Wednesday, December 7, 2011

Online Learning

Iya, sejak beberapa minggu terakhir ini hujan turun setiap sore. Yup...every single day!
Lalu kemarin hujan turun sejak pagi. Sama sekali ngga deras, cuma seperti rintik-rintik yang agak besar, tapi teruuuuus menerus. Sejak awal memang terasa ngga enak, karena pagi-pagi cuaca puanas tapi sekitar jam 10 secara ekstrim berubah mendung. Awan terlihat rendah dan berat. Gunung Avilla yang biasanya terlihat di depan mata, tiba-tiba menghilang.

Tahun lalu, hujan seperti ini juga terjadi dan berakibat tanah longsor dan banjir di beberapa states. Lalu sekolah terpaksa diliburkan karena presiden mengeluarkan dekrit, negara dalam keadaan bahaya. Dengan hujan seperti kemarin, banyak terjadi banjir dan beberapa jalanan menjadi super macet. Antrian mobil yang biasanya mengular 30 menit sebelum sekolah bubar, kemarin tidak tampak sama sekali. Banyak orang kesulitan mencapai sekolah karena macet, termasuk akibat pohon tumbang dan menyebabkan seseorang kehilangan nyawa. Sungai besar di tengah kota juga sudah mencapai ketinggian yang luar biasa.


Semalam, resmi diumumkan bahwa hari ini sekolah ditutup di beberapa negara bagian, termasuk tempat kami tinggal. Untungnya ini terjadi kurang dari 10 hari sebelum liburan akhir tahun. Walaupun sebetulnya karena itu semakin banyak tugas-tugas penting menanti anak-anak. Tapi dengan pengalaman tahun lalu, pihak sekolahpun lebih siap dengan online learning mereka. Pagi ini semua bahan pelajaran hari ini sudah siap di website sekolah.

Beberapa kali saya membaca mengenai pro kontra pembelajaran online. Tapi kalau saya boleh jujur, dalam keadaan seperti ini online learning sangat membantu. Paling tidak anak-anak bisa melanjutkan pelajaran di sekolah termasuk menyelesaikan proyek-proyek yang harus dikerjakan sebelum liburan. Walaupun tentu saja tidak ada yang bisa menggantikan sekolah.

Pergi ke sekolah bukan hanya mengajarkan kita untuk belajar secara akademik, tapi juga belajar berinteraksi dengan guru dan teman-teman, serta belajar membentuk suatu komunitas dan sistem yang berlaku didalamnya. Sekolah tidak melulu berarti nilai A atau 100, rangking 1 atau 50. Tapi lebih pada proses belajar seseorang termasuk perkembangan sikap dan perilakunya. Insya Allah suatu hari nanti saya akan cerita juga tentang betapa bedanya pendekatan guru-guru di sekolah anak-anak sekarang dibandingkan dengan pada saat mereka masih sekolah di Indonesia. Yang jelas sih, pendidikan adalah satu-satunya cara untuk memajukan peradaban. No doubt! 


Anyway,  gara-gara sekolah online  ini pula, saya sebagai sang emak ikut jungkir balik jadi guru dadakan di rumah. Persis seperti tahun lalu, tahun ini saya harus belajar matematika untuk kelas 5 dan 2, literatur, ilmu sosial, teknologi, art, musik dan... olah raga!

Kalau sudah begini jadi seperti diingatkan kembali: segala sesuatu yang terjadi pada kita, adalah rencana Allah SWT semata yang biasanya adalah yang terbaik untuk kita. Termasuk bahwa saya harus melepaskan kecintaan terhadap pekerjaan, untuk fokus hanya untuk keluarga. Kalau saya masih harus berbagi konsentrasi dengan yang lain, apa jadinya online learning kita kali ini...


55:18
 Surah Ar Rahman: So which of the favors of your Lord would you deny?
(diambil dari http://quran.com/55)

9 comments:

de said...

tos dulu ah sesama emak jungkir balik jadi guru *_^

Rafa baru selesai Semester Assessment.

Seminggu kemarin susah bener disuruh belajar.

Rafa bilang "aku tuh udah belajar terus di sekolah ma. jangan suruh aku baca buku lagi di rumah. kalo mama mau bikinin soal, aku mau deh kerjain"

Akhirnya emak ngalah, tiap malam bikin 30 soal untuk 1 mata pelajaran.

Bikin 30 soal science in English benar-benar menguras energi *ngelap keringet di jidat*

-de-
www.masrafa.org

EPHO's said...

*tossss jugah, jeng De! Thanks ya dah mampir ke Venezuela...
Hebat euy jeng De, bisa bikin soal sendiri. Aku mah modal googling aja kali. Tp mungkin Rafa bener juga, dia udah disiapin sama sekolahnya jd mama ngga perlu khawatir ;)
Dan itu jg kayaknya beda antara ujian/ulangan di Indonesia dgn di mari. Di sini sang guru cuma kirim email untuk make sure anak-anak malam ini tidur cukup dan besok sarapan yang kumplit *walopun emaknya mah tetep aja deg2an

Arif Chasan said...

hujan itu bikin galau~ *ini bukan curhat!

salam kenal yaa.. salam dari blogfam.. :)

re_here said...

wah, hebat ya di sana sudah bisa online learning. di sini baru jadi wacana di kelas waktu kuliah ^_^
Tapi memang benar, salah satu fungsi sekolah adalah untuk bersosialisasi.

EPHO's said...

Mas Arif Chasan: terima kasih ya sudah mampir ke Caracas..

dek Kirana Reine Khanifa: toss dulu ah! anak UI juga nih? bukannya sudah mulai, walaupun belum full dan bentukny berbeda? terakhir waktu msh kerja di sana sudah mulai dirintis sepertinya.

re_here said...

wah, nyapanya lengkap ^_^

oh.. kalau yang di UI bentuknya bagaimana mbak? hmm, beberapa dosen sih mulai rutin meng-update blognya dengan upload materi-materi kuliah yang diajarkan di kelas. mungkin ini salah satu bentuk online learning juga? jadi mahasiswa yang tidak masuk tetap bisa mengunduh materi kuliah.

*walau sayang juga kalau ga masuk, ga bisa nanya*

isnuansa said...

Pengen juga sih nyekolahin anak di rumah aja, jadi biar bisa deket sama emaknya terus.

Tapi anak saya lagi proses dibikin, Mbak. Semoga nanti kalo sekolah, di Indonesia sudah semua sekolah menerapkan sistem seperti itu.

Salam kenal. ;-)

Arif Chasan said...

hai.. hai.. menyapa di jum'at sore.. XD

EPHO's said...

Iya Re, at least sudah ada alternatif selain tatap muka. Misalnay kalo pas dosen kudu tugas keluar :)

Isnuansa: salam kenal juga, terima kasih d mampir. Hebat euy, dah punya gambaran, bahkas sbl anaknya lahir. Itu baru tob.

Arif: Semoga berkah...