Sunday, March 30, 2014

Gorgeous Batiks, Crazy Meticulously Made by Bayu Aria

by Hot Wax Jogja and his Sidang Batik Online.
Never seen any batik like these before, especially the colors and the details!
More info to come, and you should see my finding from the event :) It's one of a kind.














Sunday, November 10, 2013

Kita, di Indonesia, BISA!

Setelah tiga tahun lebih tinggal di sini, saya masih belum mengerti kenapa begitu sulitnya common sense dipahami di negeri ini. Sejujurnya sih di Indonesia juga masih jadi masalah ya, tapi lebih karena kita masih punya banyak pe-er mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sini, kelihatannya masalah diperumit dengan fakta bahwa hedonisme sudah mengakar sampai ke lapisan terbawah, bahwa memperoleh kebutuhan dasar seperti gula, tepung, susu pun adalah tantangan (bukan karena harganya mahal, tapi karena barangnya tidak tersedia. Harga gula sekilo di sini tidak sampai 1000 rupiah, bensin setanki penuh mobil besar juga sekitar 1000 rupiah, sekolah gratis, dll. Tapi ternyata harga murah juga bukan jaminan rakyat senang). Selain itu konsep toleransi dan kebangsaan di negeri ini rasanya tidak sekuat di Indonesia (kalau yang ini pendapat subyektif penulis ya).

Saya ngga ngerti kenapa sang presiden mengumumkan bahwa "rakyat dipersilakan mengambil kembali uang yang diambil oleh toko-toko penyedia barang elektronik, karena mereka telah menjual dengan harga mahal", sementara pengusaha harus bingung bagaimana menyediakan barang dengan harga riil yang tidak mungkin dibayar dengan harga resmi yang ditetapkan pemerintah.

Untuk ilustrasi, nilai tukar uang lokal dibandingkan dengan uang amerika resmi adalah 1:6.3. Sementara nilai tukar riilnya adalah 1: 60. Memang di mana ada kesempitan selalu ada peluang, terutama untuk mereka yang menjadikan uang sebagai komoditas, yang haram dalam Islam. Tapi untuk pengusaha, faktanya mereka harus membeli barang dengan harga riil, untuk dijual dengan harga yang wajar. Mosok dia beli tv 200 lalu harus dijual 50. Bagaimana dengan nasib pegawai yang kerja untuk mereka? Mau dibayar dengan apa kalau pengusaha tidak bisa mengembalikan modal yang dikeluarkannya. Belum lagi biaya transportasi, dll. Mau dibayar pakai apa supir dan orang yang membantu membawa barang tsb dari pelabuhan ke warehouse dan ke toko? Itu baru hitungan yang paling sederhana dan naif. Masalah sebenarnya bisa jadi jauh lebih kompleks dari pada hitung-hitungan ekonomi a la ibu-ibu macam saya, karena buntut politik pun terseret di belakangnya.

Parahnya, saat pengumuman itu dibuat, orang lalu memanfaatkannya dengan menjarah toko-toko tersebut. Kok bisa? Kan harganya sudah diturunkan, ya mbok at least dibeli to dengan harga yang sudah ditetapkan. Lah kok ini malah diambil, seolah-olah hak mereka. Di mana value, dignity dan honesty sebagai manusia yang beradab? Ngambil milik orang di agama apa pun dianggap sebagai mencuri. Mencuri ya dosa. Lalu yang saya ndak ngerti, tindakan itupun seolah-oleh 'direstui' oleh pemerintah. Malah tentara dan polisi yang menjaga juga ikut mengambil barang-barang elektronik tsb. Bayar atau nggaknya, wallahu alam...

Rasanya yang bisa dipelajari dari hal ini adalah di Indonesia kita harus mulai menghormati hak petani bawang, petani kedelai, peternak, nelayan, dan penyedia kebutuhan kita lainnya (sampai dengan tukang kayu yang membuatkan kita meja belajar, tukang batu yang ikut membangun rumah kita, asisten di rumah, dsb dsb) untuk memperoleh kehidupan yang layak. Bayar jasa dan produk mereka dengan harga yang pantas. Bukan hanya harga yang murah. Kita maju, mereka maju, semuanya maju, kalau mau bekerja keras.

Mahal atau murah sangat relatif. Tapi selama kita fokus membangun kekuatan ekonomi rakyat Indonesia, maka yang dicari bukanlah harga yang murah tapi kualitas. Fokus dengan harga murah malah menyebabkan pemerintah harus mengimport beras, kedelai, sampai batik pun harus diimport dari Cina. Akibatnya, potensi kita untuk swasembada pun jadi menurun. Di masa yang akan datang, anak cucu kita yang bakal menanggung akibatnya kalau negeri ini tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Demikian pula pengiriman TKI ke luar negeri yang dilatar belakangi oleh 'kebanggaan' dan 'promosi' bahwa tenaga kerja Indonesia itu murah, sudah waktunya dihentikan. Promosikan kalau TKI kita pekerja keras, mau belajar, ulet, endurancenya tinggi, dsb dsb. Jadi bayar mereka dengan harga pantas, bukan murah. Mari fokus bagaimana pendapatan dan kualitas hidup rakyat kita meningkat.

Harga murah terbukti tidak bisa menjamin kesejahteraan rakyat. Setiap hari saya melihatnya di sini. Bensin murah, tapi rakyat harus menjarah untuk mendapatkan sembako? Ndak masuk akal ... Beras murah, gula murah, minyak goreng murah, tapi rakyat hidup tidak tenang karena negara tidak aman? Yo opo rek... Nodong pun jamak di siang hari bolong, seakan sudah jadi profesi (cek video ini (http://caracaschronicles.com/2013/11/05/a-day-in-the-life/) terutama di menit ke 2:15). Naudzubillah...  Sekolah gratis, ke dokter gratis, tapi tidak tersedia perban/obat-obatan/matras tempat tidur? Astaghfirullah ...

Lalu bagaimana meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia? Satu-satunya cara: pendidikan. Ya, memang mahal. Ya, memang ndak kelihatan hasilnya secara instan. Ya, memang sulit. Ya, memang buanyak rakyat yang harus dididik. Ya, memang kelihatannya tidak berhubungan. Tapi definitely is the answer. Dan harus dimulai, sekarang.

Update:
Setelah melihat wawancara seorang ekonom di Singapura, ada satu kalimat yang akhirnya menyadarkan saya bahwa yang perlu kita usahakan adalah bagaimana seorang warga bisa menjalankan profesinya (apapun itu: guru, dokter, pengusaha, petani, nelayan, mekanik, tukang kayu, dsb dsb) dengan profesional (baca: berilmu dan berketrampilan) dan happy dengan incomenya dalam menjalankan profesi tsb, sehingga bisa hidup dengan layak bersama keluarganya (nb: kebutuhan dasar terpenuhi dengan standar yang baik, pendidikan dan pelayanan kesehatan terjamin, hingga kesehatan jiwa dan raga yang terjaga). How easy will that be, if everyone understand it and being considerate one to another, focus on moving forward as one big nation (sans labeling each other by the color of their skin, their religion, their status, etc.).


Thursday, October 31, 2013

Alhamdulillah

Sabtu lalu kami punya rencana mengantar si bungsu ke turnamen karate.
Seperti biasa pagi-pagi setelah sarapan dan bersiap kami segera turun ke garasi. Si sulung saya memilih tinggal di rumah, dan karena belakangan ini dia punya banyak sekali pekerjaan rumah kamipun mengijinkannya tinggal sendiri di rumah.

Saat di garasi (ngomong-ngomong ini garasi bersama ya, karena kami tinggal di apartemen yang dihuni sekitar 12 keluarga) dan akan membuka pintu samping saya pun menjerit dan terbengong-bengong mendapat jendela kaca samping pecah berkeping-keping. Suami, yang saat itu alhamdulillah ada di rumah dan sedang memasuk-masukkan bekal ke bagasi, seperti biasa hanya komentar ,"ada apa siiiih..." dengan kalemnya. Tapi waktu melihat mulut saya yang masih menganga sambil menunjuk kaca mobil, suami pun menyuruh kami segera masuk ke dalam mobil.

Saat itu saya tidak sadar kenapa dia malah menyuruh kami masuk mobil yang masih penuh pecahan kaca. Tapi setelah semuanya mereda saya pun jadi 'engeh' karena bisa jadi sang pelaku masih berkeliaran di garasi itu. Karena hari sabtu pagi umumnya tidak sesibuk hari kerja, garasi pun terasa sunyi mencekam. Si sulung pun cepat-cepat dipanggil untuk ikut mengantarkan adiknya. Membiarkannya di rumah sendiri rasanya tidak tenang.

Yang membuat saya shock adalah saat memikirkan bagaimana sang pelaku bisa masuk ke garasi. Karena situasi kota Caracas yang sangat amat tidak aman (kabarnya kota ini menduduki posisi nomor dua sebagai kota paling tidak aman sedunia. Sumbernya? Nanti saya cari link nya dulu ya. Tapi paling tidak tahun lalu ada 70 orang polisi yang terbunuh di negeri ini. Bayangkan kalau polisi saja terbunuh, bagaimana dengan penduduk sipil?). Kembali ke maksud kalimat sebelumnya, karena kota ini dikenal tidak aman, lazimnya orang tinggal di apartemen yang berpenjaga, komplit dengan kamera di mana-mana, kunci di mana-mana.

Mau masuk rumah, paling tidak saya perlu 3 kunci. Pintu rumah pun terbuat dari besi. Sementara pintu masuk dari belakang ada dua lapis. Satu pintu besi dan satu pintu jeruji. Jangankan orang asing, kalau kami kedatangan tamu maka sang tamu hanya bisa masuk ke lobi apartemen setelah penjaga mengkorfimasi bahwa tamu itu memang kami kenal. Setelah itu pun kami harus menjemput tamu ybs karena untuk bisa menggunakan lift harus ada kunci khusus. Pendek kata ribet  ribet ribet, saking tidak amannya. Karenanya saya bingung, bagaimana bisa orang asing masuk ke garasi, bahkan merusak empat mobil, dslam satu malam. Mobil yang terakhir dicoba dirusak tidak sampai pecah kacanya karena mobil tersebut kacanya dilapisi anti peluru. Begitulah kriminalitas di negeri ini, sampai-sampai mobil anti peluru pun tidak hanya dimonopoli pejabat negara.

Alhamdulillah, suami ada di rumah saat itu terjadi. Tapi karena dia seringkali harus pergi, maka setelah panik sedikit mereda, kami lebih fokus untuk mencoba memperkecil kemungkinan kejahatan terjadi di waktu yad.

Beda dengan di Indonesia, di sini kami betul-betul belajar menikmati rumah dan apa yang ada. Hampir setiap akhir minggu kami hanya tinggal di rumah, ngobrol, tidur, atau kadang main badminton di ruang tamu :) Jadi kalau urusan pergi-pergi, sudah sangat dikurangi sejak awal. Undangan penting dari kantor suami dll pun dengan hati-hati dipilih. Kalau tidak penting sekali sebisa mungkin kami hindari. Tapi saat intruder bisa masuk ke garasi, perasaan aman saat di rumah pun jadi menipis. Kadang di pagi hari saya harus turun ke garasi karena harus mengantar anak ke sekolah dan menyetir sendiri. Karenanya setelah kejadian ini saya jadi lebih paranoid.

Ternyata rasa aman adalah kebutuhan alamiah manusia. Terus terang di hari itu saya stress luar biasa. karena merasa tidak aman berada di apartemen yang sudah tiga tahun kami huni. Alhamdulillah suami relatif bisa mengerti, tetap berpikir jernih dan positif. Setelah mengontak sekuriti kantor, kami pun cuma bisa menunggu investigasi mereka. Lapor polisi sangat tidak dianjurkan oleh mereka (terbayang kah, kalau polisi pun bukan lagi tempat mencari perlindungan?). 

Tidak lagi penting barang yang hilang dan rasa takut yang ditimbulkan. Alhamdulillah kami semua masih dalam keadaan sehat dan selamat, berkat perlindungan Allah SWT. Yang bisa kami kerjakan adalah berserah diri sepenuhnya pada Sang Penguasa, menambah kunci penguat di pintu-pintu rumah, dsb dsb. Insya Allah, semua usaha sudah dilakukan. Selebihnya hanya Allah SWT yang bisa melindungi kami. 

حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbiyallah wa ni'mal wakiil
Allah is my availer and protector and the best of aids

Thursday, September 26, 2013

Bahasa menunjukkan Karakter?

Benarkah?

Ingat saat belajar bahasa Inggris di sekolah? Betapa ribetnya mengingat kata kerja yang berubah-ubah sesuai dengan subyek (she does, I do, etc) dan keterangan waktu (she did it yesterday, she does it everyday, she has done it before, etc). Saat itu paling tidak saya merasa betapa kompleksnya bahasa Inggris. Belum lagi soal pengucapan yang bisa mirip tapi berbeda arti (three vs tree, this vs these).

Saat pindah ke Venezuela dan mengenal bahasa Spanyol versi Amerika Latin, ternyata semakin pusing lah saya. Bukan hanya kata kerja yang berubah-ubah untuk setiap subyek dan setiap waktu, struktur kalimatnya pun tidak bisa diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris. Setiap subyek punya kata kerja masing-masing, di setiap waktu dan tiap keadaan. Walhasil kata kerja yang harus diingat pun semakin banyak. Belum lagi feminitas dan maskulinitas setiap kata kerja, yang harus diberi imbuhan el atau la sesuai 'jenis kelaminnya'. Botol ternyata feminin, sementara pensil maskulin. Sejauh ini saya belum terlalu mendalami grammar. Tapi terbayang betapa otak harus diputar sedemikian sehingga saya bisa menghindari menterjemahkan kalimat dari bahasa Inggris ke bahasa Spanyol. Satu kata yang terbayang di benak saat berhadapan dengan guru Spanyol adalah: ruwet alias complicated.

Tetapi karena belajar bahasa asing pula lah (?) saya jadi menyadari betapa SEDERHANA dan LUGASnya bahasa Indonesia. Siapapun subyeknya, kapanpun terjadinya, kata kerjanya hampir selalu sama. Walaupun untuk memeperjelas kita juga menggunakan keterangan waktu, dll.

Berikut contoh versi super dudul:

Versi Bahasa Indonesia:
Kemarin saya makan sate. Hari ini saya juga makan sate. Besok saya makan sate lagi.
Kemarin kamu makan sate. Hari ini kamu juga makan sate. Besok kamu makan sate lagi.
Kemarin anakku makan sate. Hari ini anakku juga makan sate. Besok anakku akan makan sate lagi.

Versi Bahasa Inggris:
I ate sate yesterday. Today I also eat sate. Tomorrow I will eat more sate.
You ate vs you eat vs you will eat
He ate vs he eats he will eat

Jreng jreng! Versi bahasa Spanyol:
Yo comí sate ayer. Hoy yo como sate también. Manana yo comeré más sate.
comiste vs Tú comes vs Tu comerás
El comió vs El come vs El comerá

Kelihatan kah bedanya?

Dengan otak dan mata yang semakin menua, adalah tantangan untuk terus semangat belajar dan belajar.

Ini hanya 'analisa' tabrak lari, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tapi paling tidak, lagi-lagi, saya jadi semakin bersyukur dan bangga karena Indonesia is the best! :)

Arif's Art

Arif's art class always inspires me!



Wednesday, September 25, 2013

Updates from the Land of Beauty

Maybe these articles below are just people's opinions.
Nevertheless, knowing how it feels to live here, I can relate to it.
It's a truth, that many people can't understand.

This is the land of the most beautiful people in the world live, but somehow, they lost something...

This is the story that relates to me, when I felt trapped inside this country, not knowing if I can go any where if I need to.

While this story reflects what I see or feel on daily basis.  

The link below had given me a clearer view on how all this happened. No direct link though, as they may be able to track it (believe me, I know people who simply can't buy a new car, even get any job just because his name is on 'the' list). So if you're interested just copy this: http://www.eluniversal.com/opinion/130925/how-bad-can-it-get

This is one of the day when I need some inspiration on how to enjoy another day in this beautiful country. Lucky me, alhamdulillah, gracias a Dios, it's not even a war zone like Palestine or Syria.

Monday, September 16, 2013

Most Expensive Things in The World


Not the LV bag, nor the Porsche.
It's dignity and knowledge to differentiate the truth from the false.
As the line between white and black has became blur and no one will be able to tell you which one is correct. You just have to find it yourself.
Fitnah, has written as the most dangerous thing that will destroy us. There are evidence around us. Getting clearer and more obvious. The biggest fitnah has yet arrived.
The only thing that matter is whether we know how to protect ourselves and our family from it.
Fitnah = slander, defamation, calumny, denigration, aspersion, libel, vilification, etc.
None of these words are familiar for me. So I stick with fitnah.

O Allah! I seek refuge with you from the punishment in the grave and from the punishment in the Hell fire and from the afflictions of life and death, and the afflictions of Al-Masih Ad-Dajjal.