Thursday, April 3, 2008

Radiologi Kedokteran Gigi

Sejak tahun 1999 saya kerja di bagian Radiologi Kedokteran Gigi(RKG) di salah satu universitas yang bawa-bawa nama negara. RKG adalah salah satu cabang ilmu Kedokteran Gigi(KG) yang sedang berkembang, di Indonesia maupun di dunia. Lingkupnya ya segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan radiasi di bidang KG, termasuk radiodiagnostik, proteksi radiasi dsb. Menarik karena banyak yang masih bisa dieksplorasi plus challengenya besar. Tapi sayangnya saat ini masih banyak sejawat dokter gigi yang masih berpikir lingkup RKG terbatas pada pembuatan radiograf (biasanya orang awam menyebutnya foto Rontgen). Kadang dibilang, kan ada penata roentgen, ngapain perlu spesialisasi lagi, toh yang 'mbaca' fotonya ya dokter gigi. Bener juga sih, beberapa kasus memang termasuk dalam kompetensi dokter gigi (general practioner). Tapi banyak juga lo yang perlu pengetahuan dan pengalaman yang lebih 'dalem'. Sebetulnya sebelum memutuskan untuk melakukan pemeriksaan radiografik, dokter gigi mestinya mempertimbangkan dengan seksama keputusannya berdasarkan prinsip risk versus benefit dan as low as reasonably achievable and practicable. Sayangnya, saat ini banyak pesawat radiografi yang relatif canggih di pasaran, tetapi penggunaannya tidak disertai pemahaman yang lengkap mengenai kelebihan dan kekurangan teknologi yang diterapkan. Jadi misalnya, untuk pasien kanker mulut di negara kita, kadang-kadang pasien bisa sampai harus di bone scan. Sementara, pengobatan yang efektif dan terbukti bisa 'mengatasi' metastase tumor ke tulang, ada sih, belum terlalu applicable. Apalagi di negara berkembang. Belajar dari negara maju, walaupun pemeriksaan dan teknologinya lengkap tersedia, penggunaan alat-alat canggih tsb harus dipertimbangkan betul, apakah berpengaruh pada perawatan pasien ybs atau tidak. Kalaupun dipakai, si dokter yang minta nih, harus tahu betul what to expect. Jadi bukan karena nggak bisa 'liat' apa-apa, lalu di 'foto'. Please guys, no offense yah.... I love what my Prof told me: from Sir William Osler: When the brain doesn't know the eyes can not see. Yang selalu jadi pertimbangan utama adalah, bagaimana mengobati pasien, supaya penderitaannya berkurang atau lebih baik lagi kalau pasien bisa sembuh total, pulih seperti sediakala. Dan follow up plan menjadi sangat penting. Jadi misalnya, waktu operasi, dipikirkan betul bagaimana caranya tumor yang dituju bisa terangkat semua, bersih, tapi tidak mengganggu fungsi dan estetika pasien. Ataupun kalau sampai mengganggu, ya dipikirkan lagi, bagaimana cara rekonstruksinya, sampai pasien bisa hidup dan beraktifitas seperti sebelum sakit. Bagaimana caranya supaya pasien tetap terkontrol, supaya kalau ada tumor baru atau kekambuhan, bisa segera ditangani. Bukannya repot melakukan semua pemeriksaan yang mungkin tidak terlalu bermakna pada kesembuhan pasien. Padahal kadang-kadang, pasiennya untuk jalan ke rumah sakit aja sudah susah payah, ya uangnya, ya effortnya. Mosok belum sampe dirawat sudah kehabisan ongkos jalan. Seorang Prof yang, menurut saya, sangat bijak, padahal well-recognized world wide, selalu mengingatkan : kalau kamu ketemu pasien, look at them as human with their own condition and circumstances. And then with your knowledge of the possible disease that they have, skill, experience and also your heart, decide what is the best for them, not for you. Agak susah ya ngomongnya, tapi saya belajar bahwa benda2 itu cuma tools, semua analisa dikerjakan di kepala, tapi pakai hati juga, supaya (pinjam kata2 nya Ragil) tepat guna. Gitu lohhh... Nanti dilanjut lagi deh, supaya lebih spesifik pembahasan RKG nya. Ini masih belum sistematis, hanya bagi-bagi pengalaman waktu training Oral Cancer di Amsterdam, jadinya masih ngalor ngidul gak keruan. Thanks for stopping by... Again, please no offense...

2 comments:

giiil! said...

duh duh duh, ada namaku juga tho? senangnya ditowel sama blogger Trinidad hihihi

kita said...

halo..salam kenal yah..saiah juga baru aja belajar radiologi nih,,mohon bantuannya yah...