Tuesday, November 15, 2011

Minggu ini dimulai dengan petualangan 5 jam di rumah sakit.
Iya, minggu lalu, Farhan, si sulung, jatuh waktu main sepak bola. Ndilalahnya jatuhnya pas di jari tengahnya. Walhasil terpuntir lah si jari malang itu. Lalu, sebagai orang Indonesia asli yang suka banget dipijit, saya cuma berpikir, mmm...kalau di Indonesia sudah saya bawa ke tukang pijit deh. Tapi setelah beberapa hari, Farhan masih mengeluhkan jarinya itu. Sejak dari jatuh, suster di sekolah sudah memasang splinter  dan membebat tangan kirinya.  Tapi terlihat, di bagian tertentu masih bengkak.

Kebetulan, sehari setelah jatuh, kami sudah mengontak dokter traumatolog dan membuat janji dengannya sore itu. Kok ya sewaktu kami mau berangkat sang suster menelpon untuk memberitahukan bahwa rumah sakit sang dokter sedang mati lampu (?). Dia akan kabari kalau lampunya sudah hidup lagi (saya hampir terguling sewaktu mendengar kabar ini). Sejujurnya, saya ngga yakin mereka akan menelpon balik. Oleh karenanya saya berusaha mencari dokter lain, sebagai cadangan. 

Janji pun dibuat untuk sore keesokan harinya. Sayangnya saya lupa kalau sang suster yang membuatkan janji berkata, dokternya menunggu sekarang. Baru tinggal setahun di Venezuela, saya sudah terbiasa dengan janji yang molor sampai sejam. Jadi saya pikir, saya ngga terlalu telat lah, karena toh saya juga harus menunggu jemputan untuk berangkat ke dokter. Kira-kira 30 menit kemudian kami sampai di rumah sakit dan sempat tertegun melihat lantai yang dituju super sepi. Ternyata oh ternyata sang dokter sudah pergi. Kabarnya dia sudah menunggu terlalu lama (terjungkal lagi lah saya untuk kedua kali).

Hampir saya menyerah dan berharap, Farhan betul-betul hanya terkilir.
Tapi karena memang sudah jalannya, akhirnya berangkatlah kami ke rumah sakit hari Senin kemarin. Setelah sebelumnya membuat janji, walaupun kenyataannya di rumah sakit first come first served. Dokter mulai jam 1, jam 11.30 kami sudah duduk manis di ruang tunggu dan dapat nomor tiga. Singkat cerita, diperiksa oleh dokter, yang dengan senyumannya berkata: kelihatannya semuanya baik-baik saja, tapi kita buat radiograf saja, untuk memastikan. Ok deh... 

Kami pergi ke gedung yang lain untuk pemeriksaan radiografik. Pergi ke satu loket untuk mengambil nomor antrian, tunggu dipanggil berdasarkan nomor untuk pergi ke loket satu untuk mendaftar, lalu duduk lagi dengan nomor antrian untuk dipanggil ke loket lain untuk membayar, lalu duduk lagi untuk menunggu dipanggil pemeriksaan. Pfffhhh..... Sebagai mantan pekerja di klinik Radiologi, saya mengerti betul prosedur pemeriksaan radiografik. Saya pun tidak keberatan menunggu asal semuanya diperlakukan sama dan adil. Setelah menunggu, saya sadar beberapa orang yang membayar setelah saya sudah dipanggil sementara nama anak saya belum juga dipanggil. Jangan-jangan karena namanya sulit diucapkan, lalu dilewatkan? (notes: nama Muhammad ternyata sudah berubah jadi Muhammdad). Jaraaang sekali saya protes untuk urusan seperti ini (lagi-lagi karena saya tahu beban kerja dokter-teknisi-administrator di Radiologi) tapi kalau hanya gara-gara pemeriksaan yang super pelan ini saya jadi ditinggal lagi sama pak dokter, ngga mau ah... Dan ternyata benar lah, nama anak saya tidak ada di daftar mereka, walaupun saya sudah daftar sampai 3 kali. 

Singkat cerita, pemeriksaan radiografik beres karena ada mas-mas teknisi ganteng yang dengan baiknya membantu saya yang susah payah menjelaskan bahwa anak saya terlewat. Kita harus duduk manis sekali lagi menunggu hasil. Sama juga kejadiannya, setelah lama menunggu tidak ada yang memanggil. Terpaksa lah saya tanya ke mbak-mbak yang nangkring di loket pemberi nomor. E lhadalah, kok dia bilang hasilnya akan siap hari Rabu, padahal pak teknisi yang ganteng itu bilang hasilnya sudah siap  diambil (dan ini adalah peristiwa terjungkalnya saya untuk kali ketiga). Ternyata oh ternyata, lagi, setelah pergi bolak-balik antara dua gedung, saya baru tahu kalau kita harus ngotot bilang sama si mbak kalau mau ambil hasilnya sekarang karena pak dokter juga bisa 'baca' hasil radiograf nya. 

Lalu, ketahuan lah kalau di telapak tangan si mas ada tulang yang patah. Yang, alhamdulilllah...., masih diam ditempatnya. Meleset sedikit dari posisinya, operasi lah pilihannya. Alhamdulillah wa syukurillah, walaupun sempat tertunda 5 hari, si mas masih bisa 'tertolong' dengan gips. Insya Allah seminggu lagi diperiksa untuk melihat alignment nya, lalu gips dilanjutkan sampai 4 minggu kemudian.


Pelajaran: 1. Kalau bikin janji dengan rumah sakit/dokter sebaiknya jangan mengandalkan orang lain *walaupun dia bisa berbahasa CastellaƱa dengan baik dan benar. lebih baik dengan bahasa seadanya kita buat janji  sendiri supaya jelas jam dan tempatnya; 2. Datang sepagi mungkin untuk menghindari antrian yang keburu panjang dan resepsionis yang kecapekan karena melayani pasien yang banyak dan (sebagian besar) ngga mau diatur; 3. Walaupun dicuekkin ngototlah bertanya dan say what you need to do walaupun dengan bahasa yang terpatah-patah; 4. Bawa bekal buku, air dan snack (kalau perlu makan siang) plus selimut, dan jangan sekalipun pergi ke kamar kecil atau kantin sewaktu menunggu (karena sekali nama kita dilewatkan, bakal repot menjelaskan lagi ke administratornya, belum lagi dipandang si mbak dengan tatapan yang sedemikian sehingga itu).



2 comments:

de said...

Masya Allah, tangan Farhan bisa sampai patah gitu. Kebayang sakitnya deh, karena de sendiri pernah ngalamin patah di Lumbal 2 dan 3.

Smoga diberikan kesembuhan yang sempurna yah. Biar mas Farhan bisa cepat aktif lagi.

-de-
www.masrafa.org

EPHO's said...

tante De, ini mah bukan apa2 dibandingkan dengan yang tante De alami. terima kasih doanya ya...
tante De juga semoga selalu sehat ya, biar jangan datang lagi sakitnya. Aamiin...