Thursday, December 22, 2011

Kado untuk Mama

Ibu saya terkenal sebagai dosen super galak di kampusnya. Sebagai anaknya saya sih ngga menyalahkan mahasiswanya yang suka ngeper kalau sampai dipanggil menghadapnya. Hehehe... Panas dingin bok, kalo sudah satu lawan satu :)

Tapi seperti juga ibu yang lainnya, termasuk saya yg juga seringkali kejaaam, galak bukan berarti ngga sayang kan. Kegalakannya semata karena beliau ingin anak-anaknya berhasil dunia akhirat, termasuk anak didiknya. Saya banyak dibantu beliau dalam mengambil keputusan penting dalam hidup, termasuk pada saat saya memutuskan untuk mengikuti jejaknya sebagai dosen di almamater saya. Walaupun sebetulnya saya bisa mandiri dan bekerja sesuai profesi, bekerja di kampus terasa begitu menyenangkan dan memenuhi idealisme saya.

Entah kenapa, walaupun sudah bekerja dobel, di kampus dan di rumah sakit, mama selalu mengingatkan saya untuk banyak-banyak menulis. "Sambil nunggu pasien kan bisa sambil corat-coret, Vy"... Padahal kalau laporan penelitian atau jurnal ilmiah sih ada juga beberapa yang terbit di majalah nasional. Tapi tulisan itu belum dihitung mama sebagai tulisan saya, somehow...

Belakangan setelah cuti (panjang) dari profesi, lalu mengenal blog (thanks to Ragil Duta yang sudah menjadi contoh) dan multiply (thanks to Adekku yang sudah mempeloporinya lebih dulu), dll, alhamdulillah muncul beberapa peluang menjadi penulis bayangan (via audisi) di buku-buku terbitan penulis-penulis wanita yang handal, sampai terakhir muncul tawaran untuk ikut mengisi artikel di sebuah majalah online. Itulah saatnya saya diingatkan kembali, bahwa hidup kita sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur. 

Founder majalah online ini adalah kawan saya di benua kangguru yang prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia, lalu bergabung dengan kawan saya yang lain sebagai Chief Editor yang juga ahli di bidang pendidikan, dan merekrut jurnalis-jurnalis muda berbakat yang sama-sama berambisi mencerdaskan kehidupan bangsa lewat tulisan. Saya sendiri masih harus belajar banyak, tapi sebagai 'mantan pendidik' saya merasa inilah outlet terbaik yang sejalan dengan passion. Walaupun saya belum bisa menulis artikel serius mengenai pendidikan dan hanya mulai dari jurnal perjalanan.

Insya Allah, keyakinan saya hanya satu. Bahwa oleh Rasulullah, dicontohkan bahwa salah satu kewajiban kita adalah iqra, membaca ilmu Allah SWT yang bertebaran di muka bumi. Sehingga semoga jurnal ini bisa membantu kita membaca dan mempelajari tanda-tanda kebesaranNya, bahkan di tempat-tempat yang terasa jauh dari peradaban.

Dan setelah klik tombol publish, langsung saya lapor ke mama dan kasih linknya di sini: 
Surprise... beliau terdengar senang! 
Akhirnyaa... bisa juga saya kasih kado istimewa untuknya. Alhamdulillah...

Ini foto mama papa dengan cucu-cucunya

Saturday, December 10, 2011

Why should I care

Beberapa tahun terakhir ini saya baru sadar bahwa only bad news spread around. Bahwa being objective is almost impossible. Bahwa pemberitaan tidak bisa kita telan mentah-mentah, karena kita harus tahu latar belakang pembawa berita, kepentingannya dan siapa orang-orang di belakang mereka. Bahwa kita harus selalu hati-hati dalam mencerna pemberitaan, karena seringkali itu adalah cerminan pendapat penulisnya dan bisa jadi bukan fakta sebenarnya. Itu sebabnya cross checking menjadi penting, di samping ilmu riset.

Soal Indonesia saja, kebanyakan berita yang beredar masih saja seputar teroris, kemiskinan, korupsi, dll. Ke mana berita jago-jago dan ilmuwan-ilmuwan luar biasa yang menang olimpiade atau perancang-perancang Indonesia yang berhasil mempromosikan batik dan konveksi dalam negeri ke luar atau animator-animator handal atau engineer-engineer pintar yang  dihire universitas atau perusahaan di luar negeri? Hampir ngga ada. Konyolnya kita sendiri terbiasa melihat kekurangan bangsa sendiri, sampai kesulitan mencari segi positifnya.

Tiga tahun yang lalu saya ingat seorang kawan ekspat menuturkan bahwa penempatan di Indonesia bagi mereka itu seperti hidden treasure. Yang resmi tercantum di laporan perusahaan adalah Indonesia yang 'berbahaya' dengan segala resikonya. Akibatnya hardship factor Indonesia cukup tinggi dan memberikan benefit lebih untuk ekspat. Padahal, sejatinya, tinggal di Jakarta atau Balikpapan atau Riau, ibarat hidup seperti raja/ratu. Biaya hidup begitu murah, sumber daya manusia mudah dicari, budayanya begitu kaya sekaligus modern. Ibaratnya selama penempatan di Indonesia, mereka bisa menabung banyak dengan tetap bergaya hidup yang cukup nyaman. Gimana ngga nyaman, pembantu, babby sitter, supir, tukang kebun dll, semuanya bersedia dibayar dengan gaji murah. Padahal kalau mereka perlu barang-barang import, tinggal pergi ke supermarket pun sudah tersedia. Jadi sebelah mana hardship nya? Paling-paling kena macet atau kesulitan komunikasi di pasar.

Lalu kenapa saya ujug-ujug ngomong Palestina? Ya karena ndilalahnya saya dapat informasi yang terus terang sangat memprihatinkan. Lebih menyedihkan karena banyak orang, bahkan sesama muslim, masih belum mengetahui kisah sebenarnya dan keburu frustasi dengan masalah yang sejak lama tidak terselesaikan. Seringkali kalau ada kawan posting soal Palestina ada saja yang komentar: urusan dalam negeri aja masih setumpuk, ngapain ngurus negara orang.

Kalau menurut saya, salah satu pelajaran terpenting dari Palestina adalah bahwa berita tidak seluruhnya bisa dipercaya dan kewajiban kita sebagai manusia untuk menggunakan akal dan pikiran untuk menelaah setiap informasi yang kita terima sebelum bereaksi terhadapnya.

Banyak penduduk Israel, penganut Yahudi atau Kristiani, yang malah memilih mencari informasi lebih banyak, mempelajari dan mencari duduk persoalannya sampai ke riwayat sejarah pertikaian yang tidak kunjung selesai ini. Di dalam negeri mereka sendiri terjadi banyak perdebatan soal invasi dan apartheid yang dilakukan kamu Zionis. Hanya saja, bisakah kita lihat berita-berita itu di media? Hampir pasti, tidak. Seluruh berita yang keluar cenderung memihak atau bahkan mengadu domba. 

Salah satu contoh 'jurnalis' yang belajar obyektif adalah John Stewart. Komedian yang banyak memprotes kebijakan negerinya sendiri ini pernah mengundang tamu-tamu yang kalau kita lihat dari latar belakangnya bisa jadi bertentangan. yang satu jurnalis Yahudi Amerika, yang satu Palestinian Democratic Leader. Link nya bisa dilihat di sini. Selain itu saya ikutkan juga contoh link dari seorang Yahudi Amerika yang sedang mempelajari apa yang sesungguhnya terjadi yang ternyata bertentangan dengan informasi yang diperolehnya selama ini.

Lalu apa hubungannya dengan kita, yang nota bene Bangsa Indonesia, yang di dalam negeri kita sendiri pun punya segunung masalah? Ngapain repot-repot ngurus negara orang, sementara pekerjaan rumah kita sendiri pun masih butuh pemikiran? Saya sendiri punya dua motivasi menulis mengenai hal ini.

Yang pertama, sebagai seorang Indonesia, saya merasa terbiasa 'menelan' mentah-mentah informasi yang diberikan. Saya lahir dan besar pada saat informasi dikontrol penuh oleh pemerintah. Sehingga saya terbiasa percaya pada satu sumber dan cara berpikir sayapun dibentuk oleh sumber informasi itu. Dari masalah Palestina dan Zionisme ini saya belajar membuka mata dan telinga sebelum berkesimpulan apalagi mengemukakan pendapat. Menghilangkan prasangka sebelum memperoleh informasi yang cukup, apalagi memberikan label. Karena ternyata banyak media Barat, juga media Asia, yang kadang memutarbalikkan pernyataan dan memperkeruh keadaan.

Belakangan saya pun melihat hal itu terjadi di Indonesia. Kita 'termakan' oleh info media lalu ikut-ikutan komentar, lalu akhirnya malah menimbulkan perpecahan di antara kita sendiri. Misalnya soal perbedaan hari raya dijadikan kesempatan untuk menjelek-jelekan satu golongan, padahal kalau kita kembali pada panduan utama kita, masyarakat banyak lah yang harus diutamakan. Jadi pada saat itu, lebih baik kita menelan komentar, pilih salah satu yang paling sreg di hati dan move on.

Yang kedua adalah fakta bahwa kalau ini bisa terjadi di Palestina, tentu bisa juga terjadi di Indonesia. Bayangkan saja, negara kita jumlah rakyatnya yang 300 juta adalah potensi pasar yang luar biasa. Sumber daya alamnya berlimpah ruah, sumber daya manusianya pun berpotensi besar. Banyak yang memiliki kepentingan atas negara kita. Siapa yang mengambil keuntungan terbanyak dari situ, rakyat kita kah? Rasanya bukan. Kalau Bangsa Indonesia bersatu padu, menjadi bangsa yang kuat, pintar dan maju, banyak yang bisa kita capai bahkan melebihi negara Barat. Tapi apakah orang lain akan senang dengan kemjuan kita? Tentu tidak. Mereka akan lebih senang kalau kita terpecah belah, dengan alasan pluralisme dsb.

Lalu berapa banyak dari kita yang merasa tidak tenang di 'rumah' kita sendiri, karena selalu saja ada pihak yang berusaha memecah belah. Sedihnya kadang kita terbawa emosi dan ikut 'menjelek-jelekkan' saudara kita sendiri. Akibatnya satu sama lain penuh prasangka dan senang akan kesulitan saudaranya sendiri. Lalu siapa yang di balik semua itu ternyata diuntungkan? Yang pasti bukan kita...

Apartheid ini menjadi bahaya besar untuk dunia, terutama jika satu golongan merasa lebih berhak atas golongan yang lain. Coba lihat yang terjadi di Colombia hingga ke China. Bukan tidak mungkin kalau di negara kita pun sedang terjadi hal yang sama... Jadi sudah waktunya kita menemukan bentuk yang tepat untuk mengakomodasi perbedaan yang kita punya, tetapi bukan dengan cara mengasimilasi keyakinan satu dengan yang lainnya.

Intinya saya hanya ingin belajar lebih banyak dan dalam lagi, tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia ini. Batas negara sudah menipis, sehingga yang penting adalah memupuk persaudaraan. Jika kita tidak paham betul inti masalahnya, sebaiknya hindari berkomentar yang bisa menyakiti orang lain, apalagi saudara sendiri. Seperti kata Rasulullah, apa kita suka makan bangkai saudara sendiri? Seperti itulah hinanya kita kalau menjelekkan saudara kita di depan orang lain. Kalau pun mau memperbaiki, katakan langsung pada yang bersangkutan, one on one. Persis kalau kita mau mengkoreksi anak kita, jangan salahkan di depan orang lain. Ajak bicara dari hati ke hati, di tempat tertutup supaya hanya ada kita dan sang anak, dan berikan solusi instead of menyalahkan atau menyesali sesuatu yang sudah berlalu.

Sejujurnya, siapa sih yang bisa mengerti betul suatu masalah kalau kita tidak walk in their shoes? Akan sulit memahami kenapa seseorang memilih melakukan satu hal dan bukan hal yang lain, karena sudut pandang tiap orang sangat mungkin berbeda dengan kita. Lebih baik energi kita dipakai untuk mensupport saudara-saudara kita dan keep positive. Hati-hati dengan label yang ditempelkan oleh media, terutama barat, untuk teman atau saudara kita. Selalu berprasangka baik, insya Allah lebih utama. Dan tidak ada satupun orang yang berhak menghakimi pendapat, keyakinan bahkan pilihan orang lain, karena kita bukan pencipta mereka.

Wednesday, December 7, 2011

Online Learning

Iya, sejak beberapa minggu terakhir ini hujan turun setiap sore. Yup...every single day!
Lalu kemarin hujan turun sejak pagi. Sama sekali ngga deras, cuma seperti rintik-rintik yang agak besar, tapi teruuuuus menerus. Sejak awal memang terasa ngga enak, karena pagi-pagi cuaca puanas tapi sekitar jam 10 secara ekstrim berubah mendung. Awan terlihat rendah dan berat. Gunung Avilla yang biasanya terlihat di depan mata, tiba-tiba menghilang.

Tahun lalu, hujan seperti ini juga terjadi dan berakibat tanah longsor dan banjir di beberapa states. Lalu sekolah terpaksa diliburkan karena presiden mengeluarkan dekrit, negara dalam keadaan bahaya. Dengan hujan seperti kemarin, banyak terjadi banjir dan beberapa jalanan menjadi super macet. Antrian mobil yang biasanya mengular 30 menit sebelum sekolah bubar, kemarin tidak tampak sama sekali. Banyak orang kesulitan mencapai sekolah karena macet, termasuk akibat pohon tumbang dan menyebabkan seseorang kehilangan nyawa. Sungai besar di tengah kota juga sudah mencapai ketinggian yang luar biasa.


Semalam, resmi diumumkan bahwa hari ini sekolah ditutup di beberapa negara bagian, termasuk tempat kami tinggal. Untungnya ini terjadi kurang dari 10 hari sebelum liburan akhir tahun. Walaupun sebetulnya karena itu semakin banyak tugas-tugas penting menanti anak-anak. Tapi dengan pengalaman tahun lalu, pihak sekolahpun lebih siap dengan online learning mereka. Pagi ini semua bahan pelajaran hari ini sudah siap di website sekolah.

Beberapa kali saya membaca mengenai pro kontra pembelajaran online. Tapi kalau saya boleh jujur, dalam keadaan seperti ini online learning sangat membantu. Paling tidak anak-anak bisa melanjutkan pelajaran di sekolah termasuk menyelesaikan proyek-proyek yang harus dikerjakan sebelum liburan. Walaupun tentu saja tidak ada yang bisa menggantikan sekolah.

Pergi ke sekolah bukan hanya mengajarkan kita untuk belajar secara akademik, tapi juga belajar berinteraksi dengan guru dan teman-teman, serta belajar membentuk suatu komunitas dan sistem yang berlaku didalamnya. Sekolah tidak melulu berarti nilai A atau 100, rangking 1 atau 50. Tapi lebih pada proses belajar seseorang termasuk perkembangan sikap dan perilakunya. Insya Allah suatu hari nanti saya akan cerita juga tentang betapa bedanya pendekatan guru-guru di sekolah anak-anak sekarang dibandingkan dengan pada saat mereka masih sekolah di Indonesia. Yang jelas sih, pendidikan adalah satu-satunya cara untuk memajukan peradaban. No doubt! 


Anyway,  gara-gara sekolah online  ini pula, saya sebagai sang emak ikut jungkir balik jadi guru dadakan di rumah. Persis seperti tahun lalu, tahun ini saya harus belajar matematika untuk kelas 5 dan 2, literatur, ilmu sosial, teknologi, art, musik dan... olah raga!

Kalau sudah begini jadi seperti diingatkan kembali: segala sesuatu yang terjadi pada kita, adalah rencana Allah SWT semata yang biasanya adalah yang terbaik untuk kita. Termasuk bahwa saya harus melepaskan kecintaan terhadap pekerjaan, untuk fokus hanya untuk keluarga. Kalau saya masih harus berbagi konsentrasi dengan yang lain, apa jadinya online learning kita kali ini...


55:18
 Surah Ar Rahman: So which of the favors of your Lord would you deny?
(diambil dari http://quran.com/55)

Monday, November 28, 2011

It's been bumpy.
Good news, bad news, back and forth, many things clashed.
Just a test for a mind, to choose which one is important.
Prioritize things in life, as simple as prioritize what I want to do first:
cleaning the house, update my blog, or else ;)
Have a great week!

One thing learned.
Be thankful for the people that try to put you down, because little do they know it makes you that much stronger as a person (TLS).

Tuesday, November 15, 2011

Minggu ini dimulai dengan petualangan 5 jam di rumah sakit.
Iya, minggu lalu, Farhan, si sulung, jatuh waktu main sepak bola. Ndilalahnya jatuhnya pas di jari tengahnya. Walhasil terpuntir lah si jari malang itu. Lalu, sebagai orang Indonesia asli yang suka banget dipijit, saya cuma berpikir, mmm...kalau di Indonesia sudah saya bawa ke tukang pijit deh. Tapi setelah beberapa hari, Farhan masih mengeluhkan jarinya itu. Sejak dari jatuh, suster di sekolah sudah memasang splinter  dan membebat tangan kirinya.  Tapi terlihat, di bagian tertentu masih bengkak.

Kebetulan, sehari setelah jatuh, kami sudah mengontak dokter traumatolog dan membuat janji dengannya sore itu. Kok ya sewaktu kami mau berangkat sang suster menelpon untuk memberitahukan bahwa rumah sakit sang dokter sedang mati lampu (?). Dia akan kabari kalau lampunya sudah hidup lagi (saya hampir terguling sewaktu mendengar kabar ini). Sejujurnya, saya ngga yakin mereka akan menelpon balik. Oleh karenanya saya berusaha mencari dokter lain, sebagai cadangan. 

Janji pun dibuat untuk sore keesokan harinya. Sayangnya saya lupa kalau sang suster yang membuatkan janji berkata, dokternya menunggu sekarang. Baru tinggal setahun di Venezuela, saya sudah terbiasa dengan janji yang molor sampai sejam. Jadi saya pikir, saya ngga terlalu telat lah, karena toh saya juga harus menunggu jemputan untuk berangkat ke dokter. Kira-kira 30 menit kemudian kami sampai di rumah sakit dan sempat tertegun melihat lantai yang dituju super sepi. Ternyata oh ternyata sang dokter sudah pergi. Kabarnya dia sudah menunggu terlalu lama (terjungkal lagi lah saya untuk kedua kali).

Hampir saya menyerah dan berharap, Farhan betul-betul hanya terkilir.
Tapi karena memang sudah jalannya, akhirnya berangkatlah kami ke rumah sakit hari Senin kemarin. Setelah sebelumnya membuat janji, walaupun kenyataannya di rumah sakit first come first served. Dokter mulai jam 1, jam 11.30 kami sudah duduk manis di ruang tunggu dan dapat nomor tiga. Singkat cerita, diperiksa oleh dokter, yang dengan senyumannya berkata: kelihatannya semuanya baik-baik saja, tapi kita buat radiograf saja, untuk memastikan. Ok deh... 

Kami pergi ke gedung yang lain untuk pemeriksaan radiografik. Pergi ke satu loket untuk mengambil nomor antrian, tunggu dipanggil berdasarkan nomor untuk pergi ke loket satu untuk mendaftar, lalu duduk lagi dengan nomor antrian untuk dipanggil ke loket lain untuk membayar, lalu duduk lagi untuk menunggu dipanggil pemeriksaan. Pfffhhh..... Sebagai mantan pekerja di klinik Radiologi, saya mengerti betul prosedur pemeriksaan radiografik. Saya pun tidak keberatan menunggu asal semuanya diperlakukan sama dan adil. Setelah menunggu, saya sadar beberapa orang yang membayar setelah saya sudah dipanggil sementara nama anak saya belum juga dipanggil. Jangan-jangan karena namanya sulit diucapkan, lalu dilewatkan? (notes: nama Muhammad ternyata sudah berubah jadi Muhammdad). Jaraaang sekali saya protes untuk urusan seperti ini (lagi-lagi karena saya tahu beban kerja dokter-teknisi-administrator di Radiologi) tapi kalau hanya gara-gara pemeriksaan yang super pelan ini saya jadi ditinggal lagi sama pak dokter, ngga mau ah... Dan ternyata benar lah, nama anak saya tidak ada di daftar mereka, walaupun saya sudah daftar sampai 3 kali. 

Singkat cerita, pemeriksaan radiografik beres karena ada mas-mas teknisi ganteng yang dengan baiknya membantu saya yang susah payah menjelaskan bahwa anak saya terlewat. Kita harus duduk manis sekali lagi menunggu hasil. Sama juga kejadiannya, setelah lama menunggu tidak ada yang memanggil. Terpaksa lah saya tanya ke mbak-mbak yang nangkring di loket pemberi nomor. E lhadalah, kok dia bilang hasilnya akan siap hari Rabu, padahal pak teknisi yang ganteng itu bilang hasilnya sudah siap  diambil (dan ini adalah peristiwa terjungkalnya saya untuk kali ketiga). Ternyata oh ternyata, lagi, setelah pergi bolak-balik antara dua gedung, saya baru tahu kalau kita harus ngotot bilang sama si mbak kalau mau ambil hasilnya sekarang karena pak dokter juga bisa 'baca' hasil radiograf nya. 

Lalu, ketahuan lah kalau di telapak tangan si mas ada tulang yang patah. Yang, alhamdulilllah...., masih diam ditempatnya. Meleset sedikit dari posisinya, operasi lah pilihannya. Alhamdulillah wa syukurillah, walaupun sempat tertunda 5 hari, si mas masih bisa 'tertolong' dengan gips. Insya Allah seminggu lagi diperiksa untuk melihat alignment nya, lalu gips dilanjutkan sampai 4 minggu kemudian.


Pelajaran: 1. Kalau bikin janji dengan rumah sakit/dokter sebaiknya jangan mengandalkan orang lain *walaupun dia bisa berbahasa CastellaƱa dengan baik dan benar. lebih baik dengan bahasa seadanya kita buat janji  sendiri supaya jelas jam dan tempatnya; 2. Datang sepagi mungkin untuk menghindari antrian yang keburu panjang dan resepsionis yang kecapekan karena melayani pasien yang banyak dan (sebagian besar) ngga mau diatur; 3. Walaupun dicuekkin ngototlah bertanya dan say what you need to do walaupun dengan bahasa yang terpatah-patah; 4. Bawa bekal buku, air dan snack (kalau perlu makan siang) plus selimut, dan jangan sekalipun pergi ke kamar kecil atau kantin sewaktu menunggu (karena sekali nama kita dilewatkan, bakal repot menjelaskan lagi ke administratornya, belum lagi dipandang si mbak dengan tatapan yang sedemikian sehingga itu).



Wednesday, November 9, 2011

Shaggy and Squeaky

Anak-anak belajar punya binatang peliharaan sejak pindah ke Venezuela. Setelah ikan, Goldy and Swimmy, kami dapat 'hibah'an hamster dari salah satu guru di sekolah. Namanya Shaggy, karena kalau jalan egal-egol. Kalau ngga salah, si Shaggy ini jantan. 

Lalu setelah beberapa bulan Farhan berinisiatif untuk beli satu hamster lagi, dengan uangnya sendiri, sebagai teman untuk Shaggy. Katanya kasihan Shaggy luntang lantung sendirian di kandangnya. Satu-satunya permintaan kita adalah kalau bisa teman si Shaggy itu pejantan juga. Karena hamster kalau sudah beranak, repot dah. And we thought we smart enough ;)

Lalu singkat cerita kita dapat si Squeaky, yg kata penjualnya baron alias jantan juga. Squeaky ini lebih muda dari Shaggy. Waktu mereka ketemu untuk pertama kali, si Squeaky njerit sampai njomplang, makanya dikasih nama Squeaky. Ok deh, dan begitulah mereka berteman dan bergaul seperti layaknya hamster.

Beberapa hari yang lalu Arif diminta Farhan untuk memberi makan hamster2nya. Karena kita tinggal di apartemen, hamster kita taruh dekat laundry room. Kalau dijaga kebersihannya, mereka ngga bau kok. Lalu ngga lama Arif jerit sekenceng-kencengnya. Katanya, ma I think I saw a baby! Lah, ngga mungkin lah dek, kan dua-duanya cowok. Really ma, it's small and red! Ay ay ay.... apa-apaan nih. Waktu kita cek sama-sama, pemandangan yang terlihat adalah si Squeaky terkapar, posisi mlumah, dengan sepotong daging yang masih merah diperutnya. Subhanallah, ternyata dia baru melahirkan. Lalu karena dari awal kita punya komitmen bahwa yang mengurus semua binatang peliharaan adalah anak-anak, mama doesn't want to put a hand on it. Waktu Farhan re-check, dia bilang ngga ada tuh bayi. Sampe si adek bilang bolak-balik, bener mas, aku lihat bayi. Wah, yang paling gw takuti kalau ada kanibalisme, karena si baby hamster itu super kecil lalu dikira makanan sama hamster yang besar. 

Setelah beberapa hari, giliran Farhan yang menjerit, ma, ternyata anak hamsternya ada tiga (ha?) And they are so cute! They have fur, now.

Ough! Rasanya pengen  nimpuk penjual hamster yang dengan pedenya bilang si, esta un baron. Baron sama baron  mana bisa bikin anak... They are cute indeed, but now we have 5 hamsters in one year!!!

Squeaky

Monday, November 7, 2011

What plan do we have for the next 20 years

Barusan nonton Everybody's Fine nya Robert de Niro. Sediiih deh....
Terutama pas si Robert nengok satu-satu anaknya, tanpa pemberitahuan to surprise them. Sayangnya 'reaksi' anak-anak itu dan kondisi mereka ternyata kadang ngga sesuai dengan apa yang dibayangkan si ayah ini sebelumnya. Tapi ini bukan resensi film, karena gw lagi kepikiran, what will I do if I am in his position (yaitu bapak yang di'cuek'in anaknya karena semua sibuk dengan hidupnya masing-masing).

Lalu jadi ingat omongan bareng suami beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir ini. Basically suami selalu menekankan, sejak kita punya anak pertama kali, bahwa anak-anak kita akan punya kehidupannya sendiri. Dan kita sebaiknya sejak awal membiasakan diri membiarkan mereka membuat keputusan sendiri dan tidak mencampuri urusan mereka.
Lalu pertanyaannya, jadi setelah kita ngurus anak, insya Allah, sampai mereka 'mentas' lalu mereka punya keluarga sendiri dan sibuk dengan kehidupan mereka nanti, insya Allah, terus kita ngapain dong?

What a tough question. At least for me, who now spend most of my time with my kids. I know one thing though, for now, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah....




Thursday, November 3, 2011

Forbidden Words

Di keluarga kecil Baskara ini ada beberapa kata yang dilarang untuk diucapkan demi kemaslahatan bersama. Yang pertama kali di banned dulu adalah kata 'tidak' or 'no' or semua yg berbau itu. Waktu itu kita masih di Trinidad dan anak2 juga sedang belajar mengelola uang (yang biasanya didapat dari hadiah).

Jadi kata 'tidak' itu dilarang untuk diucapkan, dan kita semua 'dipaksa' untuk mikir mencari pengganti kalimatnya. Karena kalau kedapatan bilang "enggak/tidak/ogah, dll" didenda 5 TT dollar. Uangnya kita masukkan ke dalam jar, nanti bisa dipakai untuk semua anggota keluarga. Walhasil misalnya kalau ditanya "Adek mau makan sekarang?", dia harus ganti "enggak" (in case dia masih kenyang) dengan "Mmm, mungkin setengah jam lagi, ma" atau "Aku masih kenyang ma, nanti malam aja ya." Sounds better, doesn't it? Atau kalau ada yang lagi iseng nanya "Menurutmu makan es krim terus-terusan itu baik buat kesehatan?", instead of bilang "Jelas enggak dong" kita terpaksa mikir dan memoles jawaban menjadi "Es krim itu sih dari susu ya, jadi ada juga manfaatnya. Tapi kalau terus-terusan kan bosen juga dan kalau kebanyakan minimal bikin sakit perut kekenyangan."

Hasilnya? Lumayan, bahkan emak bapaknya pun belajar muter otak dulu sebelum jawab. Kita jadi kreatif dan respon kita pun jadi bisa lebih dipertanggungjawabkan, ngga terlalu emosional. Untuk anak-anak sih sebetulnya kita cuma pengen mereka punya pikiran yang terbuka, bahwa semua itu mungkin dan bahwa bisa jadi ada cara lain di luar yang kita pikirkan atau yang lazim saat ini. Hasil denda? Lumayan juga buat makan es krim Minggu sore di kedai Haagendazs sono :)

Setelah pindah ke Venezuela, kata yang di banned sedikit berubah. Karena ternyata di sini morat maritnya kondisi di jalan, di pasar, di kantor, dll, adalah karena ke'cuek'an sebagian besar penduduknya. Mereka ngga peduli dengan kepentingan orang lain, apalagi orang banyak. Yang paling penting adalah saya, saya dan saya. Kalau saya lagi naik mobil, tiba-tiba ketemu teman lagi jalan di tikungan, ya berhenti aja ngobrol dulu. Ada orang lain ngantri di belakang? Mmh.. ngga keliatan tuh.  Walhasil kalimat I don't care sedang dilarang di rumah ini.

Kalimat lain yang juga dilarang disebut adalah  I don't know. Persamaannya kedua kalimat itu bikin otak berhenti kerja dan berhenti cari solusi. Belum apa-apa mosok bilang ngga tahu. Gw inget di Jakarta, kalau kita pengen utak atik komputer trus nanya ke Glodok, bang gue pengen laptop gw lebih cepet nih, diapain ya enaknya. Besar kemungkinan si abang akan merespon positif. O, diginiin aja neng, digedein anunya atau diganti itunya. Kalo ini ongkosnya segini kalo anu ongkosnya seginu. Nanti kalau ada masalah belakangan, pasti deh si itu abang (90%) puter otak sampe nemuin cara supaya bisa bantu konsumennya. Lah di sini, mau unlock telepon, belum apa-apa udah, wah ini susah, soalnya hape ini ngga lazim di sini. Lagian colokannya juga beda, warnanya beda pula sama yang biasa beredar di sini. Semua alesan dijembreng. Once again, ngga semua orang begitu sih, tapi suka sedih aja liatnya. Belum apa-apa udah nyerah. Mungkin kebiasaan kalau di sini, semuanya diopenin pemerintah, jadi rakyatnya ngga kreatif untuk survive dan mandiri.

Lalu, tiba-tiba terdengar kalimat I don't care dari ibu-ibu di sekitar ku. Hwarakadah... Untungnya karena teman dekat, keluar juga 'teguran' halus dari mulut " Tahu ngga, kayaknya lebih baik kamu kurangi bilang I don't care terutama di depan anak-anak." Tapi tetep aja, ya kalo orang tua aja masih mbubal-mbubal bilang don't care etc, lalu gimana anak-anak ini sepuluh tahun dari sekarang... O dear...

Friday, October 21, 2011

IQRA = READ

I guess in every single day we are reminded that there are so many new things that we should learn in this world and we have nothing compare to Allah SWT's knowledge.

I just came back from a Parent-Teacher Conference. I'm glad I spent my time to learn more about what are my kids doing in school and what is the purpose of every task. And I learned something new about how some subjects are done totally different from my time.

One striking thing is when I learned about their Literacy program. They are using Lucy Calkins methods, which is despite of many argumentation out there still struck me with the fact that basically my kids are taught to read and write as part of their daily life in order to prepare them for the future. Again there's no best single way to teach kids how to be a great reader and writer, but the general philosophy here is make sense.

They know that read is the most important activity if human want to improve their own and their life. So it's important to invest our effort, money and times, to 'teach' our kids to read with internal motivation, with deep thinking and self reflection on how they perform. So instead of focusing 'only' on reading comprehension, they also learn how to read something 'behind' or beyond the words. And in order to achieve that level of reading, the students are learning how to listen means hear attentively and understand what others say, as well as be aware of what happen around them.

As a muslim we believe that it's the first word that Gabriel told to Muhammad: Iqra = read. Iqra = read = learn, literally like from books, from a classroom, and beyond the words like when you learn from people, from the nature, from the sky, from the space, and so on. Learn, until your time is up = in our graveyard. I live with this saying around me, but it always amazing when you found out again and again that it IS true.

So, basically I'm grateful that my kids have this opportunity to learn how to read the best way they can, that I'm  reminded once again that learning is one of our daily goal, that read is something that we should do as a joyful habit.





Tuesday, September 6, 2011

Bekerja untuk uang

Dulu gw pikir kerja itu untuk cari uang. Tapi belakangan setelah ngga kerja tapi tetep dapet uang (hehehe, ngarang), jadi mikir ternyata betul juga kata si eyang. Kerja itu untuk Sang Pencipta, karena kita 'diletakkan' di pekerjaan itu insya Allah ada maksudnya. Misalnya jadi guru, itu karena Allah SWT mau kita terus belajar daaan menularkan ilmu pada murid. Misalnya jadi dokter, itu karena Allah SWT mau kita mengasah ketelatenan dan rasa penyayang pluusss membantu orang lain. Begitu juga kalo jadi ibu rumah tangga full, itu maskudnya supaya kita belajar terus jadi orang tua dan pasangan, sekaligus mengemban amanah membesarkan anak-anak supaya sukses dunia akhirat.
Nah kalo soal rejeki, itu mah jalannya lain. Rejeki insya Allah sudah diaturNya. Masing-masing sesuai kebutuhan dan keperluannya. Insya Allah, kalau cuma perlu makan sepiring, rejekinya ya cukup untuk makan sepiring. Kalau cuma perlu ganti baju 2x sehari, ya bajunya juga cukup aja untuk ganti tiap kali perlu, walaupun ngga perlu selemari penuh (pernah nyoba ngga pake 2 baju yang sama sepanjang minggu? satu pake satu cuci? ternyata bisa loh...). Hanya saja, rejeki itu asalnya bisa dari gaji, bisa dari hadiah, bisa dari manapun yang kadang ngga kita sangka. Pintunya bisa lewat orang yang kita ngga kebayang atau bahkan kenal sebelumnya.
Jadi kerja keras is perlu dan harus, demi menjalankan amanah jadi khalifah di dunia. Tapi hubungannya dengan rejeki, ya berhubungan sih, tapi indirect. Semakin keras kita kerja, insya Allah pintu rejeki semakin banyak yang terbuka. Tapi bukan berarti pintu rejeki yg terbuka akan sama dengan pintu tempat kita bekerja. Jadi yakini saja, do the best whatever it takes, and God will take care of you.
*curcol abis ngomelin org yg ngga bersyukur punya pekerjaan dan rejeki lebih dr org lain ;)

Monday, September 5, 2011

Just do it...
That's the key phrase.
After reading the e-book of Going Candid by Thomas Leuthard, that my friend Ragil had shared, I learned that tools is not everything. With whatever you have in hand, just go out and capture everything. So here we are, some photos that I took with my phone, when I'm waiting for the kids'school bus, strolling around Caracas, attending some events, etc.
Need so much work and practice, but I did it.
Enjoy...












Monday, May 9, 2011

A Journey to the Inca Land (part 2)

video

As our focus was visiting Machu Picchu, the only way to get there is through city of Cuzco. Originally named Qosq'o, navel of the earth, the city is filled with ruins, museums and churches. A bit daunting but bursting with life. With the population about 600.000, they expect tourists as many as 800.000 this year, celebrating the return of artifacts that sent to Yale University since 1912-15.

One of the most important point if you travel to Cuzco through low land like Lima, do not overexert yourself on your first day, at least on your first two hours. Basically, since the city is laid on 3,360 m above sea level, we have less oxygen. That's why altitude sickness (in local: soroche) is something that we need to prevent. No matter how healthy or fit you are, you can get it. So don't underestimate it. More about it in here.  Mate de coca (Coca tea) may help, so drink a lot of it. Analgesic is very useful, so make sure you have some in hand.

The symptoms could be as light as heavy breathing, headache (from mild to severe, I mean severe that you can't even lift your head), nose bleed, etc. When we arrived in Cuzco, we took a rest for a while,and go out for lunch. Guess what, we only walked for two blocks from the hotel, but felt very very tired. In the restaurant while we're waiting for the food, my little son fell asleep. When he woke up, he started to have nose bleed and felt dizzy. I gave him low dose acetaminophen, and we decided to change the plan. We did the tour by car and visited the ruins around Cuzco, thinking to let him stay at car and rest while we saw the sites.

We chose to visit some ruins a bit outside of Cuzco, one is Saqsaywaman and the other Puka Pukara. To be able to reach it the car should climb up the mountain, yes it's getting higher than 3,600 m, and we need to walk a little. Just a little walk, like 5 minutes, but since it's very high it could really break down your body. My husband walk with the tour guide to see the ruins closer and guess what, right after that he got a bad headache and he preferred to stay in the car for the rest of the tour in Cuzco. So again, be careful for every decision you made on your first day in Cuzco. Don't try to finish everything in such a short time.

Back to the story of Cuzco,
One of the most striking thing that you can see once you're in Cuzco is how the Spanish always built their buildings, like churches and city hall, over the Inca's shrines. They tried to diminished the Inca, make sure nothing was left to be seen. Fortunately up to now you still can see how developed the Inca was. There are gigantic stones cut precisely to fit one another without any mortar in between. It's nothing but a sign of advance engineering.

The center of Cuzco is Plaza de Arma. You can walking around and visit some buildings. Be careful for they can charge you and actually you don't really want to go in to every single building I assume. A city pass would be worth to have, it covered everything important. Also try to enjoy the way the Cusquenos live their life, in such a challenging condition: the height.

On the way to some ruins, when the mountains and valleys are meet, there are small shops selling typical things fro Cuzco, like clothes and accessories made from Alpaca, Baby Alpaca, Vicuna and Royal Alpaca (they look like Llama). Beware of those duplicate made from acrylic fiber, but if you have the real one and the fake one at hand, you can tell the difference. The best way to buy is from the recognizable shop. Sometimes, for certain things, they even have to give you the certificate of originality. The other thing typical is jewelery from gold and silver. You can tell that the Cusquenos are very crafty. They are very artful, combining silver with stones even pearl. I bought a silver ring, with the Inca's symbols, but every symbols was filled with tiny pieces of various stones. Imagining how they do such a neat and detail job, only for one small piece of ring, impressed me.

Peru is one of the biggest exporter of gold and silver. Gold and silver were the most important thing that were looked for during Spanish occupation. For the Incas it was nothing, shell/oyster was more precious to them. So basically the Inca just gave it to the Spanish. But guess what, the colonialist wanted it all. Before  Spanish came,  there were 9 mil of Incas, after their occupation they became 600k. The rest? You guess...

Sunday, April 24, 2011

                         A Journey to the Land of Inca (part 1)

Thanks to the hasn't finished permit for us, we 'have to' explore the other countries in South America. We just got back from Peru, the place that I never imagine I can visit. It's a coutry that worth to visit and has lots and lots of interesting places as well as historical sites. Since we're there only for a week, we focused on visiting Machu Picchu. But actually you can spend a whole month there and still have many places left out. 

The first day was spent in Lima, the capital. And it felt so alive somehow, remembering the place that I live now. We arrived at 10 pm, and people can still walked on the street, the restaurants still opened too. Basically, it safer than I thought it would be. The next morning we saw the Pacific Ocean right in front of us, with this mist foggy thing over it. The fog didn't go away even when the day was passing. In Lonely Planet we found some info about it. The micro climate called garua, actually is a mist that turn the sky white and usually happen during winter (Apr-Oct).  Lima has subtropical climate and lied on a coastal desert, but due to the temperature of Pacific Ocean the weather is very nice. In Wikipedia you can find that Lima is one of two capitals that build on the desert, but honestly I didn't notice it, unless I saw the southern and eastern part of the city that has hill of sand.

Garua over the coastal building

Hill of sand covered by garua

Our reference :)



Before we got here, we decided to use travel agent to arrange our trip in Peru. The good thing about that you don't have to worry explaining your destination to the taxi driver that usually can only speak Spanish. I don't recommend you to take public transport in South America, merely because of the safety issue. When they knew you're a foreigner, after they listen to your "tourist's Spanish", you're in a not so safe position. Many of them are friendly, for sure, but like elsewhere there are bad people who can harm you, just because of the poverty reason. 

We like the fact that we can walk on the street, safely. That way we can have the feeling of the real vacation. Of course have everything valuable close to your body, including put the strap of your camera properly. For the last one year, we hardly walk freely on the street. So it felt good, and the plus side was the weather was sooo perfect to stroll along the Larco Avenue in Miraflores, finding money changer, cellular provider, laundry, drug store, etc. I still needed my sweater though, the breeze could be freezing sometimes.

In the afternoon we have a tour from the travel agent. Knowing that we have two boys with us, they customized the tour by stopping by to parks to let them run around for a while between visiting old buildings. In Lima, you have to visit Central Lima, that lined with lots of churches, plazas and historical sites on the south bank of Rimac river, as well as museo. There is complete list of it in here. But the explanation from the tour guide was the one of the most interesting part of the tour. I learned that in Lima, now home of 9 millions people, raincoat and umbrella have never made a good bussiness. Last time Lima experienced rain was in 1995, although in 2002 there was also news from AP that reporting a landslide due of the rain. 

The city of Lima, a cosmopolitan city ringed by shanty-town, is another example of big gap between the poor and the rich in developing country. The shine of economy boom attracts people to come to the city, but lack of education and corruption are common problems. Together they make the view that we can see now, city filled with high rise buildings surrounded by barrios *sounds familiar, right?  Nevertheless, it's impressive how Lima can be one of the tourist destination in Peru. I guess when petrol and gas are not given to the country, the people has to learn in hard way to survive. And that's a good thing.

Downtown Lima

Ruin Huaca Pucllana in the middle of city
Pre Inca ruin, notes the structure of the wall. It believed was made to be able to cope earthquake
The other thing I learned is there were people thousands years ago who started to live in the city, try to cope the problem of water by making a water tunnel all the way from the river to the city, faced the threat of pirates by building a giant wall surrounding the city and make buildings: temples and houses that build with 'bricks' that made by hand (without any mould), without cement, but the structure was made to 'resist' the tremor from earthquake. So how can we say we are far more developed now? We invent the internet, yes, we fly over the ocean and even to the moon, yes. But we have all the easiness of modern living too. It just make me sure, that I know nothing at all... 

I am also impressed by the intention of the government to preserve lots of sites in the city. Believe me if you see the ruins, that lied in the middle of the city, it is hard to differentiate between the 'normal' rocks from those archeological thingy. Not to mention the cost to rebuild everything and display it for tourism purpose. Hats off ... 


For the last couple of years, there is culinary boom in Peru especially in  Lima. The fact that they have Andes, Spanish and Asian influence in their culture, make the gastronimical experience is one of the most appealing thing to try. As muslims, we just have to be careful and ask every time we order. Ceviche, fresh seafood with shallot and splash of lime juice, really worth to try. Fishes are the best option here, since it fresh. But be careful and ask not to cook them in wine, beer and/or unknown cheese. Arroz con mariscos, looks like paella (I chose one with seafood), again ask them not to sprinkle them with jamon/cerdo/porschiutto nor alcohol. Also try Lucuma,  one of Andean's native fruit, in the form of ice cream or another desert. Potatoes and corns are well grown in Peru, so try one or two dishes too, as well as rice with black bean (tacu-tacu).

Ceviche = cebiche
If you like us, have kids traveling with you, make sure to stop by at the parks. One worth to visit is El Circuito Magico del Agua. They have special show every night at 7.20, but even if you stop by during the day, it's a big splash for the kids. Bring clothes for change though :)
Water Park

Circuito Magico del Agua
Also over the Larco Mar there is park to play and see people doing paragliding, skateboarding, dance and BMX-ing. There are parks along the coast (like Parque del Amor) you can visit during your stay. It's fresh and airy in the morning, and it's beautiful when the sun set. The sky over the Lima during sunset called 'Cielo de Brujas' (sky of witches), but definitely that's the most beautiful sky scene I've ever seen.
Paragliding over Larco Mar


Parque del Amor




Sunset from Larco Mar

As a conclusion, we spent 4 days in Lima, and it's definitely not enough..
 

Thursday, March 3, 2011

video
Looking at The World from Another Point of View

I got this new app called Lomo Lomo. I remember about two years ago my nephews got crazy of this analog camera called Lomo that cost them fortune and I still don't get it why these girls need this expensive toys. Now getting  the Lomo software for free really makes me feel good :) and understand why it's so fun to explore the endless possibility of Lomo.

One thing that I love about this kind of camera,  and lenses to be exact, is the fact that you can capture totally a 'usual' scene with an extraordinary result. It will take you to see the world with someone else's eye. One of the Lomo's lovers quote that like is "everything (you captured) is amplified".  It makes me wonder if we can apply this concept in life too.

We can easily fall into a boredom of keep doing same things or routines every single day. But if you amplify each moment, maybe not each but at least one per day, it will give you new energy somehow. For example, I almost getting tired do my routine: take care of my kids, doing chores, make sure everybody in my family stay healthy and so on and so on. But one day, it was amplified by seeing my son stepping down from the school bus wearing a headpiece that massive enough to be seen from outside the bus window. What I learn from that is he knows exactly that one or more people could teased him by wearing that 'silly hat'. But I could imagine what he'd said "You now what, I made this by myself and I'm wearing it. Is that bothering you?" So learning his carefree spirit really made my day. Now everyday at least I try to make something big out of small thing, just like Lomo has given me eyes to see the world from another point of view.

Enjoy the slide show!
The sharpness is slightly reduced due to resizing of the video as well as my getting old eyes :)

Thursday, January 27, 2011

Repost Review Buku Bagus *kata gw :)



Dapat buku ini dari ayah, kebetulan pas hari Perempuan di Indonesia. Dan ternyata bermanfaat juga lo. Ngga semua tentu, tapi banyak hal yang secara praktikal bener2 terjadi dan kadang kita ngga tahu mesti ngapain. Umumnya sih based on common sense. Tapi sehari2 biasanya karena dah keburu emosi, ya boro2 common sense, bawaannya pengen ngomel aja. Dan gw rasa si ayah beliin buku ini karena sering lihat gw overreacting waktu ngadepin anak2 :x

Banyak jg quotes di buku ini yg berlaku untuk anak laki dan perempuan. Lebih asiknya karena buku ini dibagi2 berdasarkan tahap perkembangan anak: In the beginning, Toddler years, Grade school, and so on. Jadi buat gw terasa lebih terstruktur dan mudah dipahami overviewnya.

Di Preface penulis bilang: This book is a guide to navigating the relationship-....-between a mother and her son. The wisdom on these pages is designed to make you laugh, to make you sigh, and to give you strength *and that is so true :)

Juga ada quote bagus dari Ruth Bell Graham:
"As a mother, my job is to take care of what is possible and trust God with the impossible"
Yang paling kena buat gw sih the Five Keys di halaman pertama setelah Preface:
1. Pray for him every day
2. Respect his father
3. Do everything in your power to create a peaceful home
4. Feed him love, morals, values and integrity daily
5. Be a strong woman.

Have I done them all, on daily basis? Hhmmm...

Basically I really enjoy this book and during hard times it'll help a lot.
Beberapa contoh yang so true, but still touching when you see it written down:
Don't let his father forget that his son is still a little boy (Toddler Years)
Don't go nuts if he messes up (Toddler Years)
You always feel his pain but don't mistake it for your own (Grade school)
Try to see things from his point of view. Sometimes (High School)
Don't forget that God has given you an awesome responsibility: raising a son in today's world (Spirituality)

Wednesday, January 12, 2011

Repost tanpa judul
Setelah 5 bulan tinggal di negara Pak C ini, semakin terasa nikmatnya tinggal di Indonesia. Iya, separah-parahnya negaraku itu, temasuk cerita Gayus yang jayus dan memalukan plus Timnas yang handal tapi direcokin urusan ngga penting, ternyata kepastian dan rasa aman masih ada di sana. Asal siap kerja keras, berusaha dan berdoa habis-habisan, insya Allah ada jalan dan akan berubah menjadi lebih baik. Walaupun perlu waktu dan kesabaran. Seperti janji Allah SWT:  "ALLAH tdk mengubah keadaan suatu kaum kecuali ikhtiar mereka"(QS 13;11) dan "Siapa tawakkal kpd Allah mk ALLAH menyelesaikn urusannya".(QS 65;3)." (miturut ausiyah Pak Uztad Arifin Ilham)
Seringkali ikut prihatin dan sedih, harga barang naik hampir tiap bulan, properti dan harta benda pribadi diambil alih tanpa ganti rugi, demikian juga perusahaan2 privat yang dinasionalisasi, termasuk bank, dll. Jadi kalau bank saja diambil alih dengan alasan terlalu banyak untung, lalu gimana perekonomian mau maju. Jangankan pengusaha kecil dan menengah, pengusaha yg terbilang mapan pun pikir-pikir mau melanjutkan usaha atau balik kanan maju jalan.
Dari segi kepastian hukum, rasanya Indonesia masih lebih baik. Contoh nyata bikin SIM di Indonesia, ngga perlu pakai calo juga bisa, karena prosedurnya jelas, paling-paling bete ngantrinya. Ada sih oknum2 yang masih minta sogokan, tapi itu lebih ke personalnya. Itikad untuk bebersih dan bebenah sudah kelihatan di mana-mana. Dan ajaibnya di Indonesia selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah. Solution oriented, begitu kira-kira, dan itu tertanam di segala lapisan. Makanya kadang daging rusak aja masih bisa 'diutak-atik' supaya kelihatan bagus dan bisa dijual lagi... NGutak atik juga tapi kebangetan banget, dan sedihnya gw rasa karena mereka kurang pintar dan belum tahu aja akibatnya. Lebih kelihatan lagi kalau belanja komputer dan pernak perniknya di glodok tuh. Semua bisa diutak-atik :) Jadi semangat "yes we can" nya udah ada, cuma harus  dibenerin juga dengan edukasi, biar kalo ngutak ngatik apapun pakai hati dan otak, dan ngga berbahaya untuk orang lain.
Di negara Pak C ini, syarat-syarat untuk ambil SIM saja bisa berubah tiba-tiba dari yang tercantum resmi di website, sesuka pegawai yang melayani. Kalau ngga mau dipersulit ya bayar. Tapi kalaupun bayar, ngga bisa cuma bayar satu dua orang aja, alias kudu nyogok sistemik sak kantor. Mana mau perusahaan2 yang 'normal' mempertaruhkan nama baik, cuma untuk nyogok departemen ttt..
Yang bikin gue concern juga adalah sikap penduduk yang careless dan inconsiderate. Walaupun sebetulnya bisa jadi mereka juga jadi begini karena kondisi membuat mereka jadi begitu. Tapi ya kok bisa gitu lo, berhenti passss di pojokan prapatan dan ngga pakai minggir. Atau nyeruduk antrian,  atau contoh2 being egois yg lain. Gw rasa di Indonesia juga masih ada yang begitu, tapi biasanya kalo mobilnya dah kelas berat jarang ketemu yg parah. Maksudnya, tingkat pendidikan dan kesejahteraan biasanya tercermin dari kelakuannya. Ya ngga? Nah kalo di sini, mobilnya mobil gedhe yg bensinya mesti diisi 2 hari sekali,  yang wanitah pakai tas/sepatu/baju designer  yang ngga murah, yang laki juga pakai jas perlente dan gadget terbaru, tapi nyelonong ya nyelonong wae..dan ngga ada tuh mikirin akibatnya untuk org lain.
Jadi kebayang kan, kalau sebagian besar orang cuma mikirin diri sendiri, siapa terus yang ngurusin rakyat? Padahal yang kena imbas inflasi ya rakyat. Yang kena imbas perusahaan2 dinasionalisasi ya rakyat, yang kena akibat eksport turun import naik, ya rakyat. Tapi giliran rakyat susah, mereka malah dipakai untuk cari popularitas dan menekan org2 yang pro kapitalis (fyi, koran banjir sekarang dibuatkan tenda2 di lapangan golf privat. Padahal masuk rumah ibadah, yang manapun: gereja, masjid, dll, juga bisa. malah atapnya lebih permanen dan sudah ada fasilitas umum: toilet, dll,  atau  bisa juga kan pakai stadium untuk menampung sementara rumah2nya sedang dibangun, plus alternatif lain yang manfaatnya lebih kelihatan daripada mudharatnya yaitu menyusahkan orang)
Dari segi ilmu politik or else, gw ngga tahu mana yang lebih baik. Tapi yang manapun ism yang dianut, asal masih pakai hati dan takut Tuhan kita yang satu, mestinya semua akan jadi lebih baik. Cuma kalau presidennya marah-marah terus dan semua orang dianggap musuh, dan yang dikobarkan semangat membenci golongan yang ngga sejalan, ya kapan kerja dan moving forwardnya...

Jadi mari mulai bekerja dengan pintar, mulai dari diri sendiri, mulai saat ini juga dan banyak-banyak berdoa agar Allah SWT memperbaiki kualitas negara kita. Indonesia, I love you full..

Wednesday, January 5, 2011

Alhamdulillah

Sehari sebelum hari terakhir tahun 2010 *walah, si ayah ulang tahun. Biasanya sih kita makan bareng aja di rumah, gw masak, trus kalo di TT karena biasanya tahun baru libur sekalian ngumpul di rumah. Ngga ngerayain tahun baru, juga ngga ngerayain ultah, mung kumpul2. Enak banget dah...












Tahun ini, mau kasih kado ayah bingung juga. Biasanya sih memang kita kasih kado buatan sendiri, soalnya kalo beli barang udahlah harganya ngga jelas, di TT or Caracas repot carinya. Kebetulan anak2 lg seneng gambar, walhasil jadilah ini.. Tarrra..
 
Sebelum2nya sih kalo pengen masak macem2, gw dah heboh dari minggu sebelumnya. Ini karena lagi libur panjang, supermarket jg rame bikin males belanja, masak yang ada di rumah aja. Dan alhamdulillah, jadi sadar kalo practice makes perfect itu benar adanya. Kalo tiap hari 'terpaksa' masak, tiba2 pengen bikin rendang pagi2 jg hajar bleh. Hehehe...

Percaya ngga kalo sepagian aja gw bs produksi makanan2 ini. Alhamdulillah banget. Thanks to bumbu jadi deh, bener2 useful di saat seperti ini. Alhamdulillah pula stok sereh seger, salam dan laos kumplit. Dan lagi kalo pake saos sambel apa aja juga enak kan, hehehe, ketauan deh senjatanya...


Sebetulnya, bagian paling asik sih emang pas ngumpul di meja makan , sarapan dan makan siang bareng trus ngobrol ngalor ngidul sambil cekikikan.. hehehe.

Alhamdulillah, Allah SWT sudah memberikan ayah terbaik untuk anak2 dan suami terbaik untuk gw. Semoga dia jg bisa jadi anak terbaik untuk ibunya dan saudara terbaik untuk kakak2nya. Semoga Allah SWT memberikan nikmat dan hidayah iman dan Islam yang utuh untuk ayah, juga nikmat kesehatan dan kebahagiaan, serta kesuksesan dunia akhirat. Amiiin...