Thursday, November 3, 2011

Forbidden Words

Di keluarga kecil Baskara ini ada beberapa kata yang dilarang untuk diucapkan demi kemaslahatan bersama. Yang pertama kali di banned dulu adalah kata 'tidak' or 'no' or semua yg berbau itu. Waktu itu kita masih di Trinidad dan anak2 juga sedang belajar mengelola uang (yang biasanya didapat dari hadiah).

Jadi kata 'tidak' itu dilarang untuk diucapkan, dan kita semua 'dipaksa' untuk mikir mencari pengganti kalimatnya. Karena kalau kedapatan bilang "enggak/tidak/ogah, dll" didenda 5 TT dollar. Uangnya kita masukkan ke dalam jar, nanti bisa dipakai untuk semua anggota keluarga. Walhasil misalnya kalau ditanya "Adek mau makan sekarang?", dia harus ganti "enggak" (in case dia masih kenyang) dengan "Mmm, mungkin setengah jam lagi, ma" atau "Aku masih kenyang ma, nanti malam aja ya." Sounds better, doesn't it? Atau kalau ada yang lagi iseng nanya "Menurutmu makan es krim terus-terusan itu baik buat kesehatan?", instead of bilang "Jelas enggak dong" kita terpaksa mikir dan memoles jawaban menjadi "Es krim itu sih dari susu ya, jadi ada juga manfaatnya. Tapi kalau terus-terusan kan bosen juga dan kalau kebanyakan minimal bikin sakit perut kekenyangan."

Hasilnya? Lumayan, bahkan emak bapaknya pun belajar muter otak dulu sebelum jawab. Kita jadi kreatif dan respon kita pun jadi bisa lebih dipertanggungjawabkan, ngga terlalu emosional. Untuk anak-anak sih sebetulnya kita cuma pengen mereka punya pikiran yang terbuka, bahwa semua itu mungkin dan bahwa bisa jadi ada cara lain di luar yang kita pikirkan atau yang lazim saat ini. Hasil denda? Lumayan juga buat makan es krim Minggu sore di kedai Haagendazs sono :)

Setelah pindah ke Venezuela, kata yang di banned sedikit berubah. Karena ternyata di sini morat maritnya kondisi di jalan, di pasar, di kantor, dll, adalah karena ke'cuek'an sebagian besar penduduknya. Mereka ngga peduli dengan kepentingan orang lain, apalagi orang banyak. Yang paling penting adalah saya, saya dan saya. Kalau saya lagi naik mobil, tiba-tiba ketemu teman lagi jalan di tikungan, ya berhenti aja ngobrol dulu. Ada orang lain ngantri di belakang? Mmh.. ngga keliatan tuh.  Walhasil kalimat I don't care sedang dilarang di rumah ini.

Kalimat lain yang juga dilarang disebut adalah  I don't know. Persamaannya kedua kalimat itu bikin otak berhenti kerja dan berhenti cari solusi. Belum apa-apa mosok bilang ngga tahu. Gw inget di Jakarta, kalau kita pengen utak atik komputer trus nanya ke Glodok, bang gue pengen laptop gw lebih cepet nih, diapain ya enaknya. Besar kemungkinan si abang akan merespon positif. O, diginiin aja neng, digedein anunya atau diganti itunya. Kalo ini ongkosnya segini kalo anu ongkosnya seginu. Nanti kalau ada masalah belakangan, pasti deh si itu abang (90%) puter otak sampe nemuin cara supaya bisa bantu konsumennya. Lah di sini, mau unlock telepon, belum apa-apa udah, wah ini susah, soalnya hape ini ngga lazim di sini. Lagian colokannya juga beda, warnanya beda pula sama yang biasa beredar di sini. Semua alesan dijembreng. Once again, ngga semua orang begitu sih, tapi suka sedih aja liatnya. Belum apa-apa udah nyerah. Mungkin kebiasaan kalau di sini, semuanya diopenin pemerintah, jadi rakyatnya ngga kreatif untuk survive dan mandiri.

Lalu, tiba-tiba terdengar kalimat I don't care dari ibu-ibu di sekitar ku. Hwarakadah... Untungnya karena teman dekat, keluar juga 'teguran' halus dari mulut " Tahu ngga, kayaknya lebih baik kamu kurangi bilang I don't care terutama di depan anak-anak." Tapi tetep aja, ya kalo orang tua aja masih mbubal-mbubal bilang don't care etc, lalu gimana anak-anak ini sepuluh tahun dari sekarang... O dear...

5 comments:

tukangecuprus said...

Keren! Boleh gw share artikel yang ini?

EPHO's said...

Wah Gil, it's an honor ;) Sorry ya, notifikasi komen lo baru nongol, nih.

de said...

Gara-gara Ragil jadi ikut baca. Keren banget mbak. Thanks for sharing yaa.

Smoga de bisa menerapkan juga ke anak2.

-de-
www.masrafa.org

de said...

Gara-gara Ragil jadi ikut baca ini. Keren mbak!

Thanks for sharing yah.

Smoga de bisa menerapkan jg untuk anak2 dirumah.

-de-
www.masrafa.org

EPHO's said...

Jeng De, terima kasih sudah mampir ya... You know the best for your kids, for sure.