Thursday, April 3, 2008

Aceh

Bulan Mei, apa Juni 07 ya, saya dan anak-anak pergi ke Aceh. Ceritanya tugas. Datang hari Sabtu, pas mahasiswa ujian (hayo tebak, kerjaan saya ngapain). Lalu Seninnya mulai kerja deh. Baru mulai diskusi jam 9, lalu jam 9.30 muter-muter ke kelas-kelas. Tiba-tiba ada si Imut lari dari luar ruang, tergopoh-gopoh sambil teriak "tsunami-tsunami, tsunami-tsunami!" Antara kaget dan nggak tahu harus gimana meresponnya, jadi bengong sepersekian detik. Tapi anak-anak mahasiswa pada lari berhamburan keluar pintu yang cuma sebiji itu. Mereka loncat parit selebar semeter yang cuma ada titian kayunya selebar 20 cm. Sampe ada yang jatuh-jatuh. Nalar sih bilang cek dulu. Karena mestinya tsunami ada setelah gempa bumi yang cukup besar. Padahal, rasanya, saya nggak ngerasa ada gempa sama sekali. Tapi berhubung saya suka nggak ngerasa kalau ada gempa kecil, bisa jadi yang ini juga begitu. Tapi tanya atau telpon atau cari info juga bingung ke mana. Semua pada panik begitu. Lalu sempat tanya sama Pak Zainuri, dosen di sana, memang harusnya bagaimana kalau ada peristiwa seperti ini, beliau bilang yang penting kita pergi ke tempat yang lebih tinggi, biasanya ke arah airport. Lalu kita diajak sama-sama naik ambulans. Waktu saya bilang saya harus jemput anak-anak di daerah perumahan dosen, ada teman yang bilang, wah itu kan tempat arah air datang..Oalah rek, jantung makin loncat-loncat gak keruan. Singkat cerita kami semua pergi ke arah airport, tapi terpaksa berhenti di mesjid tengah jalan karena jalan macet, arus lalu lintas sudah nggak jelas, karena orang cari jalan seenaknya. Mahasiswa yang sama-sama di ambulans udah ada yang merengek-rengek karena kesulitan nelpon sodaranya. Saya juga panik, mau pake hape susah banget, padahal suami lagi di luar nagri (dalam hati, duh Gusti, ini akibatnya kalo mbandhel. Dah dibilang gak usah pergi, tetep sok loyal sama gawean...) Kita nunggu di masjid lumayan lama, sampe sempet keleleran di rumput. Pada akhirnya ada pengumuman di mesjid tsb, bahwa ternyata tsunaminya nggak ada. Yang ada alarm tsunami memang bunyi, tapi bukan karena ada tsunami. Mungkin karena ada gelombang tinggi, yang saat itu memang sedang banyak terjadi. Setengah jam sebelum peristiwa ini, memang teman di Jakarta sempat SMS soal gelombang tinggi ini. Tapi, yang lalu jadi perhatian saya, kok bisa di Aceh yang pernah terluluhlantakkan oleh tsunami, tidak ada prosedur standar kalau-kalau hal tsb terjadi lagi. Maksud saya, mestinya pemerintah setempat sudah men-drill masyarakat, prosedur evakuasi kalau ada gempa bumi atau tsunami di Aceh, supaya kejadian yang tempo hari bisa diminimalkan akibatnya. Ini, mau cari info saja, tidak ada yang tahu. Mau evakuasi ke arah mana, juga nggak jelas. Info bahwa kita mesti naik ke Blang Bintang juga tidak semua orang tahu, karena ada juga yang 'cuma' naik ke atas mesjid. Ada juga yang lari ke arah kota. Laut ada di sebelah mana, sungai ada di sisi yang mana, juga nggak jelas, karena tempat anak-anak saya tinggal pun dibilang arah air, padahal itu arah gunung. Pokoknya serba membingungkan. Ironis kan, karena negri ini sudah pernah mengalami sendiri bencana dahsyat itu, tapi kok nggak do something gitu loh. Padahal trauma jelas-jelas kelihatan di wajah-wajah orang yang saya temui waktu evakuasi. Bayangkan, sudah trauma, ndak tahu pula harus berbuat apa.... Pertanyaan berikutnya, sebetulnya siapa sih yang harusnya peduli dengan masalah seperti itu. Peduli juga mungkin nggak cukup, mesti punya otoritas supaya prosedurnya bisa diterapkan ke masyarakat luas. Ada yang bilang, pernah sih, simulasi tsunami, tapi ya cuma masyarakat di tepi pantai saja. Padahal kan tempo hari tsunaminya sampai melibas kota, belum lagi sungai-sungai yang muaranya ke laut kan mata airnya ada di kaki-kaki pegunungan. Jadi gimana dong.... Ya, yang jelas setelah peristiwa itu, saya jadi siap-siap satu tas isi basic needs-nya anak-anak seperti air dan makanan yang gampang bawanya, plus baju sepasang-sepasang, yang bisa disambar kalau sewaktu-waktu ada emergensi. Lalu buka google earth supaya yakin betul di mana laut, sungai dan gunung, jadi tahu ke arah mana saya harus pergi kalau ada apa-apa. Plus, kalau mandi, nggak seperti kalau di Jakarta, tapi cuci muka dulu, lalu brenti dan keringkan, lalu cuci bagian yang lain, brenti, trus keringkan, dst. Yang penting sepotong-sepotong supaya kalau ada apa-apa nggak kerepotan pakai baju lama-lama.Alias bisa kabuuur cepet2. Satu lagi catatan, saya baru engeh, kalo ternyata saya masih takut..... mati. Malu banget sih, berarti masih kurang bekelnya. Padahal, walopun ngejogrok di rumah, kalo pas waktunya ya gak bisa apa2. Lha kok ini pake kebirit2 ngacir ke Blang Bintang. Ck...ck...ck...

1 comment:

Wangbu said...

Ola! Me Wangbu. Soy de las Filipinas. Usted tiene un interesante blog. Me alegro de visitar aquĆ­.