nih, setelah minggu lalu keluar dekrit kekuasaan untuk 'keluar' dari konstitusi setiap saat dibutuhkan, krn bencana banjir dan tanah longsor tempo hari, minggu ini keluar ketentuan bahwa bank2 lokal akan diambil alih. Dan anehnya, setiap akun yg isinya lebih dari 30rb akan diambil juga (kira2 30jt Rp). Justifikasinya? Ya ngga ada...Padahal itu uang siapa, main ambil aja seenak udel. Kalo misalnya akun itu punya yayasan yg ngurusin anak2 sakit, apa ya adil? Atau untuk perempuan2/anak2 korban KDRT? UDahlah negara ngga bisa ngurus, tp org lain mau ngurus jg susah bener...

Eh, besokannya cari kabar AFF INA-MAS, kalah pulak...
Sebetulnya kalah sih wajar, justru pembelajaran terbaik adalah pada saat kita terpuruk. Tapi prihatinnya embel2 rusuh di GBK plus berkembangnya 'ajakan' untuk membenci negara serumpun kita itu, betul2 bikin sedih. Pertama, mental nyalahin org lain itu belum hilang rupanya. Belum bisa kita memaafkan, apalagi belajar dari kegagalan sendiri. Selalu cari kambing hitam. O..itu rusuh di GBK soalnya ada provokator, o..itu soalnya pemerintah ngga bisa ngatur rakyat, o..itu soalnya loketnya kurang. Coba berhenti nuding orang deh, betul2 ngga ada gunanya. Diam itu emas, dan pakai waktunya untuk evaluasi dan difollow up dengan bebenah. Yang kedua, mbok ya jangan mengatai (?) gt loh. Maksudnya ngata2in.. Trus ada teman posting dari Quran: (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (4:19).

Jadi buat apa memaki org lain, siapa tahu dia lebih baik dari kita, siapa tahu didalamnya ada pelajaran untuk kita ambil, siapa tahu ini hanya proses supaya kita jadi lebih kuat dan tangguh. Siapa yang tahu? ... Yang ketiga, semakin sadar kalau saja pendidikan di Indonesia digenjot abis2an, bisa jadi juara2 olimpiade, dan penemu2 dunia, ilmuwan2 bersahaja nan handal Indonesia semakin meraja lela. Sekarang aja sudah buanyak bertebaran di muka bumi, sayangnya beritanya ngga pernah sampai ke permukaan krn kalah sama berita2 negatif. Kalau org Indonesia pintar, insya Allah semakin tertib, beradab, manusiawi, tapi tetap moving forward. Ngga perlu sampai harus ter'hina' sama negara2 tetangga, ngga perlu sampai rusuh, ngga perlu sampai korupsi, dll.
Weleh, weekend kok pikirannya banyak amat ya..

Half around the world


Jan 27, '11 8:46 AM

Ckckckc...
Gimana ngga takjub sama negara gw tercinta Indonesia.
Gw sekarang ada di belahan dunia lain, persis di baliknya Indonesia kalo di bola dunia ntuh, kira2 11,5 jam beda waktu. Lah sih begitu jalan2 ke toko cari suvenir untuk oleh2 temen2 di Trinidad ketemu juga sama barang kerajinan buatan Indonesia *keliatan ngga dua topeng di tembok atas? Waktu nanya2 sama penjualnya, dia sih tahu kalo itu buatan Indonesia :) Tapi kenapa dijual di situ, ya karena katanya ada juga org yg suka sama kerajinan kita.

Sebetulnya ngga sekali ini gw lihat barang made in Indonesia. Beberapa toko meubel di Caracas, di butik2nya, banyak juga dipajang furniture, patung dan keranjang2 kita. Waktu di Trinidad malah ada satu toko, namanya Wood You, mayoritas barang2nya adalah furniture buatan Indonesia. Juga pernah dapat iklan promo di milis Trinidad yg dengan bangganya bilang kalau dia mengundang kita untuk datang ke pameran furniture khusus dari Indonesia. Dan tahu ngga, peminatnya buanyaaak!
Hebat ya...

Tapi ya itu, paling prihatin kalau ternyata kayu yang dipakai kayu jati atau kayu besi bagus2 yang di tempat asalnya sana ngga ditanam kembali. Walhasil kayu kita habis jadi furniture koleksi orang, hutannya makin gundul, faunanya kehilangan rumah, spesies flora jg jadi banyak yg extinct.
Gw pribadi ikut bangga, karena tangan2 pengrajin kita hebat, kalau disuruh bikin kerajinan pasti bagus2 dan berseni, walaupun secara kualitas mesti ditingkatkan terus supaya barangnya lebih awet. Tapi jangan mengorbankan sumber daya alam kita dong. Ambil kayu yg bisa direnew dalam waktu singkat atau pakai bambu/rotan yang gw rasa berlimpah dan lebih ecofriendly. Jadi export furniture jalan terus dan sumber daya alam tetap lestari...

Ngomong doang nih, gimana cara berbuatnya ya?...

Making the most


Posted Feb 21, '11 2:47 PM

Tahun 2008 ketemu ibu2, namanya Madame Yumiko. Sengaja nama belakangnya ngga dicantumin. Waktu pertama ketemu, karena si ibu itu baru pindah ke Trinidad kita banyak ngobrol soal apa yang bisa kita kerjain selama tinggal di Trinidad. Salah satu hasil positif dari pertemuan itu adalah no matter where you are juts try to make the most of it. Rasanya sih waktu itu dah ngerti betul konsep itu. Tapi setelah pindah lagi ke Caracas, baru berasa kalo banyak yg mesti gw perbaiki dari attitude gw terhadap quote itu.

Salah satu yang gw paksa untuk berubah adalah tabiat 'abot bokong' gw. hehehe, sorry ya, bahasanya kacau banget. Tapi itu istilah itu banyak dipakai nyokap gw kalo komentar soal kebiasaan gw yg lebih seneng tinggal di rumah daripada pergi2. Kadang2 emang perlu sih begitu, tapi ada saatnya juga tabiat itu jd jelek banget. Bagusnya kalo gw milih tidur di rumah daripada jalan2, yg kadang2 bikin kantong jebol gara2 sifat gw yg lain: impulsif kalo belanja :) Atau gw milih beberes rumah, yg kagak pernah rapi thanks to the boys, daripada belanja mingguan ke supermercado. Tapi jeleknya ya kalo saking beratnya tuh dudukan, gw sampe ngga sempet berkunjung ke Tobago pas kita tinggal ke Trinidad. Which is terlaluuuu... Soalnya begitu dah keluar dari negara itu, ya ngapain jg dateng cm mau ke Tobago, belum lg urusan visa yg buat kita2 yg WNI ini kudu dikerjain. Seperti biasa penyesalan datang belakangan. Gw dulu nyante aja lihat langit biru, merah-oranye di atas Karibia. Padahal gw tinggal persis di bibir teluk, dan gw bisa 'nangkring' kapan aja mau di balkon, menikmati pemandangan itu. Setelah pindah baru berasa kehilangan, dan cuma bisa berharap waktu itu gw lebih sering duduk2 di balkon menikmati udara laut dan langit Trinidad.

Nah di Caracas ini, emang dari segi kriminalitas termasuk parah, dan itu sering gw jadiin alesan kagak mau ke mana2. Tapi tau ngga cuaca di sini itu, subhanallah.... perfect! Matahari bersinar, tapi anginnya dingiin. Gw sendiri baru nyadar setelah lihat, banyak temen2 gw, aselinya org Belanda, org Swedia, org Jepang, yg milih tinggal di Caracas, karena cuacanya. Dan bukan main2 mereka tinggal di sini dah minimal belasan tahun. Jadi seriously, mereka memang suka tinggal di negara yang cantik ini, dengan salah satu alasan utama cuacanya yg tob bgd.

Untuk olah raga, kita ngga pernah bisa punya alesan cuaca ngga bagus, ujan, panas, dll. Pas aja lah pokoknya. Ujan ya pas musim ujan aja. Kalo mau diturutin sih menurut gw cuaca ini ya termasuk dingin, soalnya kaki gw kaki tua, ngga tahan dingin. Tapi kalo buat anak2, wah mau jumpalitan kayak apa mereka seger2 aja, walaupun gemobyos. Nah belajar dari situ, di sini gw usahain minimal 2x seminggu keluar rumah untuk... olah raga.

Hihihi, seumur2 gw ngga pernah suka olah raga. Tp waktu di Trinidad, karena perlu kegiatan ya jd mulai ngerjain deh. Di Caracas ini, gw ngerasa kudu lebih serius, to make the most of my stay, terutama dalam memanfaatkan hawanya yg asoy ini. Makanya gw 'maksa menggabungkan diri' sama sekolah anak2 untuk kegiatan olah raga, plus ambil kelas. Pas pertama ya renyek semua badan. Tapi alhamdulillah, lama2 badan jd segeran, gw ngga ngerasa memubazirkan keadaan seperti pas di Trini :D dan menikmati kebesaranNya, termasuk mengagumi fakta bahwa kota ini dibentengi oleh gunung yg ukurannya super masif. Gunung Avilla itu seperti raksasa yg selalu siap melindungi kota Caracas dan penduduknya. Padahal kepada siapa lagi gunung bertasbih kalau tidak kepada Penciptanya. Masya Allah...

I can have thousand excuses for not doing things, but I only need one good reason to just do it when I decide to do it in any way.

Cacerolazo

Posted
Dec 3, '11 6:42 AM
 
Casserole biasanya identik dengan makanan. Tapi istilah cacerolazo di Caracas berarti salah satu bentuk protes (damai) yang ditandai dengan bunyi-bunyian dari pan yang dipukul beramai-ramai. Umumnya ini merupakan bentuk protes terhadap pemerintah. Dan semalam, kami ikut menyaksikan (atau tepatnya mendengarkan) aksi cacerolazo ini berulang di Caracas, setelah terakhir terdengar tahun 2003.



Awalnya saya pikir hanya anak kecil yang iseng mukul-mukul panci, lalu disaut oleh tetangga yang lain. Tapi setelah kami sekeluarga melongok keluar jendela, semakin jelas suara pan yang dipukul bersama-sama. Kalau diperhatikan tidak tampak siapa saja yang membunyikannya atau dari rumah yang mana saja suara itu berasal. Tapi yang luar biasa, suara 'kentongan panci' itu terdengar dari seluruh penjuru kota. Saya sempat terkesima dan bertanya-tanya ada apa gerangan. Beberapa detik kemudian, terdengan suara seperti cannon diikuti dengan gemuruh kembang api. Sementara suara dari cacerolazo masih terdengar walaupun samar-samar. Kedua suara itu seperti berkompetisi satu sama lain, sampai akhirnya salah satu menghilang (atau mengalah?).

Pagi ini beberapa koran online memberitakan cacerolazo semalam. Ternyata itu merupakan gerakan protes spontan yang disebarkan melalui jaringan sosial beberapa saat sebelumnya. Seperti yang kami alami, akhir-akhir ini angka kejahatan semakin mengkhawatirkan dan terasa semakin dekat. Beberapa perampokan  terakhir terjadi di area kami tinggal, yang sebelumnya dikenal cukup aman. Belum lagi perampokan disertai dengan penembakan. Selain itu harga barang yang naik setiap beberapa bulan, plus hilangnya beberapa barang kebutuhan seperti minyak goreng dan susu, membuat masyarakat di sini jungkir balik untuk bertahan hidup.

Sementara dua hari terakhir, di Caracas sedang diadakan pertemuan tingkat tinggi pemimpin negara-negara di Amerika Selatan untuk membentuk sebuah union.  Ironisnya, yang tampak di mata tamu2 negara itu adalah sebuah kota yang bersih, aman dan nyaman. Itu sebabnya masyarakat berinisiatif untuk melakukan cacerolazo persis saat pemimpin-pemimpin itu duduk bersama untuk memulai konferensi. Dan hebatnya, pemerintah langsung merespon dengan meluncurkan kembang api dan cannon yang suara gemuruhnya tentu mengalahkan suara panci-panci rakyat. Pemimpin Cuba sempat menghentikan pidatonya dan bertanya mengenai suara tsb (kami menyalakan televisi persis pada saat itu), dan dijawab oleh presiden negara ini bahwa itu kemeriahanuntuk merayakan bersatunya negara-negara Amerika Selatan.

Suami sering mengingatkan bahwa kami hanya bertamu di negara ini, dan bukan merupakan urusan kita apa yang terjadi di sini. Itu sebabnya saya sengaja tidak menyebut nama atau menyertakan link yang membahas kondisi di Caracas. Tapi saya hanya ingin mencatat di jurnal ini, peristiwa 'bersejarah' di mana seluruh rakyat yang terlihat sudah lelah dalam ketidakpastian dan ketegangan bisa bersama-sama menyuarakan keputusasaannya melalui panci casserole. Walaupun itu semua harus dilakukan dari balik jendela, karena kekhawatiran bahwa pihak militer akan bisa 'membungkam' mereka dalam sekejap.

Que Dios bendiga estas gentes...




Prev: Iqra
Next: Omongan Ibu-Ibu

Omongan Ibu-ibu (versi MP)

Hwarakadah! Kalo ibu-ibu ketemu, pembicaraan bisa mulai dari resep makanan sampai kondisi politik.

Pun dengan gerombolan ibu-ibu yang katanya mau nge-quilting, tapi berakhir dengan makan siang plus ngobrol. Biasa itu mah...

Yang unik karena umur kelompok ini selisihnya bisa sampai 20 tahun, tapi kalo ngobrol ya nyambung aja. Walaupun kadang harus hati-hati...

Obrolan dimulai dengan implan payudara yang "pecah" di Eropa, yang di Caracas tentu saja jadi heboh, saking banyaknya pengguna di sini. Kawan yang seorang British aseli, seperti kata Jamrud, kalau bicara ngga pakai tedeng aling-aling, termasuk soal ini. Dia bilang kalau dia implan seperti mereka, mungkin sekarang the girls ngga akan musuhan saat dia pergi berjemur ke pantai. Di mana yang satu mingser ke kanan dan yang satu mingser ke kiri. O dear...

Lalu beralih ke seorang kawan dari kawan, yang harus dipenjara dan entah kapan akan disidang, karena kasusnya pun tidak jelas. Beruntung anak istrinya bisa dipindahkan dan sekarang tinggal di Amerika. Kawan sayapun dengan rutin mengunjungi dan mengiriminya makanan.

Kemudian muncul pertanyaan, kalau kita ceritakan bahwa beginilah keadaan di negara ini, kepada orang-orang di Inggris, di Indonesia, dll percayakah mereka? It sounds too weird and hard to believe. Tapi karena kita tinggal di sini, ya berasa banget karena semuanya terjadi sangat dekat dengan kita.

Obrolanpun berlanjut hingga masalah rasialis, yang kalau ditanya tentu warga sini akan bilang kami tidak rasis. Yang menarik, warna kulit seringkali disebutkan, untuk alasan yang tidak diketahui. Apa coba gunanya menyebut bahwa seseorang adalah pendukung loyal pak presiden. Lalu belakangan diberi catatan, oya kulitnya warna anu loh... ngga penting banget, deh bu.

Lalu biasa, muncul skeptisme bahwa walaupun sebetulnya kondisi ini bisa berubah, entah kapan itu akan terwujud. Maukah rakyatnya berubah? Bukan salah bapak presiden kalau dia bisa bertahan sedemikian lama. Justru pertanyaannya kenapa si bapak ini bisa tiba-tiba muncul, in the first place.

Analisis ibu-ibu pun berkembang. Kawan dari India bilang, perlu seribu Mahatma Gandhi untuk memenangkan "perang" melawan penjajah di negeri ini. Tapi kalau yang dijajah tidak berpendidikan, ya kebohonganpun akan dianggap benar. Well..

Kawan dari Jerman, yang suaminya pendidik, berkata... selama pendidikan bukan prioritas utama, akan sulit untuk menyelesaikan masalah. Terutama masalah karakter bangsa. Selama yang penting buat mereka kekuasaan, materi, jumlah rumah dan mobil, tidak penting bagaimana cara mencarinya. Merampokpun jadi halal...

Kawan dari Inggris berpendapat, rakyat yang mengedepankan uang atau materi, mungkin tidak melihat mengapa dia harus berlelah-lelah bekerja dan belajar demi masa depannya. Yang penting hari ini I look good, feel good. Bisa jadi penampilan super okeh, tapi perut keroncongan karena uangnya dipakai ke salon dan bukan untuk beli makanan sehat.

Sayapun yang dari Indonesia, cuma bisa menghela nafas. Duh Gusti, semoga bangsaku yang kuat nilai-nilai agama dan budayanya, bisa bertahan menghadapi godaan materialisme. Juga semoga kita cepat sadar bahwa ternyata pendidikan adalah jawaban mendasar dari permasalahan yang kita punya. Akan perlu waktu lama memang, tapi harus dimulai sekarang...

Anggota DPR yang lagi pengen toilet mewah, mungkin cuma karena mereka tidak tahu bahwa toilet mewah itu tidak bermakna tanpa isi hati dan otak yang berkualitas. Solusinya, anggota DPR harus berpendidikan. Ndak perlu jadi master atau doktor, yang penting belajar ilmu dunia (bisnis, ekonomi, fisika, hubungan internasional, bahasa, dll) tetapi disertai dengan filosofi ilmunya,sehingga cara pikirnyapun bisa berubah.

Kalau orang pintar, tentu tahu bahwa jika ada anak-anak yang harus bergelantungan di jembatan yang ambruk untuk pergi ke sekolah, setiap hari, hanya sekitar 130 km dari gedung mereka bekerja, akal sehatnya akan berpikir bahwa uang itu akan jauuuh lebih bermanfaat untuk memperbaiki jembatan itu. Perbaiki sarana dan prasarana, supaya anak-anak masa depan kita itu bisa sekolah sampai tuntas tanpa harus mempertaruhkan keselamatannya demi pergi ke sekolah. Lebih bagus lagi kalau uang itu juga bisa dimanfaatkan untuk membuat semakin banyak anak Indonesia bisa sekolah.

Masalah TKI nelayan yang terlunta-lunta di Trinidad, gara-gara ngga tahu kontraknya dengan perusahaan, kuncinya ya cerdaskan mereka. Sehingga mereka ngga perlu menyabung nasib dan nyawa di negeri yang mereka sendiripun tidak kenal. Udah gitu tanpa pengetahuan komunikasi dan negosiasi yang baik pula, bahasa Inggris patah-patah dan tahunya cuma harus kerja lalu digaji. Sedih kan...

Sukur-sukur kalau mereka berpendidikan tinggi, jika tetap ingin bekerja di perusahaan asing, mereka tahu persis kontraknya, punya posisi negosiasi yang baik, dan tahu betul seluruh konsekuensinya. Kalau TKI kita pintar, dia bisa memilih untuk bekerja di luar negeri, dengan persiapan yang jauh lebih matang, atau tinggal dan bekerja di Indonesia mengelola tanah dan laut kita yang luar biasa.

Belajar dari negeri yang saya tinggali saat ini, terbukti bahwa kita punya lebih banyak, lebih bagus dan sangat cukup. Kalau kita duduk diam, tanpa belajar lebih banyak lagi (walaupun secara gelar dah mentok), dan mengelola semua potensinya dengan baik dan jujur, bisa jadi berakhir seperti yang kami lihat di sini. Yaitu...negara yang jalannya mundur... Naudzubillah.

Tapi orang pintar di Indonesia sangat banyak. Dan nilai-nilai kita juga kuat. Jadi insya Allah, kita bisa langkah tegap majuuuuu... jalan!

Pindahan :)

Notes: Berhubung rumah yang satunya mau tutup, ada beberapa tulisan yang mau saya pindahin di sini. Ngga semua sih, cuma yang kayaknya pas nulis pake mikir beneran :)

UPDATE DARI 'SINI'
 
Awal Februari ini kami dapat berita mengejutkan.
Seperti 'biasa', berita penculikan kilat yang umumnya disertai dengan permintaan tebusan (express kidnapping=ek), menjadi kekhawatiran utama kami-kami yang tinggal di 'sini'. Hanya saja bulan ini terasa semakin sering dan semakin 'dekat'. Yang terakhir dan mengagetkan adalah berita penculikan duta besar Mexico dan istrinya akhir Januari yang lalu. Felt so horrible!  Beliaunya 'cuma' diculik sebentar sih, malem di'ambil' besok paginya di'lepas' di daerah 'kumuh' di pinggir kota.

Sebagai dubes, penculikan orang penting ini lantas membuat kami-kami yang orang biasa jadi super deg-degan. Is it a joke, or what? Nyulik dubes kan bukan masalah kriminal semata, ada hubungan diplomatik plusss masalah kepercayaan di dalamnya. Lalu belakangan saya juga jadi tahu ternyata konsul Chili juga pernah jadi korban. Kok sama yang begini, mereka berani main-main ya. Pfffhhh....

Di lain pihak, saya suka geleng-geleng lihat berita di Jakarta yang memberitakan bahwa bapak presiden negara yang saya tinggali sekarang ini banyak dipuji media di Indonesia. Banyak teman yang bahkan mengaguminya. Katanya beliau bagus karena ndak mau dikontrol pihak asing. Bagus karena banyak menasionalisasi perusahaan asing, bagus karena berhasil mengangkat martabat negaranya, dll, dll. Buntutnya, membandingkannya dengan negara kita, dan menjelek-jelekan negeri kita sendiri.

Duh Gusti....
Saya jadi pengen mengingatkan, rumput tetangga sering terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Nah kalau dikasih kesempatan tinggal di rumah tetangga, barulah tahu yang sebenarnya :)

Negara kita 'baru' merdeka 65 tahun, insya Allah sudah berada di jalur yang benar. Masih banyak yang salah? Ya mari kita betulkan. Masih banyak kurangnya? Ya mari kita kerja sama-sama untuk membangunnya. Jangan dicelaaaa mulu. Yang kita perlu input positif dan konstruktif. Kalau anggota DPR itu pengen toilet yang super mahal, mungkin sekarang waktunya untuk mendidik anak-anak bangsa lebih serius, supaya kalau mereka nanti jadi anggota DPR bisa lebih sensitif sama saudara sebangsanya, instead of nge-pengenin sarana buang air yang super mahal itu.

Soal negara yang saya tinggali ini? Ya itu mah urusan dalam negeri mereka. Saya ngga punya hak untuk menilai. Yang saya tahu cuma: banyak rakyat kesulitan. Pendidikan gratis, tapi banyak guru jungkir balik karena mereka digaji rendah. Sementara harga barang terus naik, walaupun katanya harga dikontrol pemerintah. Dikontrol terhadap permainan licik pebisnis nakal, saya mah ok saja. Tapi kalau harga tepung 5000, lalu disuruh jualan roti 3000, siapa yang kudu bayar selisihnya? Walhasil pengusaha kecil pontang-panting, ujung-ujungnya bisnis kecil mandek.

Banyak perusahaan diambil alih dan dinasionalisasi. Good idea! Tapi kalau disuruh tetap produksi lalu harga produksinya kudu 'murah', njur siapa yang kudu bayar pegawai dan ongkos produksinya? Ujung-ujungnya karyawan kehilangan pekerjaan. Barang sulit diperoleh di pasar, harga...naik lagi deh.

Trus gimana caranya 'ek' ini bisa meraja lela? Kayaknya sih itu salah satu akibat dari masalah kemiskinan ini. Kalau pekerjaan yang 'halal' ngga bisa lagi diandalkan, ya nyulikpun jadi bisnis.


Trus gimana? Ya begini nih, saya mah cuma bisa garuk-garuk kepala, sambil geleng-geleng kalo ada kawan yang komentar soal 'hebatnya' presiden di negara 'ini' sekaligus ngeledek negeri kita sendiri.

Kawan, we have the best we can get. Let's make it work!

(Foto: salah satu tunnel di sini, panjangnya kira-kira 1 km. Di tunnel yang sebelah kiri gambar, ngga ada lampu! A bit weird untuk negara yang kaya minyak ini, kan?)

Tuesday, April 10, 2012

Colombia, I left my heart there

Libur paskah di bagian dunia sebelah barat ini (tepatnya di Amerika Selatan) dirayakan seminggu penuh dan diberi nama Semana Santa. Biasanya sih penduduk yang merayakan berziarah dan berdoa ke gereja atau tempat-tempat penting lain. Tapi anehnya pantai dan mall juga penuh sesak :)

Semana Santa (spring break, padahal ngga ada spring di mari) kami pergunakan untuk menengok negeri tetangga: Colombia. Salah satu alasannya, karena kita pengen ngerasain kebebasan lagi. Hehehe. Di Caracas, jangankan jalan kaki malam hari, siang hari aja sering dilarang sama suami, apalagi kalau sendirian (padahal misalnya cuma ke supermarket yang deket banget dari rumah). 

Kalaupun cari suasana baru di Caracas, misalnya ke gunung Avilla atau ke kebun binatang, kami pun ndak berharap macam-macam. Karena kita paham dengan situasi negara semacam ini (dual rate, limited bank service, etc), sulit mengharapkan servis dan fasilitas yang proper, bahkan di area yang menjadi tujuan wisata.Walaupun begitu, saya bersyukur banget saat ini tinggal di Caracas, karena di sinilah kami tinggal sekarang daaaan karena makanan Indonesia alhamdulillah gampang dan halal (perut senang hati  tenang, bukan?).

Anyway, begitu sampai di Bogotá, Colombia, rasanya seneeng banget bisa ngerasain udara yang bersih dan dingin, plus polisi di mana-mana yang bikin kita ngerasa aman. Hari pertama di Colombia, kami langsung diajak naik ke puncak Monserrate (3125 m dapl). Walaupun deg-degan juga, karena takut kena altitude sickness, tapi ternyata itu adalah keputusan yang tepat, karena esok harinya sampai dengan hari Minggu, Monserrate dikunjungi sekitar 50 ribu orang per hari untuk perayaan paskah.

A small part of Bogotá ®2012 Evy <-- ini bukan di Monserrate ya


Setelah itu kita juga mengunjungi Santa Fe, traditional downtown Bogotá, sampai dengan Plaza Bolivar di mana terdapat gedung National Capitol dan Palace of Justice, office of Bogotá's Mayor, plus Primary Cathedral of Bogotá.

Di plaza Bolivar inilah di bulan November 1985 terjadi peristiwa yang tercatat sebagai terrible nightmare dalam sejarah Kolombia. Saat itu, tanggal 6 Nov, kelompok pemberontak M-19 menduduki Palace of Justice dan menyandera chief justice (presiden supreme court) dan 300 orang lainnya untuk meminta agar presiden Kolombia saat itu diadili. Dalam upaya membebaskan sandera, pihak militer mengelilingi gedung dengan tank EE-9 Cascavel dan tentara bersenjata otomatis, lalu membobardir (?) gedung tsb. Sehingga drama penyanderaan ini berakhir dengan tragedi berdarah yang banyak mengorbankan penduduk sipil, beberapa diantaranya bahkan dilaporkan hilang, selain menumbangkan tokoh-tokoh pemberontak.

Di plaza ini juga seorang turis memperingatkan suami yang menenteng kamera DSLR nya. Katanya, hati-hati karena banyak pencopet terutama jika kamu membawa kamera semacam itu. Karena terbiasa tinggal di Caracas, di mana tas harus selalu dikepit, kamera selalu dikalungkan di leher, dll, saya lihat suami memang lebih relaks di sini. Tapi saat diingatkan, suami hanya bilang, tenang aja, jangan paranoid, banyak polisi.

Hike to Lagoon Guatavita ®2012 Evy
The next two days, kami banyak habiskan waktu untuk anak-anak menikmati theme parks, science museum, toko buku (kebetulan saya nemu toko buku bahasa Inggris, bukan Spanyol, di Bogotá), juga ke masjid, dan mall :) untuk cari beberapa kebutuhan sehari-hari yang ndak bisa ditemui di Caracas.

Pokoknya kami bener-bener nikmati hari-hari di Bogota, termasuk hiking ke laguna Guatavita yang terkenal dengan legenda El Dorado nya. Lumayan bok, exercise plus plus, plus ngos-ngosan. Soalnya jalan kaki dan mendaki lereng yang sudutnya mencapai 45 derajat di ketinggian 2600 m. But it's definitely worth the pain!


Malam-malam kalau mau cari makan, kita juga jalan kaki dari hotel, sekitar 5 blok, untuk cari seafood yang fresh. Sempet deg-degan karena jalanan super sepiii, tapi ternyata aman dan segar. Alhamdulillah kita juga sempat menikmati ikan (seperti) gurame goreng di restoran pinggir jalan, yang rasanya seperti restoran di pantura pas mudik belasan tahun yang lalu. Cuma ikan ini ndak dimakan pakai nasi, tetapi pakai pisang dan ubi goreng. Catatan penting: ikan gurame/mujair/tongkol goreng, apalagi digoreng dan dimakan pakai sambel kecap --> barang langka di Caracas. Sayangnya pas ke Bogotá, kita ndak bawa kecap.

Di hari terakhir  kita juga sempat ketemu dengan teman lama yang pernah sama-sama tinggal di Trinidad, yang kebetulan anak-anaknya pun berteman dengan anak-anak kami. Mereka menganjurkan untuk ngobrol sambil ngopi di Plaza de Andrés, yang resto aslinya Andrés Carné de Res (di kota Chia) kondang karena ambiansnya yang berbeda dari resto lain. Saya sendiri sih ngga kepengen banget ke mari karena soal makanan yang ndak jelas sumbernya. Kalau ndak bisa makan, ngapain ke sana kan. Tapi karena teman bilang tempatnya asik dan banyak pilihan, saya pikir ngupi aja juga ok lah. 

Lalu biasa deh, ngobrol dan riweh dengan 5 anak. Sementara suami bertugas order kopi dan jus. Sempat terasa deg di hati, karena tas yang biasanya nempel di badan,  tergeletak begitu saja di bench. Alhamdulillah seperti diingatkan dan langsung sadar, lalu dipindahkan ke tempat yang 'lebih aman'.

Belakangan suami nanya, ranselnya ke mana ya. Tadi ada di bawah kakiku, kok ndak ada. Nah lo... Usut punya usut, ransel itu tadinya ditaruh di lantai, antara dua kursi. Lalu karena asik ngurus satu bayi, 3 anak laki-laki dan ngobrol dengan anak perempuannya, kita jadi careless.

Teman saya, yang kebetulan duduk menghadap suami, bilang tadi memang ada laki-laki yang dengan sengaja pindah dari meja lain ke meja di dekat kita. Kemungkinan besar dialah yang mengambil. Ndak berniat nuduh sih, tapi kalo tas di kolong meja bisa raib, padahal kita-kita ni ya di situ-situ aja, terpaksalah menerima kemungkinan tas itu sudah diambil orang dengan diam-diam.

Untungnya teman kita ini lawyer dan Colombiana. Dialah yang melaporkan ke sekuriti (dengan bahasa Spanyol yang faseh) dan meminta mereka memeriksa rekaman kamera yang kebetulan passss banget ada di atas kita. Eh, setelah nunggu lama, sekuriti bilang mereka ndak bisa lihat apa-apa di rekaman itu. We smell a rat here. Lha kameranya persis menghadap ke meja kita, mosok ndak keliatan apa-apa.

Lalu belakangan mereka minta nama dan nomor kontak. Walaupun teman kita menawarkan diri, kamipun memilih untuk meninggalkan masalah ini. You never know what they can do, jangan pernah meninggalkan data kita pada orang lain yang tidak dikenal. Tapi ya dasar lawyer, teman saya ini (perempuan loh) ngga lupa meninggalkan komentar pedas sama rombongan sekuriti yang jumlahnya sampai 5 orang itu, sambil nuding-nuding dikit.

Belakangan sih teman kita bilang kalau ndak mungkin si pencuri bekerja sendirian. Apalagi di tempat seperti ini, yang notabene reputasinya cukup baik dan tempatnya pun 'relatif aman' (katanya sih tempat di mana Plaza de Andrés ini berada adalah salah satu tempat fancy yang ada di Bogotá, walaupun ternyata fancy doesn't mean safe.  

Anyway, alhamdulillah suami sudah ikhlas. Alhamdulillah juga karena ada feeling sebelumnya dia tinggalkan dokumen penting di hotel. Kami pun sempat memblokir kartu-kartu bank yang ada di tas itu sebelum sempat dibobol *mungkin pencurinya dah hepi banget nemu kamera DSLR plus lensanya, jadi ndak keburu nyoba kartu.

Yang saya ndak habis ngerti sih, kapan dan gimana pencuri itu ambil tas yang letaknya jelas-jelas di depan kita. Lalu dari situ saya belajar, kalau di Caracas orang biasanya 'meminta' barang yang dia 'inginkan', misalnya hape atau dompet, secara terang-terangan. Adalah jamak melihat kejahatan terjadi di depan mata, tapi sayangnya karena umumnya melibatkan senjata, yang melihatpun tidak bisa berbuat banyak (karena polisinya juga ndak bisa apa-apa, atau malah terlibat di dalamnya - biasanya loh ya, ndak semua insya Allah). Nah di Colombia, karena banyak polisi dan pemerintahnya serius mengatasi kejahatan demi meningkatkan arus wisatawan, mereka 'belajar' ambil barang curian dengan cara yang lebih sneaky dan tricky,  bukannya nodong dll.

Jadi selain harus waspada, kita juga harus ngeh gimana cara menghindarinya. Kalau di Caracas sih yang pasti jangan sampai menyolok pakai hape, kamera atau mengeluarkan dompet di sembarang tempat, selain kepit barang di kanan kiri kita. Karena kalau orang lain jadi kepingin karena lihat kita pakai handphone bagus misalnya, orang lain bisa tiba-tiba datang (nodongin 'senjata' kalau pas dia bawa) dan bilang ," Dame lo" (give it to me).

Sementara di Colombia, kudu lebih pintar dari pencuri karena mereka pun 'lebih pintar' ambil barang tanpa ketahuan polisi yang jumlahnya seabrek abrek itu. Semua barang penting sebisa mungkin terlindung badan dan selalu dalam jangkauan kita. Misalnya dompet taruh saku depan dada, pakai tas di depan badan, dll.

Pelajarannya, di mana-mana ya kudu hati-hati. Universal precaution menjadi wajib hukumnya untuk menghindari sport jantung yang tidak perlu. Anyway kehilangan barang juga pengingat bagi kita, jadi ya istighfar dan sedekah harus dikerjakan setiap saat.  

On the other hand, if we are ready to own something, we have to be ready to loose it any time. Nothing is truly yours, isn't it? Dan jangan sampai 'kecintaan' kita pada sesuatu mengalahkan kecintaan kita pada Sang Pencipta segala sesuatu di bumi ini.


Monday, February 27, 2012

Yang Lagi Kangen Trinidad

Mengenal manusia adalah suatu hal yang luar biasa. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, terbukti betul!

Contohnya, penduduk Trinidad-Tobago yang sebagian besar keturunan Afrika, punya kebiasaan hidup yang santai. Walhasil, kalau kita punya kesempatan ketemu dengan mereka, kita akan banyak dengar kata-kata seperti 'relax, man', 'no problem' dan 'it's ok'. Hanya saja kalau itu terjadi di antrian supermarket misalnya, yah akibatnya antriannya tambah panjang. Soalnya mbak kasir kerjanya 'relax dan no worry'. 

An afternoon in Waterfront Port of Spain

Saking relaxnya kadang ngomongpun sekadarnya dan disingkat-singkat. Misalnya dat (that), tong (town), meh (my). Jadi kalau lagi pengen ngomong "I hear they're living down there" dia akan bilang "Ah hyar dey living dong by dey so." Atau untuk ngomong " Give me the thing when you come to my house" dia akan bilang "Gi' me de ting when you come to meh house." Selain itu ada juga idiom lain, seperti kalau mau nanya "what's up" mereka akan bilang "whas de scene?".

Trus, jadi inget deh, lagu buatan anak-anak dan teman-teman Indonesianya yang tinggal di Trinidad dan pernah dipost di blog (liriknya): Da Man Ting N Ting.
Untuuung...tinggal di sana cuma 3 tahun. Kalo ngga belum beres belajar Inggrisnya dah keburu broken deh ;)

Monday, February 13, 2012

Belajar Science

Guru Science anak-anak tahun ini penampilannya agak beda dari guru yang lain. Rambutnya panjang, dikucir, gayanyapun nyentrik. Yang seru, kabarnya sang guru ini pernah kerja di NASA. It's going to be an awesome year!

Lalu saat ketemu dengannya dalam Parents-Teachers Conference, saya sempatkan untuk ngobrol dengannya. Pertama kali yang dikatakannya adalah bahwa dalam pelajaran science kali ini, anak-anak akan dinilai dari kemampuannya mendengarkan, kemampuannya mensupport kawannya, dan kemampuannya mencatat hasil observasinya. 

Ok, interesting... Keep going, Sir.

Jadi menurutnya, kalangan ilmuwan menemukan bahwa kemampuan itulah yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan masa depan. Bukan semata kemampuan akademik dan pengetahuan mengenai materi pelajaran. Seorang ilmuwan harus punya kemampuan mendengarkan, yang secara tidak langsung juga berarti mereka harus bisa mendengarkan pendapat orang lain, pay attention dan menghormati orang yang sedang berbicara.

Kemampuan mensupport adalah salah satu dasar pembentukan karakter  seorang ilmuwan. Mereka belajar untuk selalu positif dan berusaha fokus ke hal-hal positif dalam me'nilai' orang lain. Kalau cuma komentar? Itu mah gampang. Tapi mencari hal terbaik dari pendapat atau perbuatan orang lain, itu baru tantangan.

Sedangkan kemampuan mencatat hasil observasi, ya tentu meliputi kemampuannya menuliskan dengan baik hasil pengamatannya, yang berarti input yang diperolehnya diproses dalam otak untuk dituangkan kembali menurut kata-katanya. Proses kreatif dan kebiasaan menulispun ditanamkan di dalamnya.

Well, I wish I learned those things when I was a 5th grader...


Wednesday, January 25, 2012

Mistakes

Namanya manusia, tempatnya salah dan lupa...
Tapi kok tetep ya, perasaan ngga enak banget kalo abis bikin salah.
Rasanya pengen muter jam, supaya balik ke waktu bikin salah, dan menghapusnya.
O well... hukuman bikin salah, ya begini ini... feel so not good.



Saturday, January 14, 2012

They're growing up

Apa favorit Anda saat jalan-jalan bersama keluarga?
Bercengkrama bersama pada waktu liburan? Untuk saya, adalah pada saat kita memiliki waktu one on one dengan masing-masing anggota keluarga.

Misalnya waktu kami mencoba menjelajahi Colonia Tovar, saat liburan akhir tahun, saya berkesepmatan bicara dari hati ke hati dengan si sulung. Saat itu kami harus berjalan kaki menyusuri perkampungan Jerman di Venezuela, dengan medan yang naik turun. Not to mention  saat itu kami berada sekitar 2000 m di atas permukaan laut.

Karena kelelahan si sulungpun mulai menggelayut, sementara si bungsu mulai seperti penyiar radio dengan ocehannya. Di situlah kami bicara banyak, mulai dari hal yang sederhana seperti laporan mengenai kaos kaki yang mulai berlubang dan kekecilan, sampai dengan kenangannya saat kecil.
Tetapi kadang memang kita harus fully prepared. Pernah suatu kali si bungsu bilang kalau si anu adalah girlfriendnya. Saya cuma menelan ludah dan berusaha kalem saat itu, walaupun panik juga. Lalu kami bicara apa sih girlfriend/boyfriend itu? Bukannya semua teman di sekolah itu kawannya? And on and on and on...
Tentu saja perbincangan semacam ini tidak bisa diselesaikan dalam satu kali. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk terus menerus mengingatkan. Dan untuk saya pribadi, yang penting mereka tahu nilai-nilai dan agama yang kita anut, sebisa mungkin dengan alasan di baliknya.

Menurut saya, sejak anak bisa bicara tidak ada salahnya kalau kita selalu jujur dengan mereka mengenai konsekuensi. Jadi alih-alih menakut-takuti, beri alasan yang logis kenapa suatu hal baik atau tidak baik dikerjakan.
Tapi ternyata eh ternyata, menyiapkan hati dan mental kita untuk menghadapi pertanyaan dan pernyataan mereka yang kadang mengejutkan, juga tidak mudah lo.