Saturday, December 10, 2011

Why should I care

Beberapa tahun terakhir ini saya baru sadar bahwa only bad news spread around. Bahwa being objective is almost impossible. Bahwa pemberitaan tidak bisa kita telan mentah-mentah, karena kita harus tahu latar belakang pembawa berita, kepentingannya dan siapa orang-orang di belakang mereka. Bahwa kita harus selalu hati-hati dalam mencerna pemberitaan, karena seringkali itu adalah cerminan pendapat penulisnya dan bisa jadi bukan fakta sebenarnya. Itu sebabnya cross checking menjadi penting, di samping ilmu riset.

Soal Indonesia saja, kebanyakan berita yang beredar masih saja seputar teroris, kemiskinan, korupsi, dll. Ke mana berita jago-jago dan ilmuwan-ilmuwan luar biasa yang menang olimpiade atau perancang-perancang Indonesia yang berhasil mempromosikan batik dan konveksi dalam negeri ke luar atau animator-animator handal atau engineer-engineer pintar yang  dihire universitas atau perusahaan di luar negeri? Hampir ngga ada. Konyolnya kita sendiri terbiasa melihat kekurangan bangsa sendiri, sampai kesulitan mencari segi positifnya.

Tiga tahun yang lalu saya ingat seorang kawan ekspat menuturkan bahwa penempatan di Indonesia bagi mereka itu seperti hidden treasure. Yang resmi tercantum di laporan perusahaan adalah Indonesia yang 'berbahaya' dengan segala resikonya. Akibatnya hardship factor Indonesia cukup tinggi dan memberikan benefit lebih untuk ekspat. Padahal, sejatinya, tinggal di Jakarta atau Balikpapan atau Riau, ibarat hidup seperti raja/ratu. Biaya hidup begitu murah, sumber daya manusia mudah dicari, budayanya begitu kaya sekaligus modern. Ibaratnya selama penempatan di Indonesia, mereka bisa menabung banyak dengan tetap bergaya hidup yang cukup nyaman. Gimana ngga nyaman, pembantu, babby sitter, supir, tukang kebun dll, semuanya bersedia dibayar dengan gaji murah. Padahal kalau mereka perlu barang-barang import, tinggal pergi ke supermarket pun sudah tersedia. Jadi sebelah mana hardship nya? Paling-paling kena macet atau kesulitan komunikasi di pasar.

Lalu kenapa saya ujug-ujug ngomong Palestina? Ya karena ndilalahnya saya dapat informasi yang terus terang sangat memprihatinkan. Lebih menyedihkan karena banyak orang, bahkan sesama muslim, masih belum mengetahui kisah sebenarnya dan keburu frustasi dengan masalah yang sejak lama tidak terselesaikan. Seringkali kalau ada kawan posting soal Palestina ada saja yang komentar: urusan dalam negeri aja masih setumpuk, ngapain ngurus negara orang.

Kalau menurut saya, salah satu pelajaran terpenting dari Palestina adalah bahwa berita tidak seluruhnya bisa dipercaya dan kewajiban kita sebagai manusia untuk menggunakan akal dan pikiran untuk menelaah setiap informasi yang kita terima sebelum bereaksi terhadapnya.

Banyak penduduk Israel, penganut Yahudi atau Kristiani, yang malah memilih mencari informasi lebih banyak, mempelajari dan mencari duduk persoalannya sampai ke riwayat sejarah pertikaian yang tidak kunjung selesai ini. Di dalam negeri mereka sendiri terjadi banyak perdebatan soal invasi dan apartheid yang dilakukan kamu Zionis. Hanya saja, bisakah kita lihat berita-berita itu di media? Hampir pasti, tidak. Seluruh berita yang keluar cenderung memihak atau bahkan mengadu domba. 

Salah satu contoh 'jurnalis' yang belajar obyektif adalah John Stewart. Komedian yang banyak memprotes kebijakan negerinya sendiri ini pernah mengundang tamu-tamu yang kalau kita lihat dari latar belakangnya bisa jadi bertentangan. yang satu jurnalis Yahudi Amerika, yang satu Palestinian Democratic Leader. Link nya bisa dilihat di sini. Selain itu saya ikutkan juga contoh link dari seorang Yahudi Amerika yang sedang mempelajari apa yang sesungguhnya terjadi yang ternyata bertentangan dengan informasi yang diperolehnya selama ini.

Lalu apa hubungannya dengan kita, yang nota bene Bangsa Indonesia, yang di dalam negeri kita sendiri pun punya segunung masalah? Ngapain repot-repot ngurus negara orang, sementara pekerjaan rumah kita sendiri pun masih butuh pemikiran? Saya sendiri punya dua motivasi menulis mengenai hal ini.

Yang pertama, sebagai seorang Indonesia, saya merasa terbiasa 'menelan' mentah-mentah informasi yang diberikan. Saya lahir dan besar pada saat informasi dikontrol penuh oleh pemerintah. Sehingga saya terbiasa percaya pada satu sumber dan cara berpikir sayapun dibentuk oleh sumber informasi itu. Dari masalah Palestina dan Zionisme ini saya belajar membuka mata dan telinga sebelum berkesimpulan apalagi mengemukakan pendapat. Menghilangkan prasangka sebelum memperoleh informasi yang cukup, apalagi memberikan label. Karena ternyata banyak media Barat, juga media Asia, yang kadang memutarbalikkan pernyataan dan memperkeruh keadaan.

Belakangan saya pun melihat hal itu terjadi di Indonesia. Kita 'termakan' oleh info media lalu ikut-ikutan komentar, lalu akhirnya malah menimbulkan perpecahan di antara kita sendiri. Misalnya soal perbedaan hari raya dijadikan kesempatan untuk menjelek-jelekan satu golongan, padahal kalau kita kembali pada panduan utama kita, masyarakat banyak lah yang harus diutamakan. Jadi pada saat itu, lebih baik kita menelan komentar, pilih salah satu yang paling sreg di hati dan move on.

Yang kedua adalah fakta bahwa kalau ini bisa terjadi di Palestina, tentu bisa juga terjadi di Indonesia. Bayangkan saja, negara kita jumlah rakyatnya yang 300 juta adalah potensi pasar yang luar biasa. Sumber daya alamnya berlimpah ruah, sumber daya manusianya pun berpotensi besar. Banyak yang memiliki kepentingan atas negara kita. Siapa yang mengambil keuntungan terbanyak dari situ, rakyat kita kah? Rasanya bukan. Kalau Bangsa Indonesia bersatu padu, menjadi bangsa yang kuat, pintar dan maju, banyak yang bisa kita capai bahkan melebihi negara Barat. Tapi apakah orang lain akan senang dengan kemjuan kita? Tentu tidak. Mereka akan lebih senang kalau kita terpecah belah, dengan alasan pluralisme dsb.

Lalu berapa banyak dari kita yang merasa tidak tenang di 'rumah' kita sendiri, karena selalu saja ada pihak yang berusaha memecah belah. Sedihnya kadang kita terbawa emosi dan ikut 'menjelek-jelekkan' saudara kita sendiri. Akibatnya satu sama lain penuh prasangka dan senang akan kesulitan saudaranya sendiri. Lalu siapa yang di balik semua itu ternyata diuntungkan? Yang pasti bukan kita...

Apartheid ini menjadi bahaya besar untuk dunia, terutama jika satu golongan merasa lebih berhak atas golongan yang lain. Coba lihat yang terjadi di Colombia hingga ke China. Bukan tidak mungkin kalau di negara kita pun sedang terjadi hal yang sama... Jadi sudah waktunya kita menemukan bentuk yang tepat untuk mengakomodasi perbedaan yang kita punya, tetapi bukan dengan cara mengasimilasi keyakinan satu dengan yang lainnya.

Intinya saya hanya ingin belajar lebih banyak dan dalam lagi, tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia ini. Batas negara sudah menipis, sehingga yang penting adalah memupuk persaudaraan. Jika kita tidak paham betul inti masalahnya, sebaiknya hindari berkomentar yang bisa menyakiti orang lain, apalagi saudara sendiri. Seperti kata Rasulullah, apa kita suka makan bangkai saudara sendiri? Seperti itulah hinanya kita kalau menjelekkan saudara kita di depan orang lain. Kalau pun mau memperbaiki, katakan langsung pada yang bersangkutan, one on one. Persis kalau kita mau mengkoreksi anak kita, jangan salahkan di depan orang lain. Ajak bicara dari hati ke hati, di tempat tertutup supaya hanya ada kita dan sang anak, dan berikan solusi instead of menyalahkan atau menyesali sesuatu yang sudah berlalu.

Sejujurnya, siapa sih yang bisa mengerti betul suatu masalah kalau kita tidak walk in their shoes? Akan sulit memahami kenapa seseorang memilih melakukan satu hal dan bukan hal yang lain, karena sudut pandang tiap orang sangat mungkin berbeda dengan kita. Lebih baik energi kita dipakai untuk mensupport saudara-saudara kita dan keep positive. Hati-hati dengan label yang ditempelkan oleh media, terutama barat, untuk teman atau saudara kita. Selalu berprasangka baik, insya Allah lebih utama. Dan tidak ada satupun orang yang berhak menghakimi pendapat, keyakinan bahkan pilihan orang lain, karena kita bukan pencipta mereka.

3 comments:

re_here said...

media..

hmm, sekarang muslim di dammaj (yaman) sedang dikepung, dibom, diboikot sama syiah. muslim di baghdad juga diteror sama syiah. tp g ada pemberitaan tentang itu. kami malah tahunya dari saudara-saudara yang tinggal di dammaj.

baru2 aja suami nemu 1 berita tentang dammaj. di vivanews.

detik, yahoo, kompas, dan lainnya? ga (belum) ada.

tukangecuprus said...

apalagi media sekarang, terutama tv swasta nasional, di Indonesia itu dimiliki oleh lawan politik pemegang kekuasaan...hehehe. Tau dong artinya?

EPHO's said...

Alhamdulillah kalau yang muda2 juga sudah lebih tahu.
Iya Re, prihatin ya dengernya.
Ragil: makin ruwet?