Wednesday, January 12, 2011

Repost tanpa judul
Setelah 5 bulan tinggal di negara Pak C ini, semakin terasa nikmatnya tinggal di Indonesia. Iya, separah-parahnya negaraku itu, temasuk cerita Gayus yang jayus dan memalukan plus Timnas yang handal tapi direcokin urusan ngga penting, ternyata kepastian dan rasa aman masih ada di sana. Asal siap kerja keras, berusaha dan berdoa habis-habisan, insya Allah ada jalan dan akan berubah menjadi lebih baik. Walaupun perlu waktu dan kesabaran. Seperti janji Allah SWT:  "ALLAH tdk mengubah keadaan suatu kaum kecuali ikhtiar mereka"(QS 13;11) dan "Siapa tawakkal kpd Allah mk ALLAH menyelesaikn urusannya".(QS 65;3)." (miturut ausiyah Pak Uztad Arifin Ilham)
Seringkali ikut prihatin dan sedih, harga barang naik hampir tiap bulan, properti dan harta benda pribadi diambil alih tanpa ganti rugi, demikian juga perusahaan2 privat yang dinasionalisasi, termasuk bank, dll. Jadi kalau bank saja diambil alih dengan alasan terlalu banyak untung, lalu gimana perekonomian mau maju. Jangankan pengusaha kecil dan menengah, pengusaha yg terbilang mapan pun pikir-pikir mau melanjutkan usaha atau balik kanan maju jalan.
Dari segi kepastian hukum, rasanya Indonesia masih lebih baik. Contoh nyata bikin SIM di Indonesia, ngga perlu pakai calo juga bisa, karena prosedurnya jelas, paling-paling bete ngantrinya. Ada sih oknum2 yang masih minta sogokan, tapi itu lebih ke personalnya. Itikad untuk bebersih dan bebenah sudah kelihatan di mana-mana. Dan ajaibnya di Indonesia selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah. Solution oriented, begitu kira-kira, dan itu tertanam di segala lapisan. Makanya kadang daging rusak aja masih bisa 'diutak-atik' supaya kelihatan bagus dan bisa dijual lagi... NGutak atik juga tapi kebangetan banget, dan sedihnya gw rasa karena mereka kurang pintar dan belum tahu aja akibatnya. Lebih kelihatan lagi kalau belanja komputer dan pernak perniknya di glodok tuh. Semua bisa diutak-atik :) Jadi semangat "yes we can" nya udah ada, cuma harus  dibenerin juga dengan edukasi, biar kalo ngutak ngatik apapun pakai hati dan otak, dan ngga berbahaya untuk orang lain.
Di negara Pak C ini, syarat-syarat untuk ambil SIM saja bisa berubah tiba-tiba dari yang tercantum resmi di website, sesuka pegawai yang melayani. Kalau ngga mau dipersulit ya bayar. Tapi kalaupun bayar, ngga bisa cuma bayar satu dua orang aja, alias kudu nyogok sistemik sak kantor. Mana mau perusahaan2 yang 'normal' mempertaruhkan nama baik, cuma untuk nyogok departemen ttt..
Yang bikin gue concern juga adalah sikap penduduk yang careless dan inconsiderate. Walaupun sebetulnya bisa jadi mereka juga jadi begini karena kondisi membuat mereka jadi begitu. Tapi ya kok bisa gitu lo, berhenti passss di pojokan prapatan dan ngga pakai minggir. Atau nyeruduk antrian,  atau contoh2 being egois yg lain. Gw rasa di Indonesia juga masih ada yang begitu, tapi biasanya kalo mobilnya dah kelas berat jarang ketemu yg parah. Maksudnya, tingkat pendidikan dan kesejahteraan biasanya tercermin dari kelakuannya. Ya ngga? Nah kalo di sini, mobilnya mobil gedhe yg bensinya mesti diisi 2 hari sekali,  yang wanitah pakai tas/sepatu/baju designer  yang ngga murah, yang laki juga pakai jas perlente dan gadget terbaru, tapi nyelonong ya nyelonong wae..dan ngga ada tuh mikirin akibatnya untuk org lain.
Jadi kebayang kan, kalau sebagian besar orang cuma mikirin diri sendiri, siapa terus yang ngurusin rakyat? Padahal yang kena imbas inflasi ya rakyat. Yang kena imbas perusahaan2 dinasionalisasi ya rakyat, yang kena akibat eksport turun import naik, ya rakyat. Tapi giliran rakyat susah, mereka malah dipakai untuk cari popularitas dan menekan org2 yang pro kapitalis (fyi, koran banjir sekarang dibuatkan tenda2 di lapangan golf privat. Padahal masuk rumah ibadah, yang manapun: gereja, masjid, dll, juga bisa. malah atapnya lebih permanen dan sudah ada fasilitas umum: toilet, dll,  atau  bisa juga kan pakai stadium untuk menampung sementara rumah2nya sedang dibangun, plus alternatif lain yang manfaatnya lebih kelihatan daripada mudharatnya yaitu menyusahkan orang)
Dari segi ilmu politik or else, gw ngga tahu mana yang lebih baik. Tapi yang manapun ism yang dianut, asal masih pakai hati dan takut Tuhan kita yang satu, mestinya semua akan jadi lebih baik. Cuma kalau presidennya marah-marah terus dan semua orang dianggap musuh, dan yang dikobarkan semangat membenci golongan yang ngga sejalan, ya kapan kerja dan moving forwardnya...

Jadi mari mulai bekerja dengan pintar, mulai dari diri sendiri, mulai saat ini juga dan banyak-banyak berdoa agar Allah SWT memperbaiki kualitas negara kita. Indonesia, I love you full..

No comments: