Monday, November 28, 2011

It's been bumpy.
Good news, bad news, back and forth, many things clashed.
Just a test for a mind, to choose which one is important.
Prioritize things in life, as simple as prioritize what I want to do first:
cleaning the house, update my blog, or else ;)
Have a great week!

One thing learned.
Be thankful for the people that try to put you down, because little do they know it makes you that much stronger as a person (TLS).

Tuesday, November 15, 2011

Minggu ini dimulai dengan petualangan 5 jam di rumah sakit.
Iya, minggu lalu, Farhan, si sulung, jatuh waktu main sepak bola. Ndilalahnya jatuhnya pas di jari tengahnya. Walhasil terpuntir lah si jari malang itu. Lalu, sebagai orang Indonesia asli yang suka banget dipijit, saya cuma berpikir, mmm...kalau di Indonesia sudah saya bawa ke tukang pijit deh. Tapi setelah beberapa hari, Farhan masih mengeluhkan jarinya itu. Sejak dari jatuh, suster di sekolah sudah memasang splinter  dan membebat tangan kirinya.  Tapi terlihat, di bagian tertentu masih bengkak.

Kebetulan, sehari setelah jatuh, kami sudah mengontak dokter traumatolog dan membuat janji dengannya sore itu. Kok ya sewaktu kami mau berangkat sang suster menelpon untuk memberitahukan bahwa rumah sakit sang dokter sedang mati lampu (?). Dia akan kabari kalau lampunya sudah hidup lagi (saya hampir terguling sewaktu mendengar kabar ini). Sejujurnya, saya ngga yakin mereka akan menelpon balik. Oleh karenanya saya berusaha mencari dokter lain, sebagai cadangan. 

Janji pun dibuat untuk sore keesokan harinya. Sayangnya saya lupa kalau sang suster yang membuatkan janji berkata, dokternya menunggu sekarang. Baru tinggal setahun di Venezuela, saya sudah terbiasa dengan janji yang molor sampai sejam. Jadi saya pikir, saya ngga terlalu telat lah, karena toh saya juga harus menunggu jemputan untuk berangkat ke dokter. Kira-kira 30 menit kemudian kami sampai di rumah sakit dan sempat tertegun melihat lantai yang dituju super sepi. Ternyata oh ternyata sang dokter sudah pergi. Kabarnya dia sudah menunggu terlalu lama (terjungkal lagi lah saya untuk kedua kali).

Hampir saya menyerah dan berharap, Farhan betul-betul hanya terkilir.
Tapi karena memang sudah jalannya, akhirnya berangkatlah kami ke rumah sakit hari Senin kemarin. Setelah sebelumnya membuat janji, walaupun kenyataannya di rumah sakit first come first served. Dokter mulai jam 1, jam 11.30 kami sudah duduk manis di ruang tunggu dan dapat nomor tiga. Singkat cerita, diperiksa oleh dokter, yang dengan senyumannya berkata: kelihatannya semuanya baik-baik saja, tapi kita buat radiograf saja, untuk memastikan. Ok deh... 

Kami pergi ke gedung yang lain untuk pemeriksaan radiografik. Pergi ke satu loket untuk mengambil nomor antrian, tunggu dipanggil berdasarkan nomor untuk pergi ke loket satu untuk mendaftar, lalu duduk lagi dengan nomor antrian untuk dipanggil ke loket lain untuk membayar, lalu duduk lagi untuk menunggu dipanggil pemeriksaan. Pfffhhh..... Sebagai mantan pekerja di klinik Radiologi, saya mengerti betul prosedur pemeriksaan radiografik. Saya pun tidak keberatan menunggu asal semuanya diperlakukan sama dan adil. Setelah menunggu, saya sadar beberapa orang yang membayar setelah saya sudah dipanggil sementara nama anak saya belum juga dipanggil. Jangan-jangan karena namanya sulit diucapkan, lalu dilewatkan? (notes: nama Muhammad ternyata sudah berubah jadi Muhammdad). Jaraaang sekali saya protes untuk urusan seperti ini (lagi-lagi karena saya tahu beban kerja dokter-teknisi-administrator di Radiologi) tapi kalau hanya gara-gara pemeriksaan yang super pelan ini saya jadi ditinggal lagi sama pak dokter, ngga mau ah... Dan ternyata benar lah, nama anak saya tidak ada di daftar mereka, walaupun saya sudah daftar sampai 3 kali. 

Singkat cerita, pemeriksaan radiografik beres karena ada mas-mas teknisi ganteng yang dengan baiknya membantu saya yang susah payah menjelaskan bahwa anak saya terlewat. Kita harus duduk manis sekali lagi menunggu hasil. Sama juga kejadiannya, setelah lama menunggu tidak ada yang memanggil. Terpaksa lah saya tanya ke mbak-mbak yang nangkring di loket pemberi nomor. E lhadalah, kok dia bilang hasilnya akan siap hari Rabu, padahal pak teknisi yang ganteng itu bilang hasilnya sudah siap  diambil (dan ini adalah peristiwa terjungkalnya saya untuk kali ketiga). Ternyata oh ternyata, lagi, setelah pergi bolak-balik antara dua gedung, saya baru tahu kalau kita harus ngotot bilang sama si mbak kalau mau ambil hasilnya sekarang karena pak dokter juga bisa 'baca' hasil radiograf nya. 

Lalu, ketahuan lah kalau di telapak tangan si mas ada tulang yang patah. Yang, alhamdulilllah...., masih diam ditempatnya. Meleset sedikit dari posisinya, operasi lah pilihannya. Alhamdulillah wa syukurillah, walaupun sempat tertunda 5 hari, si mas masih bisa 'tertolong' dengan gips. Insya Allah seminggu lagi diperiksa untuk melihat alignment nya, lalu gips dilanjutkan sampai 4 minggu kemudian.


Pelajaran: 1. Kalau bikin janji dengan rumah sakit/dokter sebaiknya jangan mengandalkan orang lain *walaupun dia bisa berbahasa CastellaƱa dengan baik dan benar. lebih baik dengan bahasa seadanya kita buat janji  sendiri supaya jelas jam dan tempatnya; 2. Datang sepagi mungkin untuk menghindari antrian yang keburu panjang dan resepsionis yang kecapekan karena melayani pasien yang banyak dan (sebagian besar) ngga mau diatur; 3. Walaupun dicuekkin ngototlah bertanya dan say what you need to do walaupun dengan bahasa yang terpatah-patah; 4. Bawa bekal buku, air dan snack (kalau perlu makan siang) plus selimut, dan jangan sekalipun pergi ke kamar kecil atau kantin sewaktu menunggu (karena sekali nama kita dilewatkan, bakal repot menjelaskan lagi ke administratornya, belum lagi dipandang si mbak dengan tatapan yang sedemikian sehingga itu).



Wednesday, November 9, 2011

Shaggy and Squeaky

Anak-anak belajar punya binatang peliharaan sejak pindah ke Venezuela. Setelah ikan, Goldy and Swimmy, kami dapat 'hibah'an hamster dari salah satu guru di sekolah. Namanya Shaggy, karena kalau jalan egal-egol. Kalau ngga salah, si Shaggy ini jantan. 

Lalu setelah beberapa bulan Farhan berinisiatif untuk beli satu hamster lagi, dengan uangnya sendiri, sebagai teman untuk Shaggy. Katanya kasihan Shaggy luntang lantung sendirian di kandangnya. Satu-satunya permintaan kita adalah kalau bisa teman si Shaggy itu pejantan juga. Karena hamster kalau sudah beranak, repot dah. And we thought we smart enough ;)

Lalu singkat cerita kita dapat si Squeaky, yg kata penjualnya baron alias jantan juga. Squeaky ini lebih muda dari Shaggy. Waktu mereka ketemu untuk pertama kali, si Squeaky njerit sampai njomplang, makanya dikasih nama Squeaky. Ok deh, dan begitulah mereka berteman dan bergaul seperti layaknya hamster.

Beberapa hari yang lalu Arif diminta Farhan untuk memberi makan hamster2nya. Karena kita tinggal di apartemen, hamster kita taruh dekat laundry room. Kalau dijaga kebersihannya, mereka ngga bau kok. Lalu ngga lama Arif jerit sekenceng-kencengnya. Katanya, ma I think I saw a baby! Lah, ngga mungkin lah dek, kan dua-duanya cowok. Really ma, it's small and red! Ay ay ay.... apa-apaan nih. Waktu kita cek sama-sama, pemandangan yang terlihat adalah si Squeaky terkapar, posisi mlumah, dengan sepotong daging yang masih merah diperutnya. Subhanallah, ternyata dia baru melahirkan. Lalu karena dari awal kita punya komitmen bahwa yang mengurus semua binatang peliharaan adalah anak-anak, mama doesn't want to put a hand on it. Waktu Farhan re-check, dia bilang ngga ada tuh bayi. Sampe si adek bilang bolak-balik, bener mas, aku lihat bayi. Wah, yang paling gw takuti kalau ada kanibalisme, karena si baby hamster itu super kecil lalu dikira makanan sama hamster yang besar. 

Setelah beberapa hari, giliran Farhan yang menjerit, ma, ternyata anak hamsternya ada tiga (ha?) And they are so cute! They have fur, now.

Ough! Rasanya pengen  nimpuk penjual hamster yang dengan pedenya bilang si, esta un baron. Baron sama baron  mana bisa bikin anak... They are cute indeed, but now we have 5 hamsters in one year!!!

Squeaky

Monday, November 7, 2011

What plan do we have for the next 20 years

Barusan nonton Everybody's Fine nya Robert de Niro. Sediiih deh....
Terutama pas si Robert nengok satu-satu anaknya, tanpa pemberitahuan to surprise them. Sayangnya 'reaksi' anak-anak itu dan kondisi mereka ternyata kadang ngga sesuai dengan apa yang dibayangkan si ayah ini sebelumnya. Tapi ini bukan resensi film, karena gw lagi kepikiran, what will I do if I am in his position (yaitu bapak yang di'cuek'in anaknya karena semua sibuk dengan hidupnya masing-masing).

Lalu jadi ingat omongan bareng suami beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir ini. Basically suami selalu menekankan, sejak kita punya anak pertama kali, bahwa anak-anak kita akan punya kehidupannya sendiri. Dan kita sebaiknya sejak awal membiasakan diri membiarkan mereka membuat keputusan sendiri dan tidak mencampuri urusan mereka.
Lalu pertanyaannya, jadi setelah kita ngurus anak, insya Allah, sampai mereka 'mentas' lalu mereka punya keluarga sendiri dan sibuk dengan kehidupan mereka nanti, insya Allah, terus kita ngapain dong?

What a tough question. At least for me, who now spend most of my time with my kids. I know one thing though, for now, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah....




Thursday, November 3, 2011

Forbidden Words

Di keluarga kecil Baskara ini ada beberapa kata yang dilarang untuk diucapkan demi kemaslahatan bersama. Yang pertama kali di banned dulu adalah kata 'tidak' or 'no' or semua yg berbau itu. Waktu itu kita masih di Trinidad dan anak2 juga sedang belajar mengelola uang (yang biasanya didapat dari hadiah).

Jadi kata 'tidak' itu dilarang untuk diucapkan, dan kita semua 'dipaksa' untuk mikir mencari pengganti kalimatnya. Karena kalau kedapatan bilang "enggak/tidak/ogah, dll" didenda 5 TT dollar. Uangnya kita masukkan ke dalam jar, nanti bisa dipakai untuk semua anggota keluarga. Walhasil misalnya kalau ditanya "Adek mau makan sekarang?", dia harus ganti "enggak" (in case dia masih kenyang) dengan "Mmm, mungkin setengah jam lagi, ma" atau "Aku masih kenyang ma, nanti malam aja ya." Sounds better, doesn't it? Atau kalau ada yang lagi iseng nanya "Menurutmu makan es krim terus-terusan itu baik buat kesehatan?", instead of bilang "Jelas enggak dong" kita terpaksa mikir dan memoles jawaban menjadi "Es krim itu sih dari susu ya, jadi ada juga manfaatnya. Tapi kalau terus-terusan kan bosen juga dan kalau kebanyakan minimal bikin sakit perut kekenyangan."

Hasilnya? Lumayan, bahkan emak bapaknya pun belajar muter otak dulu sebelum jawab. Kita jadi kreatif dan respon kita pun jadi bisa lebih dipertanggungjawabkan, ngga terlalu emosional. Untuk anak-anak sih sebetulnya kita cuma pengen mereka punya pikiran yang terbuka, bahwa semua itu mungkin dan bahwa bisa jadi ada cara lain di luar yang kita pikirkan atau yang lazim saat ini. Hasil denda? Lumayan juga buat makan es krim Minggu sore di kedai Haagendazs sono :)

Setelah pindah ke Venezuela, kata yang di banned sedikit berubah. Karena ternyata di sini morat maritnya kondisi di jalan, di pasar, di kantor, dll, adalah karena ke'cuek'an sebagian besar penduduknya. Mereka ngga peduli dengan kepentingan orang lain, apalagi orang banyak. Yang paling penting adalah saya, saya dan saya. Kalau saya lagi naik mobil, tiba-tiba ketemu teman lagi jalan di tikungan, ya berhenti aja ngobrol dulu. Ada orang lain ngantri di belakang? Mmh.. ngga keliatan tuh.  Walhasil kalimat I don't care sedang dilarang di rumah ini.

Kalimat lain yang juga dilarang disebut adalah  I don't know. Persamaannya kedua kalimat itu bikin otak berhenti kerja dan berhenti cari solusi. Belum apa-apa mosok bilang ngga tahu. Gw inget di Jakarta, kalau kita pengen utak atik komputer trus nanya ke Glodok, bang gue pengen laptop gw lebih cepet nih, diapain ya enaknya. Besar kemungkinan si abang akan merespon positif. O, diginiin aja neng, digedein anunya atau diganti itunya. Kalo ini ongkosnya segini kalo anu ongkosnya seginu. Nanti kalau ada masalah belakangan, pasti deh si itu abang (90%) puter otak sampe nemuin cara supaya bisa bantu konsumennya. Lah di sini, mau unlock telepon, belum apa-apa udah, wah ini susah, soalnya hape ini ngga lazim di sini. Lagian colokannya juga beda, warnanya beda pula sama yang biasa beredar di sini. Semua alesan dijembreng. Once again, ngga semua orang begitu sih, tapi suka sedih aja liatnya. Belum apa-apa udah nyerah. Mungkin kebiasaan kalau di sini, semuanya diopenin pemerintah, jadi rakyatnya ngga kreatif untuk survive dan mandiri.

Lalu, tiba-tiba terdengar kalimat I don't care dari ibu-ibu di sekitar ku. Hwarakadah... Untungnya karena teman dekat, keluar juga 'teguran' halus dari mulut " Tahu ngga, kayaknya lebih baik kamu kurangi bilang I don't care terutama di depan anak-anak." Tapi tetep aja, ya kalo orang tua aja masih mbubal-mbubal bilang don't care etc, lalu gimana anak-anak ini sepuluh tahun dari sekarang... O dear...