Thursday, September 30, 2010

Rumput tetangga biasanya kelihatan lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Itu mah jamak, namanya manusia biasanya lebih 'ngiler' kalau lihat orang lain. Padahal seperti kata lagu, hidup itu perjuangan. Jadi buat siapapun, hidup itu 'cuma' proses untuk menjadi manusia yang lebih baik, setiap harinya, menumpuk kekayaan batin dan amal ibadah untuk bekal di akhirat.

Ngelanturnya jauh bener ya... hihihi...
Tapi ya begitu deh. Entah kenapa setiap kali pulang ke Jakarta, ada aja yg bilang, enak banget Vy, bisa ke Trinidad, dll, hidup lo kayak liburan aja setiap hari. Komentar gw? Alhamdulillah, kalau orang bisa lihat gw menikmati rejeki Allah SWT ini. Tapi gw yakin, orang yg rumahnya segede gaban, atau yg tiap bulan bisa liburan ke Eropa, atau yg mobilnya sebanyak showroom, dll dll, pasti juga ngalami kesulitan dalam hidupnya. Mungkin kita ngiri sama mobilnya dia yang kerrren dan mulus. Tapi kalau dipikir mesti bayar ongkos servis bulanan mobil bagus, nyuci plus mobil begituan, perasaan repot jg deh. Atau orang yg punya rumah segede gaban td, emang keren kelihatannya. Tapi kalau giliran pembantunya ngambek, ok deh dia krn punya duit pasti dengan gampang cari pembantu lagi, tapi pasti ada lah masanya dia mesti urus sendiri tuh rumah. Gempor jg kan ngurusin 5 kamar dan 5 kamar mandi *itu baru lima ya, gimana kalo lebih :)

Ah tapi maksud gw bukan gitu sih. Intinya mau apapun kondisi yang kita punya sekarang, asal kita bisa bersyukur dan bersyukur, insya Allah kan semuanya jadi lebih mudah dan selalu ada jalan. Misalnya nih di sini kan ternyata apa2 mahal. Gw sampe bengong beli tomat 3 biji harganya 30BsF alias ampir 40 rebu. Ya caranya jangan beli macem2 kalo harus hidup di Venezuela, daripada gondok. Hehe... Atau di sini juga terkenal kan, kriminalitas tinggi banget. Mosok dibilang di sini kalo tiap 1,5 jam ada satu orang mati(terbunuh). Ya kalo gitu, jangan ke mana2 deh... Cari kegiatan di rumah, pasti dari pagi sampe malem ada aja yg bisa dikerjain.Kalau gw bisa sampe ketiduran di siang hari bolong, wah... itu namanya nikmat banget ternyata.

Yang jelas, di mana-mana pasti aja ada ujian dan cobaan untuk kita. Walaupun di kampung halaman Indonesia, yang sejauh ini menurut gw adalah tempat paling enak untuk hidup, tetep aja masih ada keluhan dan cobaan. Seperti bentrok antar warga, antar agama, dll. Semuanya kan memang ujian kita. Termasuk pemerintah yang katanya kurang ini dan kurang itu, padahal menurut gw masih jauh lebih baik dari pada negara yg sekarang gw tinggalin. Lah coba bayangin, di negara ini semuanya terasa jalan mundur ke belakang. Metro system dah rapihh, gedung2 tinggi di mana2, tunnel jg ada, pokoknya kelihatan kalau dulu pernah maju. Kabarnya sih sampai dibilang New York nya Amerika Latin. Tapi sekarang, semua sistem ngga berfungsi, apalagi perekonomian yg inflasinya sudah 30%, bisnis ngga bisa maju, produksi merosot, eksport terbatas. Pokoknya memprihatinkan. Di Jakarta tanah kuburan aja memang sudah mahal tapi ada dan cukup banyak, di sini ternyata tanah untuk kuburan pun terbatas sementara harga rumah untuk orang yang hidup naiknya dah 500% sejak 2-3 tahun yl.

Jadi yang penting manusia harus berusaha sekuat tenaga, tapi at the end percaya saja bahwa ternyata hidup kita itu sudah ada sutradaranya... Insya Allah di mana pun kita, itulah tempat terbaik untuk kita menurutNya.

Tuesday, September 28, 2010

Setelah satu bulan setengah tinggal di negaranya Chavez ini, anak-anak sudah bisa bilang kalau ini rumah mereka. Walaupun kadang masih bilang, kapan kita pulang ke Trinidad :( Barang-barang dari Trinidad juga belum sampai *mungkin malah belum berangkat dari sana, hihihi...

Rumah masih kelihatan 'blah', tapi alhamdulillah cukup cozy, setelah sang landlady melungsurkan barang-barang dari rumahnya yg passs banget di atas kita.  Yang penting alat masak sudah cukup untuk sekedar bikin sarapan atau makan malam untuk suami dan anak-anak.
 
Yang berasa payah adalah juaraaang buangeet orang yang bisa bahasa Inggris, sementara bahasa Spanyol kita masih seuprit. Frustasi banget rasanya kalo pas ketemu plumber, tukang benerin kulkas, tukang sedot wc n sekuriti yang cuma ndlongop pas kita berusaha susah payah njelasin. Padahal dah minta tolong mbah Google translate tuh...

Anyway, alhamdulillah alhamdulillah...
Inget banget kita berangkat ke Caracas, hari Jumat, hari kedua Ramadhan. Bawa sekantong kurma untuk bekal di jalan, yang ternyata adalah kurma terakhir yang kita makan sampai hari ini. Untung juga bawa rice cooker di koper, yang walaupun sempet digeledah petugas berbahasa Spanyol, bisa selamet masuk, selain abon dan kering kentang *mayan banget buat modal sahur.  gitu, alhamdulillah pas datang, kami sudah punya kawan di Caracas. Keluarga Pak Romdoni/Vivi yang buanyakkk banget bantu. Tiba-tiba kita bisa makan bakwan, pakai cabe rawit lagi. Lalu anak-anak dikirimin nugget,  dll. Wah pokoknya cuma bisa mendoakan supaya keluarga mereka diberikan pahala yang berlipat ganda deh...Amin!

Somehow, alhamdulillah lagi, kita cuma seminggu tinggal di hotel. Apartemen goal, walaupun belum rapi betul, tapi sudah bisa ditempati. Kalau mau tahu seberapa bersyukurnya kami, begini kira-kira. Bos suami di kantor, harus tinggal 6 (enam) bulan di hotel karena urusan rumah belum beres. Walaupun tinggal di Marriott, tapi kalo enam bulan ya bete juga.. Apalagi kalau ada anak2.

Sudah dekat lebaran, mulai deh mikir, bijimana ini soal daging halal. Agak penasaran karena kabarnya Caracas punya masjid terbesar di Amerika Latin. Mustinya populasi muslim juga lumayan, dan biasanya ada dong yang jual daging/makanan halal. Tapi sampai seminggu mau lebaran, masih belum ketemu juga. Subhanallah, hari Rabu terakhir sebelum lebaran, sempat ngobrol sama kawan dari Malaysia. Dalam rangka hunting daging/makanan halal, biasanya kita gencar kirim email ke sumber2 yang kira-kira bisa kasih info. Salah satunya kedutaan Malaysia. Suami sempet ingetin: bukannya kita lagi berantem? Hhhmmm. Kita lihat nanti aja deh, namanya juga usaha. Walhasil waktu ketemu Pak Roosly, gw cerita kalo gw kirim email ke kedutaannya. Lalu Pak Roosly bilang, ah... kapan-kapan saya tunjukkan saja deh. Agak sulit kasih tahu jalannya *oya, percaya nggak, alamat rumah kita di sini, terdiri dari 16 kata, tidak termasuk articlesnya. Mmm...speaking of practicality,i it's beyond that :)

Tapi keajaiban ngga berhenti sampai di situ. Hari Kamis, sehari sebelum lebaran, pagi2 jam 9 Pak Roosly SMS, katanya dalam 15 menit dia akan drop daging sedikit untuk anak2. Subhanallah.... Gw rasanya sampe mau nangis. Padahal gw dah bilang suami dan anak2, lebaran ini kita makan opor telur dan tahu, plus sayur labu. Tapi ternyata sama Allah SWT kita diijinkan makan opor ayam. Coba, maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustai???

Masih banyak cerita lain dari Caracas, tp kalau kepanjangan gw jg jadi males baca :p
Jadi insya Allah next time disambung lagi.

Tapi point penting hari ini buat gw pribadi: bersyukur dan sabar, insya Allah Allah SWT saja yang akan menolong kita *ini reminder buat gw sendiri, bahwa ngga ada tempat bergantung selain Al Khaliq



*itu yang digambar namanya gunung Avilla (3000 an meter), dibaliknya laut, jadi Caracas ada di lembahnya. Foto diambil dari Valle Ariba, kira2 kayak daerah taman Tabanas kalo di Smg atau Puncak Pass (kali ya)

Monday, September 27, 2010

STAY HUNGRY STAY FOOLISH

Just saw Steve Jobs' commencement speech at Stanford 2005.
Personally I barely 'know' him, other than Apple gadgets that everyone seems to have nowadays. But I just found out that his biological father is Syrian, her mum is American, then he was adopted by an American couple. I never knew that dropping out college was his own decision in his first semester, learning that he had to spend his parents fortune if he has to continue his study. He was diagnosis with pancreatic cancer on 2004, and the doctor even said that he only had 6 months to 'sort things out'.

But I learned that he's one of the best example of the more you have to more humble you become. He'd slept on his friend's room's floor, returned coke bottle for 5c so he could bought food from a temple 7 miles across the town. Now, he had 5.426 million shares of Apple and 138 million shares of Disney (after Pixar acquisition). But still he chose 2006 MerC SL as his car. I know somehow there are comments that mentioned that he is an 'egomaniacs', whatever it means. But nobody's pefect and who we are so we can judge people? For me, just pick good sides of every successful people, learn how the do it, and then do our work. He is also a good example of being grateful for whatever God gave, even being DO'd and diagnosed with the malignant neoplasma.

Being in new country often led me to a question: what God does want me to do in my life?
And some of Steve Jobs' words kind of giving me a new perspective :
Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.

And speaking of how we should set a goal in our life, he had some good thoughts too:
No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away.
Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

Hmmm... seriously, it's more that I can handle. But I think we are all on mission here, either we had figured it out or not. So, as long as we stay hungry and stay foolish (The Whole Earth Catalog, Steve Jobs' speech) sooner or later we'll find it.