Saya sering berbeda pendapat dengan suami.
Salah satunya soal perlunya anak-anak belajar berdebat melalui forum debat. Mungkin tidak berdebat, tapi lebih tepat disebut beragumen dan mempertahankan argumennya. Tentu dengan latar belakang pengetahuan yang cukup.
Dibesarkan dalam lingkungan Jawa, saya jarang, tidak pernah malah belajar berdebat. Kalaupun ada orang yang beda pendapat dengan saya, saya cuma angkat bahu dan menghindari argumentasi. Bahkan cenderung mengalah. Kalau anak-anak berdebat dengan saya? Ya jelas aturannya : bunda tidak pernah salah :)
Belakangan saya belajar bahwa berdebat itu biasa, apalagi kalau sesuatu yang kita yakini betul. Kuartal kemarin Farhan punya satu nilai B yang saya anggap aneh. Setahu saya dia selalu belajar keras dan selalu keep up dengan tugas. Yang bagus dari sekolah anak-anak, saya bisa cek nilai dan kemajuan mereka hampir setiap saat melalui website gurunya di sekolah. Kalau ada yang drop, saya bisa lacak tes atau tugas apa yang membuat nilainya turun. Waktu saya tanya ke Farhan, kenapa nilai tes ternetu di Social Studies turun, dia bilang menurutnya hasil tesnya bagus. Anehnya di website tampak beda.
Saat pertemuan ortu dengan guru, saya sempat menanyakan hal tsb. Guru yang masih super muda itu hanya bilang "Mmmm...mungkin dia pikir tesnya gampang, jadi dia ngga belajar. Tapi basically mereka tahu semua bahannya kok. Tapi biasalah, anak-anak kan suka menggampangkan."
Saya yang tahu anak saya jarang "menggampangkan" apalagi soal pelajaran sekolah, agak kurang puas dengan jawaban si guru. Tapi alih-alih berargumen, khawatir dibilang terlalu membela anak sendiri, saya cuma bilang "Ok".
Sampai di rumah saya cek lagi dengan Farhan. Dia malah bilang jawabannya betul semua, karena setelah cek mereka semua langsung diberi tahu jawabannya.
Lalu saya pun minta Farhan menemui gurunya. Bukan untuk mempertanyakan nilainya, tapi just say "Mr. SR, I know you can't change the grade on that subject. But may I know which part that I got wrong? So I won't make same mistakes next time?' Padanya saya ingatkan, ndak perlu berdebat, just see and learn how to fix it.
Esok siangnya Farhan pulang dengan sumringah dan bilang kalau ternyata hasil tesnya betul semua! Sepertinya si guru lah yang sedang meleng, jadi mungkin salah memasukkan skor. Waktu ditanya bagaimana reaksi sang guru Farhan cuma bilang "He said he don't know how that happened". Well, Mister!
Jadi siapa bilang bule ngga pernah bikin salah? Sopan tentu perlu, respek apalagi. Tapi kalau yang salah ya kudu dibetulkan.
Guru yang sama juga mengajarkan teori evolusi di kelas. Suatu hari saat makan malam dan Farhan cerita soal pelajaran itu, sang ayah pun hanya bertanya "Kira-kira kamu setuju ngga kalau manusia dibilang "berasal" dari hominids?" Dan Farhan pun hanya bilang "I don't think so. It's like insulting us, to be honest."
Maka kami pun setuju, pelajaran di sekolah diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, tapi common sense anak-anak harus terus diasah. Suatu hasil penelitian tentu harus dihargai, tetapi soal setuju atau tidaknya kita harus gunakan common sense. And that's how we are different from any other creatures: will and common sense.
Anak-anak tidak perlu berdebat dengan gurunya mengenai hal-hal yang mereka yakini. Tapi pada saat mereka ditanya, mereka harus tahu bagaimana mempertahankan pendapatnya dengan menunjukkan bukti ilmiah yang terpercaya.
Saya pun mulai percaya, bahwa belajar berargumen memang perlu. Hmmm...mungkin lebih tepat disebut belajar mengemukakan pendapat ya. Klub debat di sekolah mungkin bisa dijadikan tempat latihan. Sayangnya di sekolah ajang debat masih terbatas di klub Junior Model of United Nation. Mungkin karena kalau dibuatkan klub debat di sini , maka perdebatannya bisa panjang dan bertele-tele. Kasihan pembimbingnya *hehehe, kalau yang ini hasil pengamatan pribadi dan subyektif ya
Iya belajar mengemukan pendapat dan mempertahankannya ternyata penting. Lebih penting lagi belajar berargumen dengan tetap menjaga kesopanan dan rasa hormat pada semua pihak. Bisa saja di ruang kerja kita berbeda pendapat dengan rekan kerja. Tapi setelahnya pertemanan tidak boleh terganggu. Beda pendapat antar kawan, lumrah kan. Justru pertemanan kita diuji jika kita bisa menerima perbedaan dan tidak membuat orang lain tetap merasa nyaman berteman walaupun berbeda dengan kita.
Soal kisah debat yang sampai pukul-pukulan di negeri ini kapan-kapan insya Allah bakal ditulis juga di sini. Tapi memang kedewasaan dan kemajuan peradaban suatu bangsa bisa dilihat dari cara mereka menyampaikan pendapat, dalam parlemen atau di ruang kelas, tanpa harus emosi.
Naaah, jadi kalau bunda masih belum mau didebat sama anaknya, berarti sudah beradab belum yaaa *garuk-garuk
EPHO's note
This is a journal of my life since December 07. Mostly about my family and my thought during the journey, exploring Trinidad and now Venezuela.
Sunday, May 19, 2013
Friday, May 17, 2013
Pekerjaan Paling Gampang
Apa coba?
Ngomong sama mengkritik
Enak kan, ngga ngerjain apa-apa lalu komentar.
Begitu deh...
Waktu pemilu pada doyaaaan ngobrol di taman, di parkiran, sambil nunggu anak sekolah, di mana-mana deh. Ngapain? Ngobrol... Oooh, kudunya begini, si anu begitu, kalu menurut saya ini bagus, itu jelek. Hedeh! Doyan banget ngomong. Sementara yang eperlu dikerjakan adalah mendidik masyarakat banyak yang umumnya ada di tempat-tempat yang kurang enak dikunjungi.
Saya ndak pernah pengen nonton tivi di sini. Soalnya nanti tiba-tiba ada siaran langsung yang wajib direlay seluruh stasiun. Isinya, apalagi kalau bukan pidato. Sejam? Dua jam? Berjam-jam.
Pernah salah satu tokoh oposisi mau bikin konferensi pers soal pemilu. Sudah berencana sejak siang, disiarkan langsung malam hari. Eh, tiba-tiba bapak-bapak pejabat pengen ngobrol.
Lalu si bapak pidato, pidato, pidato. Kadang-kadang nyanyi, joget juga lo.
Jadilah pak oposisi nunggu sampai hampir tengah malam, supaya pesannya bisa didengar banyak orang. Walaupun kalau dah tengah malam yang bertahan ya cuma pendukungnya.
By the way, saya ngga dukung siapa-siapa loh ya. Cuma itu faktanya.
Lah terus ngapain juga saya nulis di sini. Namanya cuma komentar juga dong.
Mendingan bergerak, do something... anything. Misalnya cari toilet tissue yang lagi ngga ada di mana-mana dan kabarnya sampai mau diimportkan 50 juta (rol). Oya, ini sumber beritanya memang AP, kalau mau berita aselinya main ke sini aja ya
Ngomong sama mengkritik
Enak kan, ngga ngerjain apa-apa lalu komentar.
Begitu deh...
Waktu pemilu pada doyaaaan ngobrol di taman, di parkiran, sambil nunggu anak sekolah, di mana-mana deh. Ngapain? Ngobrol... Oooh, kudunya begini, si anu begitu, kalu menurut saya ini bagus, itu jelek. Hedeh! Doyan banget ngomong. Sementara yang eperlu dikerjakan adalah mendidik masyarakat banyak yang umumnya ada di tempat-tempat yang kurang enak dikunjungi.
Saya ndak pernah pengen nonton tivi di sini. Soalnya nanti tiba-tiba ada siaran langsung yang wajib direlay seluruh stasiun. Isinya, apalagi kalau bukan pidato. Sejam? Dua jam? Berjam-jam.
Pernah salah satu tokoh oposisi mau bikin konferensi pers soal pemilu. Sudah berencana sejak siang, disiarkan langsung malam hari. Eh, tiba-tiba bapak-bapak pejabat pengen ngobrol.
Lalu si bapak pidato, pidato, pidato. Kadang-kadang nyanyi, joget juga lo.
Jadilah pak oposisi nunggu sampai hampir tengah malam, supaya pesannya bisa didengar banyak orang. Walaupun kalau dah tengah malam yang bertahan ya cuma pendukungnya.
By the way, saya ngga dukung siapa-siapa loh ya. Cuma itu faktanya.
Lah terus ngapain juga saya nulis di sini. Namanya cuma komentar juga dong.
Mendingan bergerak, do something... anything. Misalnya cari toilet tissue yang lagi ngga ada di mana-mana dan kabarnya sampai mau diimportkan 50 juta (rol). Oya, ini sumber beritanya memang AP, kalau mau berita aselinya main ke sini aja ya
Wednesday, May 15, 2013
Lima Belas Jam di Curacao
Jantungan!!!
Gimana ngga jantungan, sejam -satu jam!-sebelum jadwal take off pesawat kami baru dapat paspor. Jam 8.15 malam kami keluar dari kedutaan Belanda, pesawat (seharusnya) take off jam 9.30. Itupun masih harus menerjang macetnya Caracas, weekday, waktunya orang pulang kantor.
Pernah mikir Indonesia parah soal pelayanan publik? Bandingkan dengan kedutaan ini yang sampai kudu buka sampai jam 8 malam, cuma karena paspor yang seharusnya siap paginya belum sampai juga di kedutaan. Mana ada cerita kedutaan buka sampai malam?
Takjub sendiri waktu bisa sampai di airport 15 menit sebelum jadwal pemberangkatan. Konter check in sudah tutup semua. Cuma satu orang yang khusus menunggu kami. Kabarnya pesawat keberangkatan ditunda *tapi bukan gara-gara kita lo.
Security check lewaaaat.
Imigrasi? Oh no!!!... Perlu waktu seperempat jam untuk bisa meyakinkan si mbak, yang bingung membolak-balik travel permit, cek tanda tangan dan tanya soal kartu identitas bapaknya *yang jelas-jelas ngga ikut. Oalah, pesawat saya dah mau berangkat mbak...
Long story short, sampai Curacao jam 1 malam (taksi pun tinggal tiga biji di airport Curacao). Esoknya setelah 'serah terima' Farhan ke guru/chaperonnya (mereka ke Curacao untuk field trip), saya dikabari hotel,"Kamu harus siap dijemput jam 12.30 ya. Pesawatnya jam 4, tapi tahu kan, airlines ini suka mengubah jadwal seenak udelnya. Jadi mending datang 3 jam sebelumnya. Ok?"
Yup, Insel Air, terkenal suka berubah jadwal. I mean berubah jadi lebih cepat (seperti grup yang berangkat sebelum kami, mereka take off satu jam lebih cepat dari jadwal. Akibatnya: terdampar di airport tanpa ada yang menjemput), atau jadi super telat (seperti pesawat yang kami tumpangi: telat 2 jam. Sampai taxi yang harusnya menjemput menyerah. Tidak ada kabar dari airline, apalagi memperoleh info kepastian kedatangan pesawat). We learned our lesson here: never fly with them...
Jadilah, rencana keliling supermarket cari kecap, bumbu Indonesia dll harus dibatalkan. What can we do in 2.5 hours? (including taxi time) This is what I did: take a deep breath, sit down, enjoy a cup of good coffee and a cake with a real cream made from a real milk (di Caracas akibat kelangkaan produksi susu, segala bentuk cream dibuat dari minyak. Rasanya? Lumayaaaaan...)
Setelah kegilaan semalam, rasanya lebih baik saya menghabiskan waktu yang cuma sedikit itu untuk rileks dan menghargai setiap indera. The breeze and the humid air on your skin, the smell of salt in the air, the sweet creamy cream on the Dutch apple cake, the colorful buildings on both side of the pontoon bridge that swing when you walk on it. Dan walaupun cuma dengan kamera handphone yang baterainya sekarat, foto tetap harus ada sebagai oleh-oleh toh?
Dua setengah jam pun berlalu begitu cepat. Waktunya kembali ke Caracas. Sekali lagi, dalam waktu 24 jam, saya harus melalui semua proses birokrasi: imigrasi di sana dan di sini, security check di sana dan di sini. Well, kalau di Indonesia, terbang 45 menit jarang-jarang perlu paspor ya.
Btw, penduduk Venezuela dan Cuaracao, tahukah kalian, Indonesia punya 17 ribu pulau! Ratusan juta orang harus diurus di sana. That's ONE huge country to take care. Bandingkan dengan 30 juta penduduk dan (kalau ndak salah) 350 an pulau. Let's make things simple, ok?
Gimana ngga jantungan, sejam -satu jam!-sebelum jadwal take off pesawat kami baru dapat paspor. Jam 8.15 malam kami keluar dari kedutaan Belanda, pesawat (seharusnya) take off jam 9.30. Itupun masih harus menerjang macetnya Caracas, weekday, waktunya orang pulang kantor.
Pernah mikir Indonesia parah soal pelayanan publik? Bandingkan dengan kedutaan ini yang sampai kudu buka sampai jam 8 malam, cuma karena paspor yang seharusnya siap paginya belum sampai juga di kedutaan. Mana ada cerita kedutaan buka sampai malam?
Takjub sendiri waktu bisa sampai di airport 15 menit sebelum jadwal pemberangkatan. Konter check in sudah tutup semua. Cuma satu orang yang khusus menunggu kami. Kabarnya pesawat keberangkatan ditunda *tapi bukan gara-gara kita lo.
Security check lewaaaat.
Imigrasi? Oh no!!!... Perlu waktu seperempat jam untuk bisa meyakinkan si mbak, yang bingung membolak-balik travel permit, cek tanda tangan dan tanya soal kartu identitas bapaknya *yang jelas-jelas ngga ikut. Oalah, pesawat saya dah mau berangkat mbak...
Long story short, sampai Curacao jam 1 malam (taksi pun tinggal tiga biji di airport Curacao). Esoknya setelah 'serah terima' Farhan ke guru/chaperonnya (mereka ke Curacao untuk field trip), saya dikabari hotel,"Kamu harus siap dijemput jam 12.30 ya. Pesawatnya jam 4, tapi tahu kan, airlines ini suka mengubah jadwal seenak udelnya. Jadi mending datang 3 jam sebelumnya. Ok?"
Yup, Insel Air, terkenal suka berubah jadwal. I mean berubah jadi lebih cepat (seperti grup yang berangkat sebelum kami, mereka take off satu jam lebih cepat dari jadwal. Akibatnya: terdampar di airport tanpa ada yang menjemput), atau jadi super telat (seperti pesawat yang kami tumpangi: telat 2 jam. Sampai taxi yang harusnya menjemput menyerah. Tidak ada kabar dari airline, apalagi memperoleh info kepastian kedatangan pesawat). We learned our lesson here: never fly with them...
Jadilah, rencana keliling supermarket cari kecap, bumbu Indonesia dll harus dibatalkan. What can we do in 2.5 hours? (including taxi time) This is what I did: take a deep breath, sit down, enjoy a cup of good coffee and a cake with a real cream made from a real milk (di Caracas akibat kelangkaan produksi susu, segala bentuk cream dibuat dari minyak. Rasanya? Lumayaaaaan...)
Setelah kegilaan semalam, rasanya lebih baik saya menghabiskan waktu yang cuma sedikit itu untuk rileks dan menghargai setiap indera. The breeze and the humid air on your skin, the smell of salt in the air, the sweet creamy cream on the Dutch apple cake, the colorful buildings on both side of the pontoon bridge that swing when you walk on it. Dan walaupun cuma dengan kamera handphone yang baterainya sekarat, foto tetap harus ada sebagai oleh-oleh toh?
Dua setengah jam pun berlalu begitu cepat. Waktunya kembali ke Caracas. Sekali lagi, dalam waktu 24 jam, saya harus melalui semua proses birokrasi: imigrasi di sana dan di sini, security check di sana dan di sini. Well, kalau di Indonesia, terbang 45 menit jarang-jarang perlu paspor ya.
Btw, penduduk Venezuela dan Cuaracao, tahukah kalian, Indonesia punya 17 ribu pulau! Ratusan juta orang harus diurus di sana. That's ONE huge country to take care. Bandingkan dengan 30 juta penduduk dan (kalau ndak salah) 350 an pulau. Let's make things simple, ok?
Tuesday, April 9, 2013
I do hope for the best for this country, for these people
I really do...
This lady was a lovely person.
She and her friends just do what they have done for years. Años y años ...
Paint those ceramics in a small workshop, that's hidden on the hill.
They don't even have a mark on their products, which is a shame.
Survival is the word.
As in this beautiful country even a simple handy-craft is difficult to produce.
This lady was a lovely person.
She and her friends just do what they have done for years. Años y años ...
Paint those ceramics in a small workshop, that's hidden on the hill.
They don't even have a mark on their products, which is a shame.
Survival is the word.
As in this beautiful country even a simple handy-craft is difficult to produce.
Monday, March 11, 2013
Yang Sedang Sembunyi
Gulaaa...ke mana kau?
Sudah lamo kali tak basuo...
Tapi di lain pihak, alhamdulillah, saat ini tepung terigu sudah muncul. Walaupun hanya yang self raising dan dapatnya pun sesuai dengan nasib kita hari ini. Kalo paaaas ada, ya syukur. Kalo ngga ya lanjut cari di toko lain :)
Minyak goreng juga sudah terlihat banyak di pasar, walaupun hanya varian minyak kedelai atau biji bunga matahari, alias lebih mahal dari minyak sayur biasa.
Butter yang sudah dua bulan hilang, muncul lagi walaupun produk import dari Uruguay.
Beras, alhamdulillah, baru tadi dapat dua kantong dari tiga kantong terakhir yang teronggok di toko Cina. Sementara beras Jasmin sudah kosong walaupun harganya sudah berlipat ganda menjadi ribuan bolivar dalam waktu dua bulan.
Well, alhamdulillah, walaupun harus bikin special trip setiap kali mau belanja bahan pokok makanan, kami masih tetap bisa makan dengan enak dan insya Allah halal (thanks to caterer rekan Indonesia). Di sini grocery shopping jarang bisa dilakukan sekali jalan.
Pengen bikin martabak atau donat? Mmmm...nanti dulu ya.
Gimana kalau bikin muffin aja yang tepungnya cukup satu cup, gulanya hanya 150 g (angkanya kudu dicek lagi, nih, tapi pokoknya dikit deh) dan bisa pakai minyak/mashed banana instead of butter? Biar tambah manis campur dengan chocolate chips yang jadi produk andalan di sini dan relatif mudah didapat. Sip kaaan...
Sempat bikin Dutch Soft Cookies yang resepnya 300 g tepung, 150 g gula dan 200 g butter saja. Tapi pas mau bikin maju mundur kayak bajaj. Sampai akhirnya butter hasil hunting tahun lalu. harus direlakan. Ini gara-gara sekolah diliburkan tiga hari sehingga untuk cheer-up diri sendiri kami pun menikmati cookies full butter yang renyah dan wangi. Saking saking jarang bisa bikin cemilan, cookies itu hari ini tinggal sepotong.
Jadi yang manis-manis minggir dulu yaaa.
Kali ini giliran yang asin-asin aja deh.
Seperti Quiche jamur resep andalan Ite: cukup tepung, krim/susu telur dan keju.
Ealah... tapi keju halalnya kudu tunggu teman jalan ke Trinidad dolo .
Dan telur, kenapa harganya jadi mahal banget yaaaa
Krim? Hmmm, beberapa bulan terakhir krim pun terpaksa dibuat dari minyak.
Kebayang ngga kalau minum kopi pakai whipped cream versi minyak sayur?
Sudah lamo kali tak basuo...
Tapi di lain pihak, alhamdulillah, saat ini tepung terigu sudah muncul. Walaupun hanya yang self raising dan dapatnya pun sesuai dengan nasib kita hari ini. Kalo paaaas ada, ya syukur. Kalo ngga ya lanjut cari di toko lain :)
Minyak goreng juga sudah terlihat banyak di pasar, walaupun hanya varian minyak kedelai atau biji bunga matahari, alias lebih mahal dari minyak sayur biasa.
Butter yang sudah dua bulan hilang, muncul lagi walaupun produk import dari Uruguay.
Beras, alhamdulillah, baru tadi dapat dua kantong dari tiga kantong terakhir yang teronggok di toko Cina. Sementara beras Jasmin sudah kosong walaupun harganya sudah berlipat ganda menjadi ribuan bolivar dalam waktu dua bulan.
Well, alhamdulillah, walaupun harus bikin special trip setiap kali mau belanja bahan pokok makanan, kami masih tetap bisa makan dengan enak dan insya Allah halal (thanks to caterer rekan Indonesia). Di sini grocery shopping jarang bisa dilakukan sekali jalan.
Pengen bikin martabak atau donat? Mmmm...nanti dulu ya.
Gimana kalau bikin muffin aja yang tepungnya cukup satu cup, gulanya hanya 150 g (angkanya kudu dicek lagi, nih, tapi pokoknya dikit deh) dan bisa pakai minyak/mashed banana instead of butter? Biar tambah manis campur dengan chocolate chips yang jadi produk andalan di sini dan relatif mudah didapat. Sip kaaan...
Sempat bikin Dutch Soft Cookies yang resepnya 300 g tepung, 150 g gula dan 200 g butter saja. Tapi pas mau bikin maju mundur kayak bajaj. Sampai akhirnya butter hasil hunting tahun lalu. harus direlakan. Ini gara-gara sekolah diliburkan tiga hari sehingga untuk cheer-up diri sendiri kami pun menikmati cookies full butter yang renyah dan wangi. Saking saking jarang bisa bikin cemilan, cookies itu hari ini tinggal sepotong.
Jadi yang manis-manis minggir dulu yaaa.
Kali ini giliran yang asin-asin aja deh.
Seperti Quiche jamur resep andalan Ite: cukup tepung, krim/susu telur dan keju.
Ealah... tapi keju halalnya kudu tunggu teman jalan ke Trinidad dolo .
Dan telur, kenapa harganya jadi mahal banget yaaaa
Krim? Hmmm, beberapa bulan terakhir krim pun terpaksa dibuat dari minyak.
Kebayang ngga kalau minum kopi pakai whipped cream versi minyak sayur?
Thursday, January 17, 2013
Tahun Ketiga
Tahun ketiga biasanya ditandai dengan kesulitan menemukan hari yang lowong untuk sekedar makan siang bersama kawan dekat akibat padatnya jadwal setiap minggu, dengan kegiatan sekolah, sosial, olah raga, dll, dll. Lingkaran pertemanan pun semakin luas dan semakin mudah menemukan wajah-wajah familiar di tempat-tempat umum seperti supermarket atau toko roti. Umumnya tahun ketiga adalah tahun di mana kita merasa homey tinggal di negara asing ini, walaupun untuk masalah yang satu ini, sorry to say, saya ngga merasakan itu selain di rumah sendiri.
Tahun ketiga biasanya juga ditandai dengan kepergian orang-orang yang dikenal ke negara berikutnya. Farewell parties, coffe morning, dan sejenisnya pun mulai mewarnai. Sedih, itu pasti, saat kawan yang taken for granted kita anggap selalu ada harus pergi ke tempat yang baru. Di saat yang sama tentu we'll be happy for them karena akhirnya mereka bisa 'bebas' dari 'penderitaan' tinggal di negara ini.
To put it in a more pleasant way, walaupun kita semua harus belajar menyesuaikan diri dan beradaptasi di manapun kita tinggal, will be a nice change if akhirnya kita bisa merasakan lagi kebebasan untuk berjalan kaki menghirup udara segar di negara yang bebas dan relatif lebih aman, tanpa harus khawatir diculik, dibunuh, atau minimal dirampok, misalnya. Hidup juga tentu akan terasa lebih mudah jika kita bisa menemukan barang kebutuhan sehari-hari di satu tempat, menyelesaikan grocery shopping dalam satu waktu singkat, tanpa harus pergi keluar masuk toko sepanjang hari hanya untuk mencari gula atau tepung, kan? Karena, setahu saya, walaupun ada orang yang bisa beli gula beserta pabriknya sekalipun, kalau barangnya tidak tersedia karena kontrol suplai barang, harga dan mata uang yang berlebihan, apa gunanya uang segunung...
Hampir pasti ada orang yang diuntungkan dengan kondisi semacam ini, you know, perbedaan nilai tukar resmi dan pasar gelap, stok barang terbatas, dsb, dsb. And they do make a lot of money, which suprises me. This is the place where demand of luxury goods is pretty high. Tapi sungguh menyedihkan kalau pasar yang terkontrol inipun tidak bisa memastikan ketersediaan barang, hanya karena harga dipaksa menuruti ketetapan pemerintah yang notabene tidak masuk akal untuk mencukupi biaya produksinya. Lalu apa gunanya dikontrol?
Anyway, tiga minggu libur akhir tahun yang lalu saya habiskan bertiga dengan anak-anak untuk tinggal di rumah. Literally stay at home, most of the time. Peristiwa perampokan di dalam rumah, 4x dalam 3 minggu berturut-turut, semuanya terjadi pada orang-orang yang saya kenal baik, betul-betul menyebabkan rasa tidak aman walaupun di dalam rumah sendiri. Sampai saat ini tidak diketahui kelanjutan dari keempat kisah kriminalitas itu, walaupun to be honest ndak ada juga yang berharap macam-macam - polisi mengusut kasus, menemukan pelaku apalagi sampai mengembalikan barang yang diambil. Semuanya 'hanya' berakhir dengan ucapan syukur karena semua korban selamat tanpa kurang suatu apapun, walaupun trauma yang terjadi tidak dapat dibayangkan berapa lama akan bertahan. Salah seorang dari mereka, yang notabene pria bertubuh tegap dan tinggi, bahkan tidak mau berkata satu patah katapun mengenai kejadian tersebut, seperti ingin menghapus ingatannya dari peristiwa naas itu.
Sejujurnya, saya ingin make the most of my stay here. Tapi mungkin untuk saat ini saya harus merumuskannya dengan stay safe and happy. Kalaupun ndak bisa berharap terlalu banyak untuk bisa mengunjungi tempat-tempat luar biasa di negeri yang indah ini, seperti air terjun tertinggi di dunia atau gugusan kepulauan berpasir putih di utara negeri ini, that's okay. Mungkin saya memang harus fokus untuk bisa berkunjung ke Baitullah dahulu, baru kemudian mengeksplorasi negeri sendiri hingga ke Raja Ampat, sebelum menginjak-injak bumi Allah lainnya ...
Thursday, December 6, 2012
Prisoner in a Beautiful Country
It's hard to believe that in the beautiful place like this we have to watch our steps every single time. This is the country where you can walk outside, breath the fresh air under the sunshine without the sun burn.
Freedom is a privilege
Even in a park packed with people, a young man was stabbed on the face by a drunk guy who asked for money, and nobody would help. That young man had even offered the stabber to take his car keys and take whatever he wants. Meanwhile, in a place that no one consider crime could happen freely, gang of robber can just knocked down the victim by gun and took his belonging right in front of security guard of a well-known hotel. Again, nobody could do anything at the time.
This is the country where people are spoiled with free education and health service, subsidized groceries, near-to-nothing fuel cost, and even free money. But then, they think they can do anything they want, take anything they want, even other man's life, in order to get something as meaningless as cellphone, car or money. What went wrong here...
Freedom is indeed a privilege
Many people have their own security guard, who look after them every time they go out. Security business is a big business as well. Still, God knows whether these security guards will be able to help in case of kidnapping or robbery where guns are involved.
So only to Allah SWT we can look for protection, as nobody can guarantee that.
Freedom is a privilege, indeed.
So which favor of your Lord will you deny? Ar-Rahman 55:13
Subscribe to:
Posts (Atom)







