Monday, February 27, 2012

Yang Lagi Kangen Trinidad

Mengenal manusia adalah suatu hal yang luar biasa. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, terbukti betul!

Contohnya, penduduk Trinidad-Tobago yang sebagian besar keturunan Afrika, punya kebiasaan hidup yang santai. Walhasil, kalau kita punya kesempatan ketemu dengan mereka, kita akan banyak dengar kata-kata seperti 'relax, man', 'no problem' dan 'it's ok'. Hanya saja kalau itu terjadi di antrian supermarket misalnya, yah akibatnya antriannya tambah panjang. Soalnya mbak kasir kerjanya 'relax dan no worry'. 

An afternoon in Waterfront Port of Spain

Saking relaxnya kadang ngomongpun sekadarnya dan disingkat-singkat. Misalnya dat (that), tong (town), meh (my). Jadi kalau lagi pengen ngomong "I hear they're living down there" dia akan bilang "Ah hyar dey living dong by dey so." Atau untuk ngomong " Give me the thing when you come to my house" dia akan bilang "Gi' me de ting when you come to meh house." Selain itu ada juga idiom lain, seperti kalau mau nanya "what's up" mereka akan bilang "whas de scene?".

Trus, jadi inget deh, lagu buatan anak-anak dan teman-teman Indonesianya yang tinggal di Trinidad dan pernah dipost di blog (liriknya): Da Man Ting N Ting.
Untuuung...tinggal di sana cuma 3 tahun. Kalo ngga belum beres belajar Inggrisnya dah keburu broken deh ;)

Monday, February 13, 2012

Belajar Science

Guru Science anak-anak tahun ini penampilannya agak beda dari guru yang lain. Rambutnya panjang, dikucir, gayanyapun nyentrik. Yang seru, kabarnya sang guru ini pernah kerja di NASA. It's going to be an awesome year!

Lalu saat ketemu dengannya dalam Parents-Teachers Conference, saya sempatkan untuk ngobrol dengannya. Pertama kali yang dikatakannya adalah bahwa dalam pelajaran science kali ini, anak-anak akan dinilai dari kemampuannya mendengarkan, kemampuannya mensupport kawannya, dan kemampuannya mencatat hasil observasinya. 

Ok, interesting... Keep going, Sir.

Jadi menurutnya, kalangan ilmuwan menemukan bahwa kemampuan itulah yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan masa depan. Bukan semata kemampuan akademik dan pengetahuan mengenai materi pelajaran. Seorang ilmuwan harus punya kemampuan mendengarkan, yang secara tidak langsung juga berarti mereka harus bisa mendengarkan pendapat orang lain, pay attention dan menghormati orang yang sedang berbicara.

Kemampuan mensupport adalah salah satu dasar pembentukan karakter  seorang ilmuwan. Mereka belajar untuk selalu positif dan berusaha fokus ke hal-hal positif dalam me'nilai' orang lain. Kalau cuma komentar? Itu mah gampang. Tapi mencari hal terbaik dari pendapat atau perbuatan orang lain, itu baru tantangan.

Sedangkan kemampuan mencatat hasil observasi, ya tentu meliputi kemampuannya menuliskan dengan baik hasil pengamatannya, yang berarti input yang diperolehnya diproses dalam otak untuk dituangkan kembali menurut kata-katanya. Proses kreatif dan kebiasaan menulispun ditanamkan di dalamnya.

Well, I wish I learned those things when I was a 5th grader...


Wednesday, January 25, 2012

Mistakes

Namanya manusia, tempatnya salah dan lupa...
Tapi kok tetep ya, perasaan ngga enak banget kalo abis bikin salah.
Rasanya pengen muter jam, supaya balik ke waktu bikin salah, dan menghapusnya.
O well... hukuman bikin salah, ya begini ini... feel so not good.



Saturday, January 14, 2012

They're growing up

Apa favorit Anda saat jalan-jalan bersama keluarga?
Bercengkrama bersama pada waktu liburan? Untuk saya, adalah pada saat kita memiliki waktu one on one dengan masing-masing anggota keluarga.

Misalnya waktu kami mencoba menjelajahi Colonia Tovar, saat liburan akhir tahun, saya berkesepmatan bicara dari hati ke hati dengan si sulung. Saat itu kami harus berjalan kaki menyusuri perkampungan Jerman di Venezuela, dengan medan yang naik turun. Not to mention  saat itu kami berada sekitar 2000 m di atas permukaan laut.

Karena kelelahan si sulungpun mulai menggelayut, sementara si bungsu mulai seperti penyiar radio dengan ocehannya. Di situlah kami bicara banyak, mulai dari hal yang sederhana seperti laporan mengenai kaos kaki yang mulai berlubang dan kekecilan, sampai dengan kenangannya saat kecil.
Tetapi kadang memang kita harus fully prepared. Pernah suatu kali si bungsu bilang kalau si anu adalah girlfriendnya. Saya cuma menelan ludah dan berusaha kalem saat itu, walaupun panik juga. Lalu kami bicara apa sih girlfriend/boyfriend itu? Bukannya semua teman di sekolah itu kawannya? And on and on and on...
Tentu saja perbincangan semacam ini tidak bisa diselesaikan dalam satu kali. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk terus menerus mengingatkan. Dan untuk saya pribadi, yang penting mereka tahu nilai-nilai dan agama yang kita anut, sebisa mungkin dengan alasan di baliknya.

Menurut saya, sejak anak bisa bicara tidak ada salahnya kalau kita selalu jujur dengan mereka mengenai konsekuensi. Jadi alih-alih menakut-takuti, beri alasan yang logis kenapa suatu hal baik atau tidak baik dikerjakan.
Tapi ternyata eh ternyata, menyiapkan hati dan mental kita untuk menghadapi pertanyaan dan pernyataan mereka yang kadang mengejutkan, juga tidak mudah lo.

Thursday, January 5, 2012

Thursday, December 22, 2011

Kado untuk Mama

Ibu saya terkenal sebagai dosen super galak di kampusnya. Sebagai anaknya saya sih ngga menyalahkan mahasiswanya yang suka ngeper kalau sampai dipanggil menghadapnya. Hehehe... Panas dingin bok, kalo sudah satu lawan satu :)

Tapi seperti juga ibu yang lainnya, termasuk saya yg juga seringkali kejaaam, galak bukan berarti ngga sayang kan. Kegalakannya semata karena beliau ingin anak-anaknya berhasil dunia akhirat, termasuk anak didiknya. Saya banyak dibantu beliau dalam mengambil keputusan penting dalam hidup, termasuk pada saat saya memutuskan untuk mengikuti jejaknya sebagai dosen di almamater saya. Walaupun sebetulnya saya bisa mandiri dan bekerja sesuai profesi, bekerja di kampus terasa begitu menyenangkan dan memenuhi idealisme saya.

Entah kenapa, walaupun sudah bekerja dobel, di kampus dan di rumah sakit, mama selalu mengingatkan saya untuk banyak-banyak menulis. "Sambil nunggu pasien kan bisa sambil corat-coret, Vy"... Padahal kalau laporan penelitian atau jurnal ilmiah sih ada juga beberapa yang terbit di majalah nasional. Tapi tulisan itu belum dihitung mama sebagai tulisan saya, somehow...

Belakangan setelah cuti (panjang) dari profesi, lalu mengenal blog (thanks to Ragil Duta yang sudah menjadi contoh) dan multiply (thanks to Adekku yang sudah mempeloporinya lebih dulu), dll, alhamdulillah muncul beberapa peluang menjadi penulis bayangan (via audisi) di buku-buku terbitan penulis-penulis wanita yang handal, sampai terakhir muncul tawaran untuk ikut mengisi artikel di sebuah majalah online. Itulah saatnya saya diingatkan kembali, bahwa hidup kita sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur. 

Founder majalah online ini adalah kawan saya di benua kangguru yang prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia, lalu bergabung dengan kawan saya yang lain sebagai Chief Editor yang juga ahli di bidang pendidikan, dan merekrut jurnalis-jurnalis muda berbakat yang sama-sama berambisi mencerdaskan kehidupan bangsa lewat tulisan. Saya sendiri masih harus belajar banyak, tapi sebagai 'mantan pendidik' saya merasa inilah outlet terbaik yang sejalan dengan passion. Walaupun saya belum bisa menulis artikel serius mengenai pendidikan dan hanya mulai dari jurnal perjalanan.

Insya Allah, keyakinan saya hanya satu. Bahwa oleh Rasulullah, dicontohkan bahwa salah satu kewajiban kita adalah iqra, membaca ilmu Allah SWT yang bertebaran di muka bumi. Sehingga semoga jurnal ini bisa membantu kita membaca dan mempelajari tanda-tanda kebesaranNya, bahkan di tempat-tempat yang terasa jauh dari peradaban.

Dan setelah klik tombol publish, langsung saya lapor ke mama dan kasih linknya di sini: 
Surprise... beliau terdengar senang! 
Akhirnyaa... bisa juga saya kasih kado istimewa untuknya. Alhamdulillah...

Ini foto mama papa dengan cucu-cucunya

Saturday, December 10, 2011

Why should I care

Beberapa tahun terakhir ini saya baru sadar bahwa only bad news spread around. Bahwa being objective is almost impossible. Bahwa pemberitaan tidak bisa kita telan mentah-mentah, karena kita harus tahu latar belakang pembawa berita, kepentingannya dan siapa orang-orang di belakang mereka. Bahwa kita harus selalu hati-hati dalam mencerna pemberitaan, karena seringkali itu adalah cerminan pendapat penulisnya dan bisa jadi bukan fakta sebenarnya. Itu sebabnya cross checking menjadi penting, di samping ilmu riset.

Soal Indonesia saja, kebanyakan berita yang beredar masih saja seputar teroris, kemiskinan, korupsi, dll. Ke mana berita jago-jago dan ilmuwan-ilmuwan luar biasa yang menang olimpiade atau perancang-perancang Indonesia yang berhasil mempromosikan batik dan konveksi dalam negeri ke luar atau animator-animator handal atau engineer-engineer pintar yang  dihire universitas atau perusahaan di luar negeri? Hampir ngga ada. Konyolnya kita sendiri terbiasa melihat kekurangan bangsa sendiri, sampai kesulitan mencari segi positifnya.

Tiga tahun yang lalu saya ingat seorang kawan ekspat menuturkan bahwa penempatan di Indonesia bagi mereka itu seperti hidden treasure. Yang resmi tercantum di laporan perusahaan adalah Indonesia yang 'berbahaya' dengan segala resikonya. Akibatnya hardship factor Indonesia cukup tinggi dan memberikan benefit lebih untuk ekspat. Padahal, sejatinya, tinggal di Jakarta atau Balikpapan atau Riau, ibarat hidup seperti raja/ratu. Biaya hidup begitu murah, sumber daya manusia mudah dicari, budayanya begitu kaya sekaligus modern. Ibaratnya selama penempatan di Indonesia, mereka bisa menabung banyak dengan tetap bergaya hidup yang cukup nyaman. Gimana ngga nyaman, pembantu, babby sitter, supir, tukang kebun dll, semuanya bersedia dibayar dengan gaji murah. Padahal kalau mereka perlu barang-barang import, tinggal pergi ke supermarket pun sudah tersedia. Jadi sebelah mana hardship nya? Paling-paling kena macet atau kesulitan komunikasi di pasar.

Lalu kenapa saya ujug-ujug ngomong Palestina? Ya karena ndilalahnya saya dapat informasi yang terus terang sangat memprihatinkan. Lebih menyedihkan karena banyak orang, bahkan sesama muslim, masih belum mengetahui kisah sebenarnya dan keburu frustasi dengan masalah yang sejak lama tidak terselesaikan. Seringkali kalau ada kawan posting soal Palestina ada saja yang komentar: urusan dalam negeri aja masih setumpuk, ngapain ngurus negara orang.

Kalau menurut saya, salah satu pelajaran terpenting dari Palestina adalah bahwa berita tidak seluruhnya bisa dipercaya dan kewajiban kita sebagai manusia untuk menggunakan akal dan pikiran untuk menelaah setiap informasi yang kita terima sebelum bereaksi terhadapnya.

Banyak penduduk Israel, penganut Yahudi atau Kristiani, yang malah memilih mencari informasi lebih banyak, mempelajari dan mencari duduk persoalannya sampai ke riwayat sejarah pertikaian yang tidak kunjung selesai ini. Di dalam negeri mereka sendiri terjadi banyak perdebatan soal invasi dan apartheid yang dilakukan kamu Zionis. Hanya saja, bisakah kita lihat berita-berita itu di media? Hampir pasti, tidak. Seluruh berita yang keluar cenderung memihak atau bahkan mengadu domba. 

Salah satu contoh 'jurnalis' yang belajar obyektif adalah John Stewart. Komedian yang banyak memprotes kebijakan negerinya sendiri ini pernah mengundang tamu-tamu yang kalau kita lihat dari latar belakangnya bisa jadi bertentangan. yang satu jurnalis Yahudi Amerika, yang satu Palestinian Democratic Leader. Link nya bisa dilihat di sini. Selain itu saya ikutkan juga contoh link dari seorang Yahudi Amerika yang sedang mempelajari apa yang sesungguhnya terjadi yang ternyata bertentangan dengan informasi yang diperolehnya selama ini.

Lalu apa hubungannya dengan kita, yang nota bene Bangsa Indonesia, yang di dalam negeri kita sendiri pun punya segunung masalah? Ngapain repot-repot ngurus negara orang, sementara pekerjaan rumah kita sendiri pun masih butuh pemikiran? Saya sendiri punya dua motivasi menulis mengenai hal ini.

Yang pertama, sebagai seorang Indonesia, saya merasa terbiasa 'menelan' mentah-mentah informasi yang diberikan. Saya lahir dan besar pada saat informasi dikontrol penuh oleh pemerintah. Sehingga saya terbiasa percaya pada satu sumber dan cara berpikir sayapun dibentuk oleh sumber informasi itu. Dari masalah Palestina dan Zionisme ini saya belajar membuka mata dan telinga sebelum berkesimpulan apalagi mengemukakan pendapat. Menghilangkan prasangka sebelum memperoleh informasi yang cukup, apalagi memberikan label. Karena ternyata banyak media Barat, juga media Asia, yang kadang memutarbalikkan pernyataan dan memperkeruh keadaan.

Belakangan saya pun melihat hal itu terjadi di Indonesia. Kita 'termakan' oleh info media lalu ikut-ikutan komentar, lalu akhirnya malah menimbulkan perpecahan di antara kita sendiri. Misalnya soal perbedaan hari raya dijadikan kesempatan untuk menjelek-jelekan satu golongan, padahal kalau kita kembali pada panduan utama kita, masyarakat banyak lah yang harus diutamakan. Jadi pada saat itu, lebih baik kita menelan komentar, pilih salah satu yang paling sreg di hati dan move on.

Yang kedua adalah fakta bahwa kalau ini bisa terjadi di Palestina, tentu bisa juga terjadi di Indonesia. Bayangkan saja, negara kita jumlah rakyatnya yang 300 juta adalah potensi pasar yang luar biasa. Sumber daya alamnya berlimpah ruah, sumber daya manusianya pun berpotensi besar. Banyak yang memiliki kepentingan atas negara kita. Siapa yang mengambil keuntungan terbanyak dari situ, rakyat kita kah? Rasanya bukan. Kalau Bangsa Indonesia bersatu padu, menjadi bangsa yang kuat, pintar dan maju, banyak yang bisa kita capai bahkan melebihi negara Barat. Tapi apakah orang lain akan senang dengan kemjuan kita? Tentu tidak. Mereka akan lebih senang kalau kita terpecah belah, dengan alasan pluralisme dsb.

Lalu berapa banyak dari kita yang merasa tidak tenang di 'rumah' kita sendiri, karena selalu saja ada pihak yang berusaha memecah belah. Sedihnya kadang kita terbawa emosi dan ikut 'menjelek-jelekkan' saudara kita sendiri. Akibatnya satu sama lain penuh prasangka dan senang akan kesulitan saudaranya sendiri. Lalu siapa yang di balik semua itu ternyata diuntungkan? Yang pasti bukan kita...

Apartheid ini menjadi bahaya besar untuk dunia, terutama jika satu golongan merasa lebih berhak atas golongan yang lain. Coba lihat yang terjadi di Colombia hingga ke China. Bukan tidak mungkin kalau di negara kita pun sedang terjadi hal yang sama... Jadi sudah waktunya kita menemukan bentuk yang tepat untuk mengakomodasi perbedaan yang kita punya, tetapi bukan dengan cara mengasimilasi keyakinan satu dengan yang lainnya.

Intinya saya hanya ingin belajar lebih banyak dan dalam lagi, tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia ini. Batas negara sudah menipis, sehingga yang penting adalah memupuk persaudaraan. Jika kita tidak paham betul inti masalahnya, sebaiknya hindari berkomentar yang bisa menyakiti orang lain, apalagi saudara sendiri. Seperti kata Rasulullah, apa kita suka makan bangkai saudara sendiri? Seperti itulah hinanya kita kalau menjelekkan saudara kita di depan orang lain. Kalau pun mau memperbaiki, katakan langsung pada yang bersangkutan, one on one. Persis kalau kita mau mengkoreksi anak kita, jangan salahkan di depan orang lain. Ajak bicara dari hati ke hati, di tempat tertutup supaya hanya ada kita dan sang anak, dan berikan solusi instead of menyalahkan atau menyesali sesuatu yang sudah berlalu.

Sejujurnya, siapa sih yang bisa mengerti betul suatu masalah kalau kita tidak walk in their shoes? Akan sulit memahami kenapa seseorang memilih melakukan satu hal dan bukan hal yang lain, karena sudut pandang tiap orang sangat mungkin berbeda dengan kita. Lebih baik energi kita dipakai untuk mensupport saudara-saudara kita dan keep positive. Hati-hati dengan label yang ditempelkan oleh media, terutama barat, untuk teman atau saudara kita. Selalu berprasangka baik, insya Allah lebih utama. Dan tidak ada satupun orang yang berhak menghakimi pendapat, keyakinan bahkan pilihan orang lain, karena kita bukan pencipta mereka.